Bebenahnya lama amat. Apanya yang dibenahin? Lipetan baju? Mending mereka
dikirim ke perbatasan Sarawak saja lah. Biar tentara diraja malaysia pada
takut mindahin patok-patok perbatasan. Lagian lumayan bisa buat latihan
survival. Misalkan gimana makan orang yang suka mencuri kayu...heheheh....:)

Selain itu tingkah laku sok-sokan mereka ini mesti ditumpas habis. Masak
mengendarai mobil di Kartasura harus pelan-pelan. Kalau memang ada
tanda-tanda lalu lintasnya sih boleh-boleh saja. Dulu juga suka
sewenang-wenang menghukum sopir-sopir yang ditangkap dengan cara
memaju-mundurkan mobilnya sampai bensinnya habis. Kalau tangkinya lagi penuh
apa nggak seharian mobilnya mesti dimaju-mundurin?


Anjasmara

-----------------------------------------
BARET MERAH LAGI BERBENAH

Pasukan elite Angkatan Darat, yang dulu berjaya, kini terpuruk karena ulah
beberapa anggotanya. Karena kesejahteraan kurang?

BARET merah dengan gambar pisau komando kini langka terlihat di jalanan.
Pasukan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu lebih banyak berada di barak.
Tak seorang pun anggota Kopassus, yang jumlahnya sekitar 6.000 personel itu,
diturunkan dalam tugas meredakan konflik di daerah. Baik itu di Aceh, Poso,
Ambon, maupun Irian Jaya.

Tapi, itu bukan maunya Kopassus. "Kami hanya melaksanakan perintah dari
atasan," kata Mayor Herindra, perwira penerangan di Markas Besar Kopassus.
Paling banter, lanjut penyandang gelar master dari Manchester University,
Inggris, ini, bantuan yang diminta dari Kopassus sebatas analisis.

Sungguh kontras dengan keadaan empat tahun lalu. Saat Kopassus dipimpin
Prabowo Subianto, menantu Presiden Soeharto. Hampir tak ada operasi yang
tidak melibatkan korps baret merah. Tidak mengherankan bila prajurit
Kopassus umumnya punya track penugasan yang padat. Di bawah Prabowo,
Kopassus dimekarkan. Anggotanya ditambah dari 4.500 menjadi 6.000 orang.
Mereka tersebar di lima grup.

Grup I di Serang, Grup III di Batujajar. Keduanya di Jawa Barat. Markas Grup
II di Kartasura, Solo, Jawa Tengah. Lantas, Grup IV Sandhi Yudha dan Grup V
Antitero bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur. Saat itu, Kepala Staf
Angkatan Darat (KSAD) yang dijabat Jenderal R. Hartono menyebutkan, personel
Kopassus akan terus ditambah hingga 8.500 orang.

Namun, apa boleh buat, agenda ini urung. Saat upacara ulang tahun ke-48 di
Cijantung, awal April lalu, KSAD Jenderal Tyasno Sudarto mengumumkan bahwa
personel Kopassus dikurangi 700 orang. "Kemungkinan mereka dialihtugaskan ke
lembaga pendidikan dan latihan Angkatan Darat atau memperkuat pasukan
Kostrad," kata Tyasno.

Ketika angin reformasi bergulir, Kopassus sempat menjadi bulan-bulanan
kemarahan publik. Tim Mawar, dari korps elite itu, terbukti menculik
beberapa aktivis politik. Tudingan pelanggaran hak asasi manusia dalam
operasi di Aceh, Irian Jaya, atau Timor Timur di masa lalu menambah citra
buruk pasukan elite tersebut.

Beberapa kasus kriminal anggota korps ini juga membuat pamornya jadi babak
belur. Letnan Dua Agus Isrok, putra sulung mantan orang nomor satu di
Kopassus dan Angkatan Darat Jenderal Subagyo HS, divonis empat tahun penjara
oleh Majelis Hakim Mahkamah Militer II/08, akhir Juni lalu. Wakil Komandan
Unit Khusus Grup IV Kopassus berusia 24 tahun itu, 8 Agustus tahun lalu,
ditangkap petugas Kepolisian Resor Jakarta Barat sedang on di kamar 408,
Hotel Travel, di Tamansari, Jakarta Barat.

Di Sumatera Utara, Prajurit Satu Samson ditangkap petugas Kepolisian Sektor
Kota Medan Baru, awal Maret lalu, dengan tuduhan gembong pencuri mobil.
Pemuda berusia 26 tahun ini mengaku anggota Kopassus dari Grup II, yang
bermarkas di Kartasura. Ia berada di Medan karena bertugas di Aceh, sejak
akhir 1996, dengan status di-BKO-kan di bawah komando operasi Kodam I/Bukit
Barisan.

Samson mengaku terpaksa mencuri, karena gajinya tidak cukup. "Sejak Letnan
Jenderal Prabowo Subianto tidak menjabat Komandan Jenderal Kopassus,
kesejahteraan kami tidak diperhatikan," ujar Samson. Sebelumnya, polisi
Medan juga menangkap anggota Kopassus, Prajurit Satu Ramli, bersama mobil
curiannya.

Menurut pengamat politik Afan Gaffar, berbagai pelanggaran itu hanya
dilakukan oleh oknum, bukan institusi. Afan melihat citra Kopassus seperti
sekarang ini hanya bagian dari siklus politik yang sedang berputar.
"Kesalahan Kopassus, karena terlalu dekat dengan Soeharto di tahun 1990-an,"
katanya. Kalau ada perubahan politik lagi, menurut Afan, bisa saja Kopassus
kembali populer. Namun, lanjut guru besar ilmu politik dari Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, ini, Kopassus harus berbenah dan melakukan
introspeksi.

Menurut Herindra, itulah yang kini dilakukan Kopassus. "Kami sedang
menggembleng diri," kata Herindra. Khususnya di bidang pendidikan. Misalnya,
kurikulum Kopassus kini ditambah materi hak asasi manusia. Hal lain adalah
soal pembinaan spiritual. "Prajurit baret merah didorong untuk menerapkan
ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh," kata Herindra.

DH, Dipo Handoko, dan Koesworo Setiawan

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke