Ah, sudah jelas kerja di Atambua itu kerja siapa. Emang kalau ada apa-apa dengan orang PBB siapa yang disalahin? Sudah dari jaman kuda orang juga tahu kalau mereka-mereka itu diapa-apain, maka pemerintah RI yang kena. Jadi mau militer atau pemerintah sipil jelas sama-sama tahu resikonya. Dengan reaksi yang demikian cepat dari pemerintah luar (silakan deh baca tiap hari gimana kerja Sidney Morning Herard dalam membentuk opini rakyat Aussie), sangat gampang ditebak siapa yang punya kepentingan. Nggak perlu analisis njelimet deh....:) Setelah kita melihat siapa yang punya kepentingan, tentunya gampang dirunut siapa saja LSM HAM yang kemarin cepat teriak. Nah, kan nanti tahu siapa yg dibiayai oleh Aussie dan negara lain macam Belanda, Portugal, dan juga pak polisi dunia. Oya, Aussie lewat pendekar Howard sangat kecewa dengan serangan PBB terhadap HAM mereka di dalam negeri. Mereka mulai mengungkit bahwa Aussie adalah negara nomor 10 terbesar yang menyokong kegiatan PBB. Dengan modal ini, maka Aussie berkehendak merombak kepengurusan PBB di komisi HAM. Nah kan, ujung-ujung duit lagi yang bicara. Siapa yg sumbang banyak maka dia yg bakal diperbolehkan membentuk segala sesuatunya sesuai kehendak mereka. Untuk Indonesia, kalau Aussie sanggup merombak PBB, maka celakalah Indonesia karena mereka dapat berlindung di balik nama PBB untuk mengerjakan proyeknya. Proyeknya apa? Lahhhh... kok nanya. Lihat aja doktrin pertahanannya. Kan paling enak mengeliminasi potensi ancaman. Kalau RI dapat dibuat menjadi negara kecil-kecil otomatis tidak ada ancaman dari Utara. Kan gitu? Anjasmara -------------------------------------- SUARA PEMBARUAN DAILY Soal Intelijen Australia di Atambua Kapuspen TNI: Mungkin Saja Kedubes Australia: Berita itu Disinformasi Jakarta, 12 September Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Marsda TNI Graito Usodo mengatakan, adanya informasi kemungkinan keterlibatan intelijen dari Australia dalam kerusuhan di Atambua ini bisa saja terjadi. Tapi untuk membuktikannya bukan hal yang mudah. ''Kita tidak ingin pemberitaan ini nantinya justru memperkeruh suasana. Prinsipnya kita akan menyelesaikan masalah ini secara jernih,'' kata Graito yang sedang berada di Yogyakarta menjawab pertanyaan Pembaruan Selasa (12/9) siang. Semua informasi, termasuk informasi adanya keterlibatan intelijen Australia ini, akan ditindaklanjuti dalam investigasi di lapangan secara hati-hati. Pemerintah Indonesia secara sungguh-sungguh menyelesaikan kasus Atambua ini. Sementara itu Atase Pers (Counsellor Public Affairs) Kedutaan Besar Australia di Jakarta Kirk Coningham, kepada Pembaruan Selasa (12/8) di Jakarta menyatakan, Australia menganggap berita tersebut adalah disinformasi. "Berita itu sudah kami ketahui dari Kantor Berita Antara, Jumat (8/9) pekan silam. Tapi apakah langsung dikutip begitu saja oleh media massa Indonesia. Kami menganggap berita demikian (dugaan keterlibatan dinas intelijen Australia berinisial Mq tersebut) adalah upaya disinformasi atau keterangan yang tidak benar yang sengaja direkayasa,'' tegas Coningham tanpa memerinci lebih jauh. Seperti diberitakan (Pembaruan 11/9) Sekretaris Tim Advokasi Perwira TNI, Yan Juanda Saputra, menyatakan mengenai aktivitas Mg, seorang anggota dinas intelijen Australia, di Atambua belakangan ini. Dalam insiden Atambua, massa menyerbu markas UNHCR dan terjadi pembunuhan terhadap tiga staf lembaga PBB yang mengurus pengungsi tersebut. Mq diduga terlibat karena terlihat berulang kali datang ke Betun (pedalaman Belu dekat Atambua tempat para pengungsi Timtim). Perwira Australia itu pernah mengikuti pendidikan Sesko TNI angkatan ke-37 dan karena itu fasih berbahasa Indonesia. Diplomat Australia itu menyatakan dia tidak pada tempatnya untuk memberikan jawaban mengenai laporan itu, tetapi dia akan segera menghubungi Canberra (Pemerintah Federal Australia) untuk mendapatkan tanggapan yang resmi dan menyeluruh. ''Segera setelah kabar dari Canberra, saya akan menghubungi Anda,'' katanya. Sementara itu, Kasubdis Penum Pol Senior Superintendent Saleh Saaf menjawab Pembaruan, Selasa (12/9) siang di Jakarta mengatakan, hingga saat ini Polri belum menemukan fakta keterlibatan intelijen asing di dalam peristiwa Atambua. Sekalipun demikian, Polri dan TNI tetap akan melakukan penyelidikan tentang kebenaran informasi tersebut. ''Polri dan TNI serius dalam menangani masalah yang terjadi di Atambua ini,'' tandas dia. Dengan melihat situasi yang terjadi di Atambua itu, Saleh Saaf menilai, memang ada pihak-pihak yang diuntungkan dalam kejadian itu. Tapi khususnya untuk Indonesia, justru merasa sangat dirugikan. Menurut Kasubdis Penum, saat ini Polri tengah berupaya mengungkap pelaku dalam kasus penyerbuan kantor UNHCR itu. Polda setempat, jelasnya, sudah menangkap 6 dari 10 pelaku pembunuhan terhadap mantan komandan Pro Integrasi Olivio Mendoza. Enam dari tujuh tersangka yang ditangkap itu adalah, Stevanus Pahik (25), Willy Brudus (26), Oktavia-nus Bere (22), Yosep Bere (22), Yulianus Bere (26) dan Yusuf Tualaka (29). Satu tersangka lainnya yakni Thomas Nahak (27) hingga saat ini masih boron, dan 3 tersangka lainnya meninggal saat dilakukan penangkapan, yakni Jonisius Letto, Yahundus Bere dan Junisius Nahak. Dari tersangka, Polisi berhasil menyita barang buk-ti berupa satu pistol jenis FN dan 4 bilah parang. ''Mereka sudah mengakui perbuatannya, tapi motif pembunuhan masih diteliti lebih lanjut,'' katanya. Selain itu, Kepolisian setempat juga sedang melakukan pengejaran terhadap 5 tersangka yang teridentifikasi sebagai pelaku dalam peristiwa penyerbuan kantor UNHCR itu yang menyebabkan 3 staf UNHCR meninggal. Sedangkan, 9 staf UNHCR lainnya sudah diselamatkan dan dievakuasi ke NTT. Kelompok Preman Sementara itu Ketua Tim Investigasi Gabungan TNI-Polri untuk kasus Atambua, Senior Supt Th L Tobing, kepada pers di Kupang Senin (11/9) mengatakan, tersangka pelaku pembunuhan Olivio Mendoza Moruk, mantan Komandan Laksaur, salah satu faksi di bawah Pasukan Pejuang Integrasi (PPI), diduga kelompok preman di Atambua, anak buah AB. Tobing menepis dugaan adanya keterlibatan pihak luar dalam kasus Olivio. Dalam penyelidikan tidak ditemukan adanya indikasi keterlibatan pihak luar dalam kasus pembunuhan Olivio, yang juga salah satu dari 19 tersangka pelanggar HAM Timtim. Untuk sementara, pembunuhan Olivio kasus kriminal murni. Ia menjelaskan kelompok preman yang diduga menghabisi Olivio diketahui sebagai anak buah AB yang kini ditahan di Polda NTT sebagai tersangka dalam kasus pemerasan. AB sempat digebuk oleh Olivio dan anak buahnya setelah memeras Dominggus, sopir angkut milik Olivio. Selanjutnya Olivio menyerahkan AB ke Polsek setempat. Saat itu isu berkembang di luar bahwa AB diculik oleh Olivio dan anak buahnya. Akibatnya ketika Olivio pulang dari Polsek ia dihadang dan dibunuh sekelompok orang yang tidak dikenal. ''AB yang berada di dalam tahanan akhirnya mengaku bahwa pembunuhan Olivio dilakukan oleh anak buahnya,'' jelas Tobing. Pos Keamanan Secara terpisah Kapolres Belu Superintendent Drs SM Simatupang yang dihubungi Pembaruan secara terpisah per telepon di Atambua, Selasa (12/9) pagi mengatakan, Polres Belu sudah membentuk enam pos keamanan di pusat pertokoan Atambua guna mencegah terjadinya aksi pemerasan atau penjarahan. Selain itu, dilakukan penyegelan dan penjagaan ketat terhadap gedung yang dikontrak oleh World Food Programme (WFP) di Kelurahan Patubenao setelah sekelompok massa berusaha menjarah beras di gudang tersebut. Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Belu, Blaysius J. Manek, didampingi Ketua Fraksi Partai Golkar, John Atet, Ketua Fraksi Gabungan Imanuel Suparmah dan Ketua Fraksi TNI/Polri Leonardus Wodo, Senin (11/9) berangkat ke Jakarta untuk bertemu Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri. (M-9/M-11/S-28/120) Last modified: 12/9/00 _________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com. Share information about yourself, create your own public profile at http://profiles.msn.com.
