Gez, saya cuman berandai bahwa anda punya opini seperti ini semasa kasus
Timtim merebak. Makanya lain kali lihat jauh ke depan implikasinya ya.
Jangan lagi setelah nasi menjadi bubur lalu menyesal.

Buat kita pahami, kita harus mulai berpikir bagaimana PNG, Aussie, dan
Malaysia mulai bermain mata di perbatasan-perbatasan. Contoh yang paling
nyata adalah usaha penyusupan di wilayah perbatasan di Kalimantan. Selain
pencurian kayu, Malaysia sibuk memidahkan patok-patok perbatasan. Kalau kita
mau lihat apa di balik hal ini, mestinya kita juga harus sadar bahwa setiap
usaha membuat masalah dengan Indonesia di perbatasan adalah tanda-tanda
negara bersangkutan untuk mencari konflik terbuka (alias ancaman militer).

TNI dan polisi saya lihat untungnya sudah rada tanggap. Mereka sudah
memasang pos-pos di perbatasan Kalimantan (dengan cover-up mencegah
pencurian kayu). Kalau menurut saya sih jelas lebih dari itu. Sekaya apa sih
Malaysia itu sehingga mau-maunya membuat jaringan jalan ke arah perbatasan?
Use your common sense lah. Iya enggak?

Makanya, menurut saya, jangan cepat-cepat bersimpati dengan Downer dan
negara-negara jiran yang kemarin bilang mendukung integrasi bangsa
Indonesia. Mendukung kok aliran senjata ke Maluku (ini kita harus mulai
bicara masalah RMS bung!) jalan terus. Apalagi bila kita melihat upaya
Malaysia yg lalu angin-angin menyelesaikan masalah pencuri kayu yg
tertangkap itu. Kan lucu, kemarin sibuk bilang Indonesia yg justru masuk ke
wilayah mereka begitu dijabanin untuk ngecek bersama lalu kabur tanpa
berita. Itulah negara tetangga. Hubungan boleh baik, tetapi kewaspadaan
tetap diperlukan. Kalau perlu sekali-sekali digertak biar tahu bahwa
Indonesia akan tanggap dengan masalah ini.

Satu hal yg perlu kita cermati, TNI sudah dibuat seperti kurap di mata
masyarakat. Mereka memang harus bayar apa yg sudah mereka perbuat selama 35
tahun, tetapi bila negara asing ingin ikut membuat TNI tak berkutik, kita
harus cepat tanggap untuk mencari tahu apa motivasinya. Apalagi
negara-negara tetangga. Kalau anjingnya dimatiin, kan gampang buat masuk
rumah kita atau mindah pagar kita. Kan gitu ya?

Makanya kita nggak perlu tepuk tangan kayak LSM-LSM kalau TNI dikuya-kuya
negara asing. Kita sendiri boleh nguya-nguya TNI, tapi buat negara asing apa
boleh ikut-ikutan? Kita ingin punya anjing yang besar dan kuat tapi kalau
disuruh masuk kandang anjingnya nurut. Bukan matiin anjing kita seperti yang
hendak dilakukan oleh tetangga kita dan juga AS beserta konconya.


Jeffrey Anjasmara

-------------------------------------
From: Mardhika Wisesa  <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri Jul 28, 2000 10:39pm
Subject: Moga-moga Howard Kaga Menang


"Howard Siap Mundur Setelah Pemilu 2001"
http://kompas.com/kompas-cetak/0007/29/LN/howa02.htm

Ini dia, WANTED ASLI DEAD OR ALIVE figuran paling dibenci di dunia politik
Indonesia, Australian Prime Minister, John Howard "Howa-hiwie ASSHOWLE"
Moga-moga kaga menang ente, gara-gara elo, gua paling benci sama Aussie,
Australian, you can thank him for my hatred toward your coward policy on
East
Timor. You never be accepted as part of our Asia-Pacific Rim

Mardhika Wisesa

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke