Salam Permias,
Salah seorang rekan mantan Permias LA (Akbar) saat ini bersama-sama dengan teman-temannya sedang berusaha menjalankan Program yang sangat mulia yaitu program "Sekolah Weekand Kolong Jembatan". Bila ada rekan-rekan baik secara individu/organisasi berniat membantu lebih jauh terhadap program ini, silahkan menghubungi akbar pribadi di [EMAIL PROTECTED]
Semoga rekan-rekan permias bisa membantu adik-adik kita di kolong jembatan,
-t-
+++++++++++++++++++++++++++++++++
Proporsal
Sekolah Weekend
Kolong Jembatan
Daerah:
Marunda
Tanjung Priok
Jembatan Ancol
Jembatan Grogol
Jembatan By Pass
Ring Road Lingkar Selatan
Disusun Oleh
Aidil Akbar Madjid
Jakarta, Indonesia
September 2000
Latar Belakang:
Krisis ekonomi yang berkepanjangan yang dimulai dari tahun 1997 sampai sekarang menyebabkan kondisi negara yang terpuruk kedalam keadaan yang amat menyedihkan. Pemerintah tidak lagi mempunyai cukup dana untuk memberikan fasilitas-fasilitas yang memadai kepada masyarakat khususnya fasilitas pendidikan kepada anak-anak usia sekolah.
Kondisi ini diperburuk dengan dihapus nya Departemen Sosial yang lingkup kerjanya meliputi pengarahan agar anak-anak usia sekolah kembali ke bangku sekolah. Beban hidup yang tinggi dan biaya sekolah yang mahal menyebabkan banyak anak-anak usia sekolah harus berhenti sekolah dan membantu orang tuanya bekerja sebagai tukang minta-minta atau pengamen dilampu merah dijalan-jalan di ibukota.
Kondisi anak-anak ini kian memburuk dengan berkenalannya mereka dengan para preman yang kiat bereaksi dikolong-kolong jembatan dalam melakukan tindak kriminal kepada para pengendara bermotor dan mobil. Hal ini menyebabkan banyak terdapatnya titik-titik rawan kejahatan di ibukota yang notabene dilakukan oleh anak-anak usia sekolah yang dikoordinasi oleh para preman.
Kehidupan keras ibukota dan minimnya ilmu pendidikan, pengetahuan, dan budi pekerti bagi para anak-anak jalanan ini kalau di diamkan akan membentuk kharakter anak-anak tersebut menjadi keras dan mempunyai jiwa pemberontak, tidak menutup kemungkinan akan menjadi kriminal dikemudian hari.
Tujuan
Dengan segala keterbatasannya, kami anggota masyarakat mencoba memberikan pengarahan dan pendidikan alakadarnya kepada anak-anak di kolong jembatan ini. Dengan keterbatasan pula, kami tidak dapat memberikan pendidikan yang full yang dapat di pakai sebagai pengganti pendidikan sekolah yang semestinya anak-anak tersebut dapat di sekolah.
Tujuan kami adalah memberikan pendidikan dasar yang terbatas untuk membimbing anak-anak jalanan tersebut agar tidak menjadi liar, dapat dikendalikan, menyadarkan mereka akan pentingnya pendidikan sehingga suatu hari ini mereka bisa kembali ke sekolah.
Bentuk Program
Adapun bentuk pendidikan yang kami berikan adalah sekolah weekend dimana kami memberikan 3 pokok pelajaran yang kami rasa amat penting bagi mereka saat ini yaitu:
Matematika
Bahasa Indonesia
Budi Pekerti
Mengapa mereka kami berikan 3 pokok pelajaran ini dikarenakan ketiga pelajaran ini yang dapat menjadi basic bagi anak-anak ini untuk menempuh hidup. Matematika dapat digunakan kapan saja menjadikan matematika merupakan pelajaran yang penting untuk di ketahui semua orang. Bahasa Indonesia amat diperlukan bagi anak-anak ini mengingat mereka hidup di jalanan dimana bahasa mereka cenderung kasar, jorok, dan tidak mengerti tata kerama. Pelajaran Bahasa Indonesia dipadukan dengan pelajaran Budi Pekerti sehingga anak-anak jalanan ini masih mengerti perbedaan yang baik dan buruk sehingga mereka tidak terpuruk kedalam dunia hitam kriminalitas.
Adapun rencana berikutnya kami akan menambahkan pelajaran agama untuk mengimbangi pelajaran budi pekerti agar anak-anak ini terbimbing.
Dapur Umum
Mendampingi projek pendidikan ini, kamipun mengadakan dapur umum untuk anak-anak tersebut. Kami menyadari bahwa anak-anak ini bekerja di jalanan untuk mendapatkan uang untuk membantu orang tua mereka membeli makanan. Sering kali kedapatan anak-anak ini belum makan pagi (sarapan) atau bahkan makan siang. Dengan pendekatan psychology dimana anak-anak ini tidak akan mau menurut untuk belajar apabila perut mereka kosong dan kelaparan, maka kami membuka dapur umum sebelum sekolah weekend ini.
Dengan keterbatasan dana, kamipun hanya bisa memberikan makanan alakadarnya berupa mie rebus yang kami sadari dari segi gizi amatlah kurang memadai.
Keterbatasan
Keterbatasan yang kami hadapi adalah dalam segala bidang, yaitu:
Keterbatasan SDM & Waktu
Kami terbatas dalam jumlah sumber daya manusia. Setiap minggu hanya terkumpul antara 6-10 orang sukarelawan yang secara bergiliran membantu proyek sekolah dan dapur umum ini. Dikarenakan sifatnya yang sukarelawan, sumber daya manusia kami selalu berganti-ganti mengunjungi beberapa tempat yang berbeda untuk mengadakan sekolah weekend dan dapur umum ini. Kami menyadari bahwa kami membutuhkan tambahan tenaga �professional� setidaknya dalam mendidik anak-anak tersebut.
Sebagai manusia biasa, kamipun harus bekerja untuk menghidupi diri kami dan keluarga dimana terkadang waktu kami bentrok dengan waktu untuk mempersiapkan program sekolah weekend dan dapur umum ini.
Keterbatasan ini pulalah yang menyebabkan kami tidak dapat menyelenggarakan sekolah di tempat yang sama setiap weekend, karena untuk meng�cover� 6 daerah yang berbeda, kami harus bergiliran. Adapun daerah yang kami cover mencakup Marunda, Tanjung Priok, Jembatan Ancol, Jembatan Grogol, Jembatan By Pass, dan Ring Road Lingkar Selatan. Sementara ini ada beberapa LSM-LSM yang melakukan hal serupa dengan program yang mungkin berbeda yang mengcover daerah masing-masing. Kami akan mencoba mengkolaborasi program kami sehingga kami bisa bekerja sama dengan LSM-LSM lain untuk menjalankan program ini.
Keterbatasan dana
Sampai saat ini pendanaan untuk program sekolah weekend dan dapur umum ini kami peroleh dari iuran/urunan para sukarelawan kami. Dengan keterbatasan dana ini, otomatis kami mempunyai keterbatasan dalam mengadaan proses belajar mengajar, buku-buku, dan dapur umum tersebut.
Budget Pendanaan
Tiap lokasi terdapat sekitar 25-40 anak-anak jalanan yang mengikuti program ini. Jumlah ini naik turun tergantung dengan keberadaan mereka di lokasi. Untuk mempermudah, kami akan mengambil jumlah rata-rata pertiap lokasi yaitu 30 anak.
Pendanaan yang kami butuhkan perbulan adalah untuk dapur umum dan alat-alat tulis sekolah berupa buku, pensil dan penghapus. Draft budget kira-kira sebagai berikut:
Jumlah Anak Jumlah Harga Satuan Total
Dapur Umum perlokasi Perbulan
Mie Rebus 30 4 Rp. 400 Rp. 48,000
Beras 25 liter 1 Rp. 3,000 Rp. 75,000
Sayuran 20 ikat 4 Rp. 1,000 Rp. 80,000
Subtotal Rp. 203,000
Alat-alat tulis
Buku 30 1 Rp. 1,000 Rp. 30,000
Pensil 30 1 Rp. 1,000 Rp. 30,000
Penghapus 30 1 Rp. 500 Rp. 15,000
Subtotal Rp. 75,000
Total/bulan/lokasi Rp. 278,000
Biaya untuk 6 lokasi: 6 x 278,000 = Rp. 1,668,000
Biaya tambahan untuk membeli buku bacaan: 30 x 3 buku x Rp. 6,000 = Rp. 540,000
Untuk program menambahan tenaga pengajar diberikan penganti ongkos & honor.
Ongkos angkutan Rp. 10,000
Honor Rp. 15,000
Total Rp. 25,000/sekali datang = Rp. 100,000/bulan
Ideal total pengajar yang diperlukan adalah 4 orang. Untuk sementara ini dimulai dengan 2 orang, biaya: 2 x Rp. 100,000 = Rp. 200,000
Total biaya dibutuhkan Rp. 2,408,000
