NanoTeknologi hendaknya diartikan secara hakiki. Tidak hanya
berdasarkan definisi yang tercipta pada saat kedisiplinan ilmu itu mulai
diperkenalkan. Soalnya upaya memperkenalkan cara ini sangat rentan bagi
terbentuknya kristalisasi yang terus berkembang setiap saat, yang gilirannya
bisa menjadi counter productive bagi upaya memasyarakatkannya. Akhirnya misi
NanoTeknologi selaku partisipan dalam penyelenggara peradaban manusia
menjadi terhambat.
Kita harus mengambil pelajaran dari kata "Teknologi". Walaupun setiap
saat dipublikasikan melalui media massa maupun pembicaraan langsung,
nyatanya belum membuatnya membumi. Pasalnya ketika kata itu diperkenalkan,
contoh untuk memperkuatnya bukanlah objek yang paling sederhana, yang bisa
dilihar, dirasakan, dan dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Coba aja survei sejumlah orang, kemudian tanyalah seorang per seorang,
"Apakah membuat bujur sangkar dari empat buah batang korek api bisa
dikatakan sebagai aktivitas Teknologi?". Saya yakin, banyak dari mereka yang
bingung atau geli menjawabnya. Malah bisa-bisa si penanyanya akan
ditertawakan.
Kembali pada persoalan NanoTeknologi.
Kalau dilihat dari kata yang terkandung di dalamnya, khususnya "Nano"
yang mempunyai arti "satu per milyar", maka ia bisa juga berarti "Ilmu
tentang upaya memperkecil produk". Apresiasi ini pun sebenarnya belum
lengkap kalau tidak disertai contoh yang populer.
Jadi apa saja? Banyak kok. Misalkan :
* Cara membuat pakaian yang beratnya beberapa kali lebih ringan, tetapi
daya tahan dan ketebalannya sama.
* Cara membuat dinding rumah yang tipisnya beberapa kali lipat, tetapi
daya tahan dan ketegarannya sama.
Memang demikianlah seharusnya cara mengapresiasikan "NanoTeknologi".
Salam,
Nasrullah Idris
----------------------
P.O. Box 1380 - Bandung 40013
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu