Tulisan ini saya sumbangkan dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI
yang ke 55. Kalau ada rekan rekan Permias yang berniat untuk meneruskannya
kedalam milis Permias masing masing, tentunya itu adalah hak rekan rekan.
Segala yang baik dan bermanfaat dalam tulisan ini datangnya dari Allah,
sedangkan yang jelek dan tidak bermanfaat datangnya dari saya sendiri.
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 55!


Satu sisi Tujuhbelasan di perantauan
Arya Indrathama.

Besok tanggal 17 Agustus semestinya merupakan hari besar bagi seluruh orang
Indonesia, atau paling tidak bagi orang yang merasa dirinya berasal dari
Indonesia. Aku ingat kalau diriku dibesarkan dalam sebuah kultur dimana pada
tanggal 17 Agustus itu harus dirayakan dengan upacara disekolah pada pagi
harinya dan siangnya dirayakan dengan perlombaan tradisional rakyat seperti
panjat pinang, lomba makan kerupuk, balap karung dan berbagai perlombaan
lainnya. Tidak lupa pada jaman dulu, entah sekarang, selalu diadakan
sandiwara Tujuhbelasan yang temanya selalu sama; perang melawan Belanda.
Untuk anak laki laki yang berkulit lebih putih pasti selalu mendapat peran
menjadi Belanda. Sedangkan yang berkulit sawo matang dan hitam pasti menjadi
extrimis extrimis yang selalu siap melawan penjajah. Untuk gadis gadisnya
tersedia dua peran, yang satu menjadi perawat yang selalu membantu si pejuang
yang terluka, yang lalu dalam sandiwara itu biasanya menjadi kekasih sang
pejuang. Sementara gadis yang paling cantik biasanya mendapatkan peran
sebagai mata mata Belanda, yang akhirnya dalam sandiwara itu selalu
tertangkap bersama si Belanda. Itulah kultur dimana aku dibesarkan. Begitu
naifnya aku dulu merasakan bahwa semua orang pasti menikmati suasana yang
sama pada hari itu. Padahal setelah bertahun tahun tinggal di beberapa
negara, aku menemukan begitu banyak orang Indonesia yang sama sekali tidak
perduli dengan apa yang namanya Tujuhbelas Agustusan.

Silahkan sebut aku sok patriotisme, tapi aku merasa bahwa merayakan
Tujuhbelasan adalah sesuatu yang lumrah dinikmati bagi orang Indonesia
dimanapun mereka berada. Benci pada Soeharto atau benci kepada ABRI bukan
alasan untuk melupakan apa yang pernah kita rasakan di Indonesia. Kalaupun
seseorang yang berasal dari Indonesia sudah anti dengan negaranya sendiri,
silahkan buat paspor baru. Buat paspor Amerika, Australia atau paspor Timor
Timur sekalian. Tapi jangan berliur kalau melihat nasi goreng istimewa yang
nikmat atau jangan bergoyang kalau mendengar dangdut. Aku benci karena mereka
itu hanya "take it for granted" tentang Indonesia. Segalanya yang jelek
tentang Indonesia diumbar dan sudah tidak sudi lagi untuk mengingat hari hari
besar Indonesia. Padahal warna kulit serta logat bicara mereka tidak akan
bisa dirubah walaupun bicara dalam bahasa Inggris twenty-four-seven (Twenty
four hours seven days a week that is).

Aku ingat tentang seorang saudara Muslim yang memang agak extrime. Ketika
diberitahu bahwa akan ada upacara bendera dan open house pada siang harinya,
dia berlagak kaget. "Hah, tanggal tujuhbelasan yah Ya? Memangnya ada apa?"
jawabnya kalem. Aku pun terus terang kaget mendengarnya. Dia adalah seseorang
yang dibiayai oleh Pemerintah untuk bersekolah dan bisa lupa dengan
Tujuhbelas Agustus? Apa karena dia seorang Muslim yang kelihatan taat, lalu
bisa mempunyai alasan untuk lupa dengan hal tersebut, hanya karena
Tujuhbelasan bukan hari besar Islam?. Pernah aku bertemu dengan seorang teman
Cina yang kalau diajak upacara, dia bilang," Ya, kita orang ngga ikutan lah
yang begituan, nanti kalau ada partynya aja kita dateng!". Belum lagi ada
cerita tentang anak anak geng Batak yang menolak untuk berkumpul dengan orang
Indonesia yang lain dalam acara Tujuhbelasan. Tidak perduli suku mana saja,
agama mana saja, ras mana saja, kadang orang orang yang berkelakuan seperti
itu membikin aku bingung dan terus terang sebel.

