Ada salah seorang pria Indonesia.
Pengalaman dirinya sebagai mahasiswa di perguruan tinggi sangat
kontroversil.
Ketika menginjak semester kedua, ia secara diam-diam mengucapkan
selamat tinggal dengan segala bentuk ujian, test, dan ulangan.
Tindakan ini diambil setelah mengamati sistem pendidikan di Indonesia
yang ia anggap tidak cocok bagi dirinya. Antara lain : terlalu banyaknya
materi pelajaran.
Selain itu, ia sudah tidak percaya lagi kepada penilaian para dosen
terhadap kualitas intelektual dirinya.
Bagaimana dengan kuliah? Ya, ia tetap terus mengikuti kuliah. Tetapi
jumlah pelajaran yang diambil jauh lebih sedikit ketimbang rekan-rekannya
seangkatan.
Bagaimana dengan biaya? Ia terus membayarnya setiap tahun, sesuai tarif
yang telah ditentukan. Soalnya malu juga kalau masuk kampus sampai tidak
mengeluarkan biaya sedikit pun
Hanya setiap kali sedang musim ujian, ia tidak masuk kampus. Kalau
tidak belajar di rumah ya pergi ke perputakaan atau menemui dosen di
perguruan tinggi lain.
Bagaimana kalau rekan-rekannya seangkatan bertanya, mengapa nggak ikut
ujian? Biasanya ia jawab, "Tahun depan saja" atau "Ah, belum siap". Soalnya
kalau berterus terang takut di antara mereka mengikuti jejaknya.
Tahun pertama begitu. Tahun kedua begitu. Sampailah pada tahun ke enam
ia menyatakan diri Drop Out dari kampus itu.
Jadi secara de jure akademik, ia adalah lulusan SMA.
Salam,.
Nasrullah Idris
----------------------
P.O. Box 1380 - Bandung 40013
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu