Yah, jelas saja Malaysia nggak mau ngejalanin pembentukan tim pencari fakta.
Maling teriak maling masak mau diajak mencari kebenaran?

Menurut saya, Malaysia bahkan punya maksud lebih dari sekedar memegang
status quo. Malaysia terus membangun 2 pulau yang disengketakan dengan
Indonesia. Malaysia pula yang tidak mau menyelesaikan masalah 5 titik
perbatasan dengan Indonesia. Dengan demikian, mereka memang sengaja membuka
celah untuk bersengketa dengan Indonesia.

Bila Indonesia berhasil digerogoti kemampuan militernya, maka bukan tidak
mungkin Malaysia dibantu oleh gembong imperialisme Inggris (yaitu tuan
besarnya) melakukan serangan ofensif ke Indonesia. Ada yang mau bilang nggak
mungkin? Irak saja berani menyerang Iran yang berpenduduk lebih besar.
Jepang berani menyerang Cina. Apalagi kerjasama milik persemakmuran masih
tetap eksis. Nah, dengan bermodalkan sumber konflik itu, mereka dapat
mencari alasan sekehendak hati.


Anjasmara

--------------------
Rabu, 20 September 2000, 08:00 WIB

Malaysia Belum Respon Pembentukan TPF Penjarahan Kayu

Samarinda, Rabu

Sekjen Dephutbun Suripto mengatakan bahwa pihak Malaysia belum merespon
tawaran Pemerintah Indonesia dalam pembentukan "fact-finding mission" (Tim
Pencari Fakta/TPF) berkaitan dengan maraknya penjarahan hutan di kawasan
perbatasan Indonesia-Malaysia yang diduga melibatkan pihak Malaysia.

"Kami sudah mengirimkan desakan untuk pembentukan TPF tersebut,
namun sampai kini belum mendapat jawaban," kata Sekjen Dephutbun
Suripto di Samarinda, Selasa malam.

Ia menambahkan bahwa pihak Malaysia melalui Dubes Malaysia
untuk Indonesia, Dato Rastam Mohd. Isa telah menyambut positif
tawaran pihaknya untuk membentuk TPF tersebut.

Namun, Suripto enggan mengomentari, mengapa Malaysia terlihat
lamban dalam menyingkapi persoalan yang berkaitan dengan penjarahan hutan di
kawasan perbatasan tersebut, padahal pihak Indonesia telah menyampaikan
persoalan tersebut empat bulan lalu.

"Bagi kami tidak masalah untuk membuat tim tersebut, apalagi
kejadian tersebut merugikan Indonesia," katanya.

Sebelumnya Suripto mengatakan bahwa dugaan terlibatnya Malaysia
dalam penjarahan itu berdasarkan pengakuan dua mata-mata yang
berhasil ditangkap petugas dalam operasi di kawasan perbatasan.

Dua mata-mata yang kini telah ditangani secara intensif petugas
keamanan itu, kata Suripto, bertugas mengintai lokasi daerah
penyelundupan.

Menurut mata-mata yang tertangkap di Kaltim itu, tambah
Suripto, kasus penyulundupan yang melibatkan pihak Malaysia itu telah
berlangsung selama enam bulan dan dilindungi oleh Angkatan Tentara Diraja
Malaysia (ATM).

Suripto memperkirakan, penyelundupan di Kaltim rata-rata
sebanyak 80-100 ribu m3/bulan, sedangkan di Kalbar 150 ribu
m3/bulan, Riau 70 ribu m3/bulan, sedangkan untuk Sorong belum ada data yang
masuk.

Dugaan keterlibatan Malaysia diperkuat pula berdasarkan fakta
hasil "Operasi Tarakan" pada Mei 2000.

Dalam operasi itu, pasukan Kostrad di perbatasan Sabah-Kabupaten Nunukan
(Kaltim), menemukan peralatan berat, peluru,
kamp, tanki solar, tumpukan gelondongan, kayu hasil tebangan liar dan tempat
makanan bercirikan simbol ATM (Angkatan Tentara Diraja Malaysia).

Berdasarkan bukti-bukti itu, Sekjen Dephutbun Suripto bertekad
akan membentuk TPF gabungan antara Indonesia-Malaysia untuk
menyelidiki kasus pencurian kayu ilegal di perbatasan kedua negara itu.

Dalam 10 tahun terakhir, menurut Suripto, kerugian yang
diderita Indonesia akibat penjarahan hutan di kawasan perbatasan
diperkirakan mencapai Rp 5 trilyun.

Ketua DPRD Kaltim, Sukardi Djarwo Putro mendesak agar pihak
terkait segera mengungkapkan kasus penjarahan hutan Indonesia itu, apalagi
ada bukti kuat sehingga Indonesia seyogyanya menuntut Malaysia ke Mahkamah
Peradilan Internasional, karena kerugian negara sangat besar.

"Seadainya kerugian Indonesia sebesar Rp 5 trilyun tersebut
digunakan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional atau untuk
pembangunan Kaltim, maka daerah ini sudah makmur," katanya.

Sukardi Djarwo menunjuk besarnya APBD Kaltim yang rata-rata
hanya sekitar Rp 400 milyar, sehingga apabila kerugian negara akibat
penjarahan itu dimanfaatkan untuk pembangunan Jalur
Lintas-Kalimantan di wilayah Kaltim, maka sudah ada jalan tembus yang mulus
dari Nunukan-Manilau-Bulungan-Berau-Sangatta-Samarinda-Balikpapan-Pasir,
karena kebutuhannya hanya sekitar Rp 1 trilyun.

"Itu baru kerugian materiil, belum lagi kerugian pada bidang
ekologi karena hutan yang relatif selamat dari beberapa kali bencana
kebakaran hutan berada di kawasan perbatasan," kata Ketua DPRD Kaltim itu.

Sejumlah LSM dan Ormas di Kaltim bahkan bertekad akan
mengkampanyekan tentang produksi kayu dari Malaysia berasal dari
hasil penjarahan hutan tanpa mengindahkan masalah lingkungan ke
dunia internasional.

"Namun, ada kekhawatiran kami, apabila kita mengkampanyekan,
ternyata menjadi bumerang bagi Indonesia, karena ternyata banyak
aparat yang ikut bermain," kata Direktur Ekskutif Wahana Lingkungan Hidup
(Walhi) Kaltim, Ambrianto Amin.

Hal itu terlihat dari indikasi begitu mudahnya aset negara di
kawasan perbatasan dijarah, seakan-akan wilayah "tak bertuan".(ant/zrp)





_________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.

Share information about yourself, create your own public profile at
http://profiles.msn.com.

Kirim email ke