catatan: tulisan ini kupersembahkan kepada rekan2 sekalian, khususnya
kepada Bella, 3 tahun, anak gadis dari sahabat saya di sini,
satu2 nya anak kecil indonesia yang pernah saya ajak melihat
bayi2 penyu di tepi pantai selatan florida.
"Bella, ask your mom to translate this email for you, except
the first paragraph"..;)
Salam PERMIAS,
Tak ada lagi pemandangan gelandangan tidur berselimut pasir atawa sepasang
anak manusia dahaga melepas nafsu birahi menjelang matahari terbit di ufuk
timur atawa wanita muda berjemur-ria dengan telanjang dada menikmati panas
pagi hari di tepi pantai selatan florida (Tino: yah..nggak seru ah).
Yang tertinggal kini, hanyalah sekumpulan anak2 kecil, laki dan perempuan,
ditemani oleh orang tua mereka masing2, mengerubungi saya dan rekan kerja
lainnya yang bersiap melepas bayi2 penyu laut menuju "home sweet home".
Demikianlah pemandangan setiap sore hari di pantai privat -pantai khusus
untuk penghuni rumah2 peristirahatan di musim dingin dan juga tamu2 salah
satu resort- tempat penetasan bayi2 penyu laut.
"Can I touch them?", demikian tanya seorang gadis kecil kepada saya dengan
tatapan matanya yang indah seakan merayu saya, "please..please.." dan saya
-dengan hati yang berat- terpaksa menolak permintaannya, dan tanpa diminta
saya pun memberi penjelasan singkat mengapa dia tidak boleh memegang bayi2
penyu laut itu, dan syukur alhamdulillah, si gadis kecil itu mengerti, dan
bahkan, dengan antusias selalu mengikuti saya berjalan sejajar, yang sibuk
mengumpulkan bayi2 penyu dari setiap sarang (Budi: wah..si dharma ternyata
nge-abuse anak kecil ya di south florida).
Gadis kecil itu, dan puluhan anak kecil lainnya, dengan tatapan yang penuh
rasa kagum, menyaksikan dan mendengarkan dengan seksama, proses kelahiran
satu generasi baru dari makhluk hidup yang terancam punah ini. Dan, tanpa
mereka sadari, mereka belajar langsung agar mencintai setiap makhluk hidup
ciptaanNya, dan semoga kelak, mereka akan berdiri di baris terdepan dalam
setiap program konservasi.
Ketika saya mengangkat bangkai seekor bayi penyu laut, si gadis kecil itu
berkata lirih, "poor baby", dan dari wajahnya yang mungil terpancar sedih
yang tidak terkira bercampur rasa untuk menahan napas karena bau bangkai
(Arya: bau bangkai bayi penyu apa bau mas Dharma nich...).
Gelap telah hadir, dan itu menandakan waktu untuk melepas semua bayi penyu
laut yang berhasil menetas menuju laut lepas -it's time to go home, honey-
dan seketika itu pula, anak2 kecil itu dengan teratur mengelilingi ember2
yang berisi penuh dengan bayi2, dan orang tua mereka sibuk dengan kamera
dan video kamera untuk meliput suatu peristiwa yang (mungkin) pertama kali
di dalam hidup mereka (Nasrullah Idris: weleh2..ini kamera2 pasti "setebal
kertas HVS dan seringan busa kasur tetapi sekuat baja beton").
Going Home, dan ratusan bayi2 penyu kami lepas, dan bersamaan dengan itu,
puluhan jerit anak kecil bergema di udara menyaksikan bayi2 penyu 'race'
menyentuh bibir ombak lautan atlantik.
Tiba2, seorang anak kecil datang berlari mendekati saya, dan berkata lirih
bahwa seekor bayi penyu terbalik badannya sehingga tidak bisa menuju laut
lepas, dan saya pun mengikuti anak kecil itu menuju bayi yang terbalik itu
dan membalikkan badan si bayi itu. "Thank you", demikian saya katakan pada
si anak kecil itu, dan dari sinar matanya memancar rasa bahagia, tersirat
rasa bangga karena telah 'menyelamatkan' si bayi penyu, dan dengan gembira
menyaksikan si bayi kecil gagah menuju laut lepas.
Anak2 kecil yang beruntung, dapat menyaksikan langsung suatu proses awal
kehidupan dari binatang langka, penyu laut, dan mungkin, 20 tahun dari
sekarang, ketika hanya 1 dari 1000 bayi penyu yang akan berhasil mencapai
usia matang dewasa, gema jerit anak2 kecil itu akan berganti menjadi suara
lantang untuk menyelamatkan setiap generasi penyu laut.
Selamat jalan, tukik2 ku, dan semoga kalian selamat di dalam perjalanan
menuju laut bebas (Dharma: Ati2 ya, jangan ngebut..liat kiri dan kanan,
banyak 'polisi' berkedok hiu dan gurita).
Salam hangat dari Pantai Selatan Florida,
Dharma Datubara