Lagi-lagi pemerintah dengan motornya yaitu Gus Dur bertindak tanpa perencanaan sama sekali. Setelah dulu menutup berbagai departemen tanpa perencanaan sama sekali, sekarang hendak menutup pabrik gula juga hanya berdasarkan wangsit. Model-model keputusan dadakan begini seharusnya sudah harus disudahi oleh Gus Dur. Tidak ada wangsit-wangsitan lagi. Sudah nggak model. Itu hanya laku dijual di kalangan macam tebu ireng atau wilayah pesantren yg lain yang masih percaya dengan langitan segala macam. Semua mesti pakai perencanaan. Masak mau menutup pabrik lalu penggantinya belum ada. Apa nggak lucu? Coba saja dengan akal sehat saja, boro-boro menyiapkan lahannya, yaitu sawah-sawah untuk tebunya, tempat untuk calon pabriknya saja belum ketahuan bakal ditempatkan di mana. Saya curiga Gus Dur dengan kroninya bakal punya rencana culas. Ini persis gaya Tommy 'kunyuk' Suharto dengan strategi culasnya yaitu tata niaga cengkeh dan jeruk. Langkah Gus Dur juga perlu dicurigai apakah ada bisikan dari para importir gula agar menutup pabrik-pabrik gula yang ada. Kalau pabrik gulanya pada ditutupi kan otomatis Indonesia harus impor kan? Nah, perlu dilihat siapa yang bakal jadi calon importirnya. Sudahlah Gus.... akal-akalan model Buloggate sudah nggak laku. Suharto saja yg setelah 10 tahun bekerja bener-bener akhirnya sakit jatuhnya. Ente baru berapa bulan sudah mau macam-macam. Itu si Syahril dikemanain tuh! Mana ada aturan pemeriksanaan sampai berbulan-bulan. Si Gus Dur beserta si Marjuki yg katanya tokoh HAM ternyata memenjarakan orang tanpa proses pengadilan tuh. Coba yang ahli hukum bilang ke saya apa bener nih kelakuan si Gus Dur dan Marjuki? Ini perlu jadi catatan penting agar nanti si jagal Marjuki suatu saat perlu diganjar dengan hukuman setimpal. Ternyata ujung-ujungnya Syahril cuman jadi tahanan politik yang tidak mengenal azas keadilan. Ternyata Gus Dur masih sama saja dengan diktator-diktator lainnya. Anjasmara '---------------------------------- Sabtu, 19 Agustus 2000, 13:20 WIB Pemerintah Harus Tentukan Lokasi Pabrik Gula di Luar Jawa Semarang, Sabtu Pemerintah harus menentukan lokasi pabrik gula (PG) pengganti di Luar Jawa, menyusul rencana penutupan empat PG di Jawa yang dianggap tidak efisien. "Pemerintah segera menunjuk daerah yang cocok untuk tanaman tebu," kata Ketua Umum Badan Koordinasi Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (BKAPTRI), Abdul Wachid, di Semarang, Sabtu (19/8). Sebanyak empat PG yang bulan depan bakal ditutup pemerintah antara lain satu berlokasi di Jawa Tengah dan tiga di Jawa Timur. Menurutnya, berdasarkan sejarah, Belanda lebih suka memilih lokasi di Jawa, karena tanah dan pengairannya sangat cocok bagi pendirian PG. Dirinya mengemukakan, untuk relokasi PG baru di Luar Jawa dibutuhkan investasi yang cukup besar, yakni sekitar Rp 1,8 trilyun per unit. "Kenapa dana sebanyak itu tidak digunakan saja untuk membenahi PG di Jawa, misalnya untuk meningkatkan produksi, sehingga tidak ada penutupan pabrik," tandasnya. Wachid menolak penilaian rendahnya produksi tebu petani menghambat pasokan bahan baku ke PG, karena sebenarnya saat ini siap meningkatkan produktivitas dengan menerapkan teknologi tepat guna. "Tidak adanya sarana kredit untuk petani tebu menghambat keinginan mereka meningkatkan produksinya," ungkap Ketua Paguyuban Petani Tebu Jateng/DI Yogyakarta itu. Saat ini kredit yang dibutuhkan petani tebu sebenarnya mencapai Rp 1,2 trilyun, namun pemerintah hanya menyediakan dana Rp 350 milyar. "Pihak perbankan sendiri hingga kini tidak bersedia menyalurkan kredit bagi para petani tebu," paparnya. (Ant/ima) ________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