Bingung karena ngga tau apa maunya dan sebel, karena mereka ngga konsisten.
Kalau mereka sudah begitu tidak perdulinya dengan hari Kemerdekaan Indonesia,
kenapa masih berbicara bahasa Indonesia, makan dengan sambel selera dan
ngerokok Djie Sam Soe? Kalau sudah tidak perduli seperti itu lantas maunya
apa?
Lidah dan warna kulit itu tidak bisa merubah mereka menjadi orang bule, atau
orang apapun yang mereka kagumi walau sekeras apapun mereka mencoba. Lagipula
tanpa ada hari Kemerdekaan itu, mereka juga belum tentu bisa pergi kemanapun
dengan rasa merdeka. Kalau kemerdekaan itu tidak pernah ada, orang orang itu
akan berbahasa Belanda dan punya mental budak 100 persen!. Jadi apakah mereka
sama sekali lupa dan tidak bersyukur bahwa dengan kemerdekaan yang diraih 55
tahun yang lalu telah membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik?

Aku lantas ingin melupakan segelintir orang yang tidak punya rasa syukur dan
terimakasih itu. Dan aku teringat dengan jutaan orang yang menikmati hari itu.
Pikiranku menerawang kembali ketika aku masih bersekolah di Singapura dulu.
Aku ingat, dengan izin terlebih dahulu, anak anak Indonesia cabut dari
sekolah pagi harinya dan pergi ke KBRI hanya untuk ikut upacara. Guru guru
pun tidak bisa melarang. Bagaimana mungkin sebuah sekolah Internasional
melarang murid muridnya pergi ke Kedutaan mereka untuk merayakan hari
kemerdekaan negara mereka? Tanpa izin dari setiap murid, Sang kepala sekolah
pun tahu bahwa pada hari itu 99 persen dari anak Indonesia di ISS
(International School of Singapore) akan bolos. Jadi mereka tidak terlalu
mempermasalahkan tentang hal itu karena tidak akan ada gunanya.

Dan waktu kami sampai di pintu gerbang Kedutaan, prajurit ABRI dengan seragam
dinas lengkapnya melarang kami masuk. "Upacara sudah dimulai, anda tidak bisa
masuk!" jawabnya tegas. Tapi bukan orang Indonesia kalau lantas patah
semangat oleh ucapan sang prajurit. "Kita masuk lewat jalan samping!", kata
seseorang. Lantas kami beserta beberapa bapak dan ibu berpakaian batik dan
kebaya yang kebetulan juga terlambat datang berlari mengikuti orang tersebut.
Kami tiba tepat ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan bendera merah
putih dikibarkan. Sungguh lucu karena ketika datang ke sebuah upacara yang
bukan merupakan kewajiban lagi, seperti halnya masa masa bersekolah di
Indonesia dahulu, ada sesuatu yang aku rasa kurang kalau tidak menghadirinya

Suasana terasa khitmad ketika upacara dilaksanakan dan berakhir dengan
suasana  yang santai dan hangat. Kue kue dan makanan makanan tradisional
buatan ibu ibu Dharma Wanita tergelar untuk para tamu. Belum lagi teh dan
kopinya yang pasti buatan Indonesia. Bahkan sampai air minumnya yang jelas
jelas bertuliskan PT. Golden Mississippi di botolnya. "Ini kita pesen
langsung dari Jakarta Mas", jawab seorang staff ketika aku menanyakan
darimana mereka bisa mendapatkan bergalon galon botol Aqua untuk acara
Tujuhbelasan.

Aku tahu kalau staff staff KBRI itu banyak yang kelelahan. Banyak dari
mereka, termasuk ibu ibunya yang begadang untuk mempersiapkan makanan untuk
pada tamu keesokan harinya. Tapi mereka tampil dengan pakaian dinasnya yang
terbaik pagi itu. Rasa ngantuk dan lelah akibat kerja mempersiapkan acara
hilang diganti canda tawa mereka dengan warga Indonesia yang hadir. Segala
macam gosip dan lelucon, baik yang berbahasa Indonesia atau berbahasa daerah
meramaikan kumpulan orang Indonesia yang menikmati suasana tersebut. Lantas
satu jam kemudian banyak masyarakat Indonesia yang pulang kerumah, hanya
untuk kembali ke KBRI siangnya untuk menikmati hiburan dari band band pelajar
Indonesia dan bermacam macam hiburan lainnya. Malah kali ini lebih banyak
yang hadir, termasuk para buruh buruh dan pembantu rumah tangga yang mencari
nafkah di Singapura. Banyak berbagai hal yang lucu terjadi kalau orang
Indonesia sudah berkumpul. Sorenya di Far East Plaza, aku mendengar cerita
tentang Ferros, penyanyi band PPI
yang diminta oleh mbak mbak pembantu untuk berpose bersama. Kontan, Ferros
menjadi bahan celaan anak anak pada hari itu.

Suasana perayaan Tujuhbelasan era sebelum krisis moneter selalu meriah. Tidak
hanya di perwakilan perwakilan Republik Indonesia di seluruh dunia, tapi juga
ditanah air sendiri. Semua orang, kaya atau miskin menikmati hari tersebut.
Diperantauan, acara Tujuhbelasan merupakan kesempatan bagi masyarakat
Indonesia untuk berkumpul, seperti apa yang aku ceritakan tentang KBRI
Singapura di atas. Di Indonesia sendiri, acara Tujuhbelasan merupakan
kesempatan untuk bertemu dengan tetangga dan bersosialisasi dengan warga
sekitarnya. Jadi bagiku sangat aneh kalau ada orang yang bisa melupakan
Tujuhbelas Agustusan hanya karena dia tinggal di Amerika, atau di Australia
atau dibelahan dunia yang lain. Merekalah orang orang yang kalau berada di
Indonesia akan tenggelam ditelan keriahan massa dan baru merasa bebas untuk
menolak kemeriahan itu, apapun alasannya, setelah berada di luar negeri.

Namun, seperti bumi yang bundar, kehidupan pun selalu berputar. Krisis
moneter sejak pertengahan 1997 merubah segalanya. Ketika aku berada di
Jakarta pada tanggal tujuhbelas Agustus tahun 1998, suasana yang dahulu
meriah berubah menjadi sepi. Tidak semua RT di Jakarta mampu melakukan lomba
panjat pinang hanya karena kekurangan dana. Tidak ada lagi sandiwara perang
antara extrimis extrimis dengan Belanda, karena anak mudanya banyak yang
tewas oleh kerusuhan, penyalahgunaan narkoba atau terkena demam berdarah.
Sisanya banyak yang hanya bisa tinggal dirumah karena sakaw (sakit putaw). Di
beberapa daerah, bendera merah putih tidak dikibarkan sama sekali. Sungguh
suatu hal yang menyedihkan dan tidak ada yang bisa diperbuat selain menjalani
kehidupan seperti biasa.

Maka dari itu, andai ada kesempatan untuk berkumpul bersama apakah itu
upacara, ataupun hanya sekedar kumpul kumpul, bagiku merupakan suatu
kesempatan untuk menikmatinya. Tinggal selama beberapa tahun di Colorado yang
tidak mempunyai kantor perwakilan RI, membuatku merasa kangen dengan apa yang
telah aku rasakan di Singapura. Dulu aku pernah sekali begadang di KBRI dan
ngobrol ngalur ngidul dengan prajurit ABRI dan orang orang suruhan dari Deplu
yang menjaga KBRI.
Ditemani kopi tubruk dan pisang goreng sambil main gaple, mereka bercerita
tentang keluarganya di Jawa, teman dan saudaranya yang telah tewas di Timor
Timur tanpa pernah ditemukan jasadnya, dan berbagai hal mengenai kehidupan
yang aku tidak akan dapatkan andaikata malam itu aku memilih untuk pergi
clubbing dan minum bersama anak anak yang lain. Mereka, adalah sebagian kecil
dari
orang orang pegawai dan prajurit rendahan yang malam ini diseluruh perwakilan
RI di dunia sibuk mempersiapkan acara tujuhbelasan besok paginya. Untuk
Slamet, Yoyok, Udin dan Mas Hendra dimanapun berada, tulisan ini untuk
sampeyan semuanya.



Arya Indrathama
2:40 AM Mountain Time
17 Agustus 2000
di Denver, Colorado

Kirim email ke