Dr. A Syamil <Amerika Serikat>
------------------------------------------
Bagi yang awam, mendengar nama IPTN barangkali akan mengingatkan atas
suatu kegagalan petualangan teknologi tinggi.
Beberapa kritik memang telah dilontarkan pada saat langkah pengembangan
industri dirgantara ini dicanangkan, karena jauhnya industri ini dengan
kondisi industri agraris yang tentunya akan lebih menyentuh masyarakat luas.
Nasrullah Idris
---------------
Menilai IPTN hendaknya tidak bersifat "HITAM-PUTIH". Tetapi berdasarkan
"berapa banyak kegagalannya" dan "berapa banyak kesuksesannya".
Kalau suksesnya hanya dilihat dari target awal jelas tidak fair. Malah
bisa menutup mata untuk melihat peluang pemberdayaan selanjutnya melalui
realitas potensi padanya sekarang.
Dengan sikap kritis, aktif, dan kreatif akan mudahlah mencari beragam
celah untuk kemudian diimplementasikan untuk menghasilkan produk bernilai
tambah dan berurgensi tinggi.
Dr. A Syamil <Amerika Serikat>
--------
Perkembangan yang pesat dari industri ini selanjutnya lebih
mengutamakan perwujudkan mimpi besar untuk suatu lompatan besar yang bisa
menempatkan negara ini sejajar dengan negara maju tanpa melihat realita
pasar yang seharusnya dapat menunjang hidup industri itu sendiri.
Nasrullah Idris
---------------
Keinginan untuk menempatkan Indonesia sederajat/sepotensi dengan negara
maju harus dipandang sebagai model sugesti untuk berbagai bidang lainnya.
Dalam menghadapi era globalisasi kelak sugesti semacam itu harus tertanam
pada siapa saja di industri mana pun mereka bekerja.
Tetapi evaluasi terhadap kegagalan IPTN untuk itu harus tetap dilakukan
sampai muncul tindakan kongkrit dan solusi konstruktif.
Dr. A Syamil <Amerika Serikat>
--------
Namun demikian, yang perlu dilihat kini tentunya adalah bagaimana
pemanfaatan aset industri penerbangan IPTN ini untuk langkah ke depan.
Nasrullah Idris
---------------
Ini pertanyaan bernada harapan.
Yang paling awal harus dicamkan dalam menyikapi IPTN adalah melihatnya
dari sudut "creation dan employment" : "memberi lapangan kerja" sampai
"menghasilkan produk berguna". Hanya ini sulit terwujud bila disikapi dengan
pola pikir konvensional, normatif, atau klise.
Dr. A Syamil <Amerika Serikat>
--------
Euforia pertumbuhan ASIA ditahun 90-an.
Nasrullah Idris
---------------
Tentu itu tidak bisa dicontohkan melalui IPTN saja.
Dr. A Syamil <Amerika Serikat>
--------
Diawal tahun 90-an ini dimana banyak pihak di Asia merasa untuk harus
memiliki pesawat komuter berpenumpang 100-an karena merasa memiliki pasar,
uang dan infrastruktur-nya (Asian Express oleh Korea Selatan dan China, YSX
project oleh Jepang, dan N-2130 oleh IPTN) telah diperingati oleh pemain
pemain utama pembuat pesawat terbang sipil di dunia untuk tidak melanjutkan
rencananya. Adam Brown dari AIRBUS pernah menyampaikannya secara langsung
bahwa pasar pesawat 100 penumpang bukanlah milik Asia-Pasifik..
Nasrullah Idris
---------------
Wajar saja negara seperti itu berpendapat demikian. Khususnya dikaitkan
dengan bentuk geografisnya.
Masalah jumlah penumpang rasanya bukan esensial pokok dari pembangunan
industri pesawat. Berapa pun kapasitasnya tetap tergantung pada kualitas
kontruksi, masa trend, proses retak, sampai faktor ergonomis.
Hanya saya tidak tahu : sampai di mana IPTN mengantisipasi/mengkaji hal
tersebut?
Kita pun harus selektif dalam menanggapi berbagai statement dari tokoh
pesawat terbang level dunia seperti Adam Brown itu. Jangan mudah menerima
hanya karena kebesaran namanya. Ini dengan asumsi bahwa stetement seperti
itu adakalanya di samping bermuatan tehnis dan ekonomis, juga politis.
Dr. A Syamil <Amerika Serikat>
--------
Lain halnya dengan BOEING, mereka lebih "elegan" caranya yaitu dengan
berdiskusi terus menerus untuk menjalin kemitraan dengan membicarakan
penanaman modal, pengembangan, dsb yang berujung kepada penundaan semua
program dipihak Asia dan berlanjutnya program mereka sendiri yang telah maju
beberapa langkah di depan.
Nasrullah Idris
---------------
Itu sedikit-banyak bisa diantisipasi dengan terobosan akses informasi
di mana saya istilahkan dengan "Disain Operasional Informasi". Artinya,
bagaimana pola mencari informasi tentang berbagai sisi kedirgantaraan dari
berbagai pelosok bumi untuk dijadikan entri point. Sambil itu berjalan oleh
suatu divisi maka perlu dibentuk divisi lain untuk berbagai "disain faktor".
Dr. A Syamil <Amerika Serikat>
--------
Cerdik memang, dimana pihak Asia dengan "lugu" mengharapkan keuntungan
teknologi dari kerja sama yang dilakukan, sementara pihak BOEING selalu
berhasil menghentikan langkah awal penguasaan Asia terhadap pasaran pesawat
terbang.
Nasrullah Idris
---------------
Itu bukan 100 persen cerdik namanya. Soalnya masih diback up oleh
banyak hal di mana negara Asia tidak memilikinya.
Tetapi bagaimana pun permainan itu harus dijadikan renungan/pecutan
bahwa negara berkembang jangan mengharapkan negara maju untuk terus
memberikan dukungan dalam pembangunan kedirgantaraan sampai petanya
memperlihatkan keseimbangan.
Dr. A Syamil <Amerika Serikat>
--------
Pada hakekatnya penguasaan mereka terhadap pasar Asia akanlah berujung
pada penguasaan terhadap para operator di Asia (Airlines) sebagai sandera
ekonomi (commercial hostage) dunia barat.
Nasrullah Idris
----------------
Karena itu paradigma studi ke mancanegara harus dirubah <khususnya
bidang kedirgantaraan>. Artinya, ke sana bukan sekedar belajar dalam artian
menimba/melahap ilmu. Juga bagaimana melihat substansinya dari sudut lain
untuk kemudian diaplikasikan ketika kembali ke tanah air.
Pernah saya juga menulis di milis internet bahwa mahasiswa Indonesia di
mancanegara hendaknya jangan hanya mengandalkan jurnal/textbook. Soalnya
ketika substansinya sudah kita lahap maka dalam waktu bersamaan muncul
masalah sama tetapi mempunyai kualitas lebih baik dalam beberapa hal.
Dr. A Syamil <Amerika Serikat>
--------
Memang awal pemikiran pengembangan industri penerbangan di Indonesia
antara lain diniatkan untuk dijadikan lokomotif yang dapat menarik gerbong
industri lain disekitarnya. Namun yang terjadi bukanlah seperti yang
diharapkan. Gerbong industri lainnya ternyata tidak pernah tumbuh. Hal ini
mungkin disebabkan industri yang diharapkan timbul terlihat tidak akan
pernah mencapai skala ekonomi yang menguntungkan. Contohnya landing gear,
atau gerbong industri lainnya yang memiliki kaitan yang lebih dekat dengan
industri diluar penerbangan seperti Aircraft Interior. Meskipun IPTN telah
mengeluarkan lebih dari 2 juta dolar untuk pengembangan interior-nya N250
namun dalam kenyataannya tidak pernah memberikan hasil bagi IPTN.
Nasrullah Idris
---------------
Sekarang begini saja. IPTN kita perdayakan kembali saja dengan
kelebihan dan kekurangannya. Mana saja yang perlu : dihilangkan,
dimodifikasi, dan ditambah dalam rangka menuju perusahaan berisi kaum
profeisonal dan nuansa transparan. Istilah lainnya : saklek.
Masalah SDM dengan pola berpikir "tuntas-detail-integratif" perlu
menjadi prioritas. Karena di salah kunci untuk menghasilkan terobosan
melalui seleksi dari sekian alternatif dari hasil analisis engineering dan
kalkulasi engineering.
Berkaitan dengan sparepart/komponen, misalkan, ada dua komponen logam
"A". Yang satu buatan DN dan yang lain buatan LN.
Nilai artistik, harga, wujud, volume, dan fungsi sama. Tetapi daya
tahan berbeda. Yang DN tahan x tahun. Sedangkan yang LN 1,5 x tahun.
Ini tentu berkaitan dengan kemauan membuat formulasi dan teori
molekuler.
Seperti kita ketahui bahwa struktur molekul logam bisa menentukan daya
tahan.
Sedangkan menguasai masalah struktur molekuldiperlukan kondisi intelektual
secara tuntas, detail, dan integrasi terhadap permasalahannya. Karena ini
gilirannya akan membuat dia mempunyai beragam alternatif. Selanjutnya akan
mencari alternatif bernilai kompetitif di antara sekian alternatif itu.
Salam,
Nasrullah Idris
----------------------
P.O. Box 1380 - Bandung 40013
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu