SAMBUTAN DUTA BESAR REPUBLIK INDONESIA
PADA UPACARA PERINGATAN HUT KE-55 PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK
INDONESIA
WASHINGTON, DC, 17 AGUSTUS 2000
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air yang berada di Amerika
Serikat,
Assalamu�alaikum Wr. Wb,
Salam Sejahtera bagi kita semua,
Mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas rahmat dan karuniaNya, pada hari ini Bangsa Indonesia dapat
memperingati ulang tahun ke-55 Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia, yang merupakan tonggak paling bersejarah dalam perjalanan
sejarah Bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang kita nikmati dewasa ini
adalah hasil perjuangan yang telah meminta pengorbanan jiwa, harta-benda
dan raga para pahlawan kita. Oleh karena itu, pada hari yang berbahagia
ini, marilah kita sampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya dan
penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada para pejuang dan pendiri
Republik yang kita cintai ini, dan menundukkan kepala sejenak mengenang
jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita.
Sayangnya, pada hari yang berbahagia ini masih banyak Saudara-saudara
kita di Maluku, Aceh, Poso, Irian Jaya, Pulau Timor dan tempat-tempat
lainnya yang menderita dan hidup ditengah-tengah suasana yang mencekam,
sehingga mereka tidak sempat merayakan hari kemenangan ini bersama-sama
dengan kita. Sungguh suatu hal yang memilukan hati menghadapi kenyataan
bahwa setelah 55 tahun merdeka, pemerintah negara Indonesia belum dapat
melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
seperti yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa dalam alinea keempat
pembukaan Undang-undang Dasar 1945.
Namun demikian, berbagai permasalahan yang tengah mengoyak daerah-daerah
itu, hendaknya tidak kita tafsirkan sebagai suatu proses disintegrasi
bangsa menuju kehancuran. Penafsiran yang tidak tepat itu akan
menjadikan kita mudah berputus-asa dalam menyikapi kehidupan berbangsa
dan bernegara, yang saat ini sedang dalam masa transisi dan perubahan
yang luar biasa. Berbagai tragedi kemanusiaan yang mengenaskan itu
adalah tahap yang mau tidak-mau harus dilalui oleh Bangsa Indonesia,
yang telah sepakat memilih sistem demokrasi sebagai jalan kehidupan
politiknya saat ini.
Proses demokratisasi politik, atau yang lebih kita kenal dengan istilah
Reformasi itu, telah kita jalani sejak dua tahun yang lalu. Pergerakan
menuntut reformasi yang dipelopori oleh para mahasiswa dan pemuda
Indonesia itu, telah dikukuhkan dengan Pemilihan umum multi-partai dan
Sidang Umum MPR tahun lalu, yang menetapkan Presiden Abdurrahman Wahid
dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin bangsa
Indonesia periode 1999-2004.
Langkah-langkah strategik dalam agenda politik nasional itu sedang kita
lanjutkan saat ini, yaitu dengan Sidang Tahunan MPR, yang merupakan
sidang yang pertama kali diselenggarakan dalam sistem ketatanegaraan
kita. Sidang itu antara lain akan menghasilkan amandemen terhadap
pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945, yang juga merupakan suatu hal yang
pertama kali dilakukan sejak kitab itu diterima sebagai landasan
konstitusional Bangsa Indonesia.
Saudara-saudara sekalian,
Sungguh sulit bagi kita menerima pemahaman bahwa Reformasi yang kita
cita-citakan bersama itu, justru membawa kesengsaraan dan kebingungan
bagi sebagian anggota masyarakat Indonesia. Dalam kaitan itu,
Saudara-saudara yang tinggal di Amerika Serikat tentu dapat mengerti
persoalan itu dengan lebih jelas, yaitu dengan mempelajari perjalanan
sejarah negara demokrasi tertua di dunia ini. Delapan puluh tahun
setelah Amerika Serikat merdeka, bangsa ini mengalami perang saudara
yang sangat kejam untuk merebut hak-hak azazi kelompok masyarakat
African Americans. Dan baru setelah lebih dari 150 tahun kemerdekaannya,
Amerika Serikat mampu memberikan persamaan hak-hak politik kepada
kelompok masyarakat itu.
Studi perbandingan sejarah demokrasi Indonesia dan Amerika Serikat itu
hendaknya tidak menjadi alasan bagi kita membiarkan kesengsaraan dan
penderitaan yang dialami sebagian Saudara-saudara kita. Sebaliknya,
Bangsa Indonesia dapat belajar dari pengalaman Bangsa Amerika, sehingga
kita tidak perlu mengulangi kesalahan yang telah mereka lakukan, dan
proses menuju demokrasi yang kita sepakati bersama itu dapat dipercepat.
Perbandingan itu juga bukan merupakan alasan bagi kita untuk dapat
menjiplak sistem demokrasi Amerika Serikat untuk diterapkan di
Indonesia. Kebudayaan, perjalanan sejarah dan latar belakang masyarakat
Indonesia yang berbeda dengan Amerika Serikat, menuntut kita berpikir
dan bekerja keras dalam merumuskan sistem demokrasi yang sesuai bagi
kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia.
Tidak ada seorang negarawan atau pakar politik yang pernah menjanjikan
bahwa tahap awal proses demokrasi suatu negara akan berjalan dengan
mudah, rapi atau tertib, terlebih lagi bagi negara yang belum memiliki
tradisi demokrasi seperti Indonesia. Namun sejarah membuktikan, dan saya
yakini, bahwa dalam jangka panjang negara yang menganut sistem demokrasi
adalah yang paling mampu memberikan jaminan kesejahteraan dan keadilan
bagi warganegaranya.
Oleh karena itu, tekad dan komitmen bersama untuk memilih jalan
Reformasi yang dipicu oleh gugurnya para Pahlawan Reformasi dua tahun
yang lalu itu, tidak boleh luntur oleh berbagai cobaan yang kita hadapi
saat ini. Kita harus ingat, Bangsa Indonesia tidak dibentuk berdasarkan
persamaan suku, etnis, agama atau golongan. Indonesia adalah bangsa
majemuk yang kaya dengan perbedaan. Namun kemajemukan dan kebhinekaan
itu senantiasa diikat oleh suatu tujuan bersama.
Lima puluh lima tahun yang lalu, tujuan bersama itu adalah merebut
kemerdekaan dari tangan penjajah, dan di bawah kepemimpinan Bung Karno
dan Bung Hatta, Bangsa Indonesia berhasil mewujudkannya. Kini, tujuan
bersama itu adalah melaksanakan reformasi di segala bidang. Tujuan
bersama itulah yang mampu menjadikan kita bersatu-padu, dan hanya dengan
persatuan dan kesatuan itu maka pengorbanan jiwa para pahlawan reformasi
dan ribuan lainnya di berbagai wilayah Ibu Pertiwi, menjadi tidak
sia-sia.
Saudara-saudara sekalian,
Tanpa melupakan masalah berat yang menyelimuti berbagai aspek kehidupan
Bangsa Indonesia itu, kita perlu mensyukuri hasil-hasil yang telah
dicapai dalam periode 12 bulan terakhir ini. Perekonomian Indonesia yang
masih terpuruk akibat krisis moneter Asia pada awal tahun lalu, mulai
menunjukkan perbaikan pada tahun ini. Pertumbuhan ekonomi untuk triwulan
pertama dan kedua tahun 2000 cukup baik, masing-masing 3,2% dan 4,1%.
Ekspor juga mengalami kenaikan yang cukup menggembirakan, yaitu 17,8%
dan 24,1% untuk masing-masing periode. Sekalipun besaran yang
ditunjukkan oleh beberapa indikator itu masih jauh dari harapan kita,
namun hal itu hendaknya secara bertahap mampu menumbuhkan kembali rasa
percaya diri kita menatap masa depan.
Perbaikan bertahap juga telah terjadi dalam kehidupan politik Bangsa
Indonesia. Insya Allah, Sidang Tahunan MPR yang sedang berlangsung di
Jakarta saat ini dapat diselesaikan tanpa disertai setetes darah yang
tumpah akibat pertikaian fisik yang terjadi di luar sidang. Fakta itu
akan menunjukkan bahwa disatu pihak masyarakat Indonesia sudah mulai
mempercayai mekanisme sistem demokrasi, yaitu dengan menyalurkan
aspirasi mereka melalui wakil-wakil rakyat yang bersidang. Di lain
pihak, situasi aman itu juga menunjukkan aparat keamanan semakin
berpengalaman dan profesional dalam mengendalikan situasi tanpa
menggunakan kekerasan.
Saudara-saudara sekalian,
Dalam kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan pesan khusus kepada
Saudara-saudara yang bekerja di kantor-kantor Perwakilan Republik
Indonesia di Amerika Serikat. Di era reformasi ini, Perwakilan Republik
Indonesia di luar negeri dituntut untuk menjadikan dirinya sebagai
aparat Pemerintah sekaligus wakil bangsa dan negara yang profesional dan
bersih. Perwakilan RI diharapkan dapat menjalankan fungsinya secara
maksimal dalam hubungan bilateral dengan negara akreditasi, maupun dalam
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, utamanya kepada para mahasiswa
yang sedang berjuang menimba ilmu, dan para pekerja Indonesia yang
merantau ke tanah asing untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik.
Mereka adalah tumpuan harapan dari orangtua, keluarga, sanak-saudara dan
masyarakat Indonesia secara luas. Oleh sebab itu, setiap Perwakilan
Republik Indonesia di luar negeri harus dapat membantu dan melindungi
mereka dalam pergumulan hidup mereka sehari-hari di negeri rantau ini.
Saudara-saudara sekalian,
Perkenankan saya mengutip pidato kenegaraan Presiden Abdurrahman Wahid
di depan Sidang Pleno DPR kemarin, yang dibacakan oleh Wakil Presiden
Megawati Soekarnoputri, sebagai berikut: ��Saya telah merancang
kebijakan restrukturisasi pemerintahan untuk lebih mempertajam kebijakan
fokus dan prioritas kebijakan nasional di berbagai bidang. Di samping
untuk mewujudkan implementasi otonomi daerah yang akan sepenuhnya
efektif pada bulan Januari 2001, restrukturisasi ini juga merupakan
langkah yang saya pandang tepat untuk lebih memudahkan pengambilan
keputusan dan penetapan kebijakan. Beberapa sektor pemerintahan yang di
masa lalu terpisah, walaupun fungsi dan wewenangnya berhimpitan, akan
ditempatkan di bawah atap yang sama. Restrukturisasi ini juga
diharapkan mengakhiri praktik duplikasi kebijakan yang selama ini sulit
dihindari akibat adanya dua atau lebih departemen dan instansi yang
menggarap bidang yang sama. Inti dari retrukturisasi itu adalah
efisiensi administrasi, profesionalisme dalam perumusan berbagai
kebijakan dan efektivitas tindakan operasional dalam mengatasi berbagai
masalah.
Pemerintah pada dasarnya menyadari bahwa dengan implementasi otonomi
daerah, bukan saja kewenangan pemerintah nasional mengalami pengurangan,
tetapi juga alokasi dana yang sebelumnya. Kenyataan ini mengharuskan
dilakukannya perampingan organisasi dan birokrasi, serta penyesuaian
alokasi anggaran dan prioritas penggunaannya. Proses restrukturisasi
dan perampingan ini akan dilakukan secermat mungkin guna mencegah
kemungkinan timbulnya masalah baru yang tidak perlu. Realisasi dari
rencana di atas mempersyaratkan menteri dan pejabat yang berkualitas
tinggi dan pembagian tugas kepemimpinan pemerintahan yang lebih
proposional dan efektif. Insya Allah dalam waktu dekat, pemerintah
hasil restrukturisasi itu akan hadir bersama saudara-saudara.
Walaupun tekad membangun pemerintahan yang baik melandasi kehadiran
kabinet baru tersebut, saya percaya bahwa kiprah dan kualitas pengabdian
mereka juga sangat tergantung dari kuatnya dukungan wakil-wakil rakyat
di DPR sebagai mitra kerja pemerintah, serta meluasnya penerimaan
masyarakat terhadap setiap langkah yang akan diambil oleh pemerintah.
Pemerintah yang baru itu akan saya bebani tanggungjawab untuk
menyelesaikan masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial yang secara
garis besar telah saya kemukakan tadi. Dari setiap pribadi menteri,
pemerintah membutuhkan semacam komitmen moral untuk memberi pengabdian
terbaiknya demi menyelamatkan kehidupan bangsa di berbagai bidang dan
memberi makna pada kemerdekaan yang kita capai dengan susah payah serta
pengorbanan yang besar ini.� Demikian kutipan pidato kenegaraan Bapak
Presiden.
Akhir kata, sekali lagi saya mengajak kita semua berdoa memohon kekuatan
dari Tuhan Yang Maha Esa, agar Bangsa Indonesia memperoleh perlindungan
dalam menghadapi masa-masa sulit dan penuh tantangan ini.
Sebagai penutup, saya mengajak Saudara-saudara memekikkan satu kata yang
mampu mengobarkan semangat para pahlawan kita, dan saya yakini dapat
membangkitkan semangat juang kita mencapai Indonesia Baru yang lebih
baik: Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Wassalamu�alaikum Wr. Wb.
Washington, D.C., 17 Agustus 2000
Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti