1965: BISAKAH PKI MEMBANTAI 20 JUTA?

Taufiq Ismail

(Forum, no.7, tahun IX, 21 Mei 2000)

Di atas halaman buku sejarah partai politik dunia, berceceran bercak
darah yang ditinggalkan partai Marxis-Leninis-Maois, dan juga bermacam
variannya di 65 negara.  Kaukasia, Ukraina, Polandia, Yugoslavia,
Azerbaijan, Indonesia, Yaman, Congo, Mozambique, Ghana, Cuba adalah 11
contoh nama dari 65 negara yang tersebar di  benua Eropa, Asia, Afrika
dan Amerika di atas bumi kita ini yang diceceri darah itu.

Tidak ada satu pun partai politik lain yang dapat menandingi rekor
pembantaian yang dilakukan mereka itu, yang masuk secara terselubung
mau pun berjelas-jelas dalam program kerja mereka, yaitu perebutan
kekuasaan secara revolusi berdarah lewat pertentangan kelas menuju
diktatur proletariat, baik di abad 20 ini mau pun di abad-abad
sebelumnya.

Tidak juga gabungan dari korban berbagai  perang penjajahan, perang
saudara, konflik pemeluk agama dari abad mana pun, sejak dari
Conquistadores, pembantaian Hari St. Bartholomew, kekejaman Spanyol di
Belanda, Drogheda dan Glencoe, penjarahan Mongol, Indian Mutiny,
Sungai Darah Afrika Selatan, pembabatan Indian, dan seterusnya, yang
akan dapat menandingi jumlah pembantaian yang dikerjakan Partai
Komunis dunia, dalam jangka waktu yang sama, yaitu kurang sedikit satu
abad lamanya.

Mari kita hitung korban di Rusia dan Cina. Ambillah angka Iosef
Dyadkin (publikasi Samizdat), peneliti sejarah Rusia yang menemukan
angka 52,1 juta rakyat Rusia yang dibantai rezim Marxis, lalu Anthony
Lutz yang mencatat 60 juta rakyat Cina yang dihabisi pemerintahnya,
berjumlah 112, 1 juta orang. Peneliti lain, James Nihan menemukan
angka 105 juta (The Marxist Empire) dan Rummel 95,2 juta (Religion and
Society Report), untuk seluruh dunia.

Dari keempat sumber di atas, maka jika diambil rata-rata yang
dibulatkan ke bawah saja, maka kita peroleh angka 100 juta. Berarti di
abad 20  partai Marxis-Leninis-Maois ini, atas nama ideologinya,
menghabisi nyawa rata-rata 2.739 orang setiap harinya. Sangat tidak
masuk akal sehat bahwa sebuah partai yang mengaku menghormati
demokrasi dan HAM, melakukan hal tersebut. Ideologi ini memang anti
demokrasi, anti HAM dan anti Tuhan.

Kalau TAP MPRS 1966 no XXV dicabut, dan dengan demikian PKI dilegalkan
kembali, maka PKI-Baru ini akan berbohong besar lagi dengan mengaku
bahwa mereka demokratis, menghormati HAM dan hak orang beragama. Bila
ini terjadi, maka kita, yang bersedia kena tipu empat kali, jadilah
bangsa keledai yang dungu secara paripurna.

Empat kali itu adalah, pertama, Peristiwa Tiga Daerah (1945), kedua,
Pemberontakan Madiun (1948), ketiga, Pengkhianatan Gestapu (1965) dan
keempat, Pencabutan TAP MPRS 1966 no XXV (2000), yang berarti fajar
menyingsing kebangkitan PKI-Baru. Peristiwa Tiga Daerah (Tegal, Brebes
dan Pemalang), karena kalah kejam ketimbang Pemberontakan Madiun,
sering kita lupakan.

Angka pembantaian dari 13 negara

Rezim Marxis-Leninis Uni Soviet melancarkan perang di luar Rusia 4
kali. Dua kali di Polandia (1920 dan 1939), Finlandia (1939-40), Cina
(1969) dan Afghanistan (1979).  Di Finlandia 200.000 orang dibantai.
Di negara-negara komunis Eropa Timur yang berontak, ribuan orang
dihabisi. Di perbatasan RRC, sesama negeri komunis, ribuan pula yang
dibunuhi. Ke Afghanistan Brezhnev, Andropov, Chernenko dan Gorbachev
mengirim tank, bom napalm dan boneka-bonekaan yang bisa meledak, yang
membunuh, membakar dan melumpuhkan 15.000 anak-anak Afghan.

Di dalam Revolusi Kebudayaan di RRC, menurut catatan Encyclopedia of
Military History (1987-88) rezim komunis Cina telah membunuh 450.000
penduduk sipil dan 50.000 serdadunya.

Tiga negara Baltik (Latvia, Estonia dan Lithuania) dibelenggu oleh
rezim komunis di tahun 1940 dan pada tahun itu 135.000 orang dibantai
oleh pemerintah Marxis yang baru berkuasa. Sepanjang 47 tahun represi
Marxis, beribu-ribu pula orang Baltik mati menjadi korban kekerasan
negara komunis.

Negara Burundi di Afrika menjadi komunis di tahun 1966. Penekanan
rezim Marxis yang luarbiasa menyebabkan pecahnya pemberontakan di
tahun 1972-73. Pemerintah Marxis membantai 160.000 orang, dan yang
melarikan diri ke luar perbatasan 100.000 penduduk.

Di Cekoslowakia, 1968, ketika negara itu sudah 20 tahun
Marxis-Leninis, terjadilah gelombang ketidakpuasan rakyat. Ceko
diserbu oleh pasukan Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Mereka membantai
ribuan pemuda dan buruh. Akibat luarbiasa buruk bagi bangsa Ceko ialah
bahwa kemudian bangsa itu mengidap penyakit angka bunuh diri tertinggi
di dunia: 25 kasus bunuh diri untuk setiap 100.000 penduduk. Angka
bunuh diri di Amerika Serikat adalah 12 kasus untuk setiap 100.000
penduduk. Untuk mengelak dari teror, ketakutan, masa depan suram dan
rendahnya taraf hidup, rakyat Ceko (seperti rakyat Hongaria) mengambil
jalan pintas lewat bunuh diri.

Orang nomor satu Marxis, bos komunis Yaman Selatan Salim Rubaya Ali,
dibunuh oleh sesama Marxis dalam tembak-menembak di jalan raya,
sehingga banyak pejalan kaki tewas pula. Itu terjadi di tahun 1978.
Delapan tahun kemudian, 1986, di Aden berlangsung baku-tembak
mengerikan di antara dua kelompok Marxis Yaman Selatan, yang mencabut
nyawa 15.000 orang. Yang bertarung adalah mantan presiden Marxis
Abdul Fatah Ismail, yang digusur oleh diktator baru komunis, presiden
Ali Nasser Muhammad al-Hasani, dalam tiga kali perebutan kekuasaan.
Perang saudara antar-Marxis ini menggunakan tank, senapan mesin,
meriam dan kapal terbang. Judul tajuk rencana New York Times (17
Januari 1986) berbunyi  "Amuk Leninisme di Yaman."

Ketika Yugoslavia jatuh ke cengkeraman komunis di akhir Perang Dunia
II, partisan Marxis anak buah Marskal Tito membantai 500.000 orang
bangsanya sendiri. Banyak anggota pasukan lawan luka-luka yang sedang
dirawat, langsung dibawa keluar dari hospital,  lalu dihabisi.

Selama 37 tahun rezim Marxis mengambil-alih Tibet, sejuta penduduk
Tibet telah dihabisi RRC, begitu ucap Dalai Lama di Newsweek, Oktober
1987. Di negara Angola (Afrika), dalam masa 4 tahun pertama kekuasaan
Marxis, sekitar 250.000 penduduk kulit hitam dibantai pasukan Angola
dibantu tentara Kuba. Di Mozambique, dalam perebutan kekuasaan
berdarah 1974 oleh kelompok komunis, diberitakan di Los Angeles Times
(Don Shannon) bahwa 900.000 rakyat mati dalam perang saudara, dan 6
juta terusir dari kampung halaman.

Hongaria menjadi komunis di tahun 1956, dan Tentara Merah Uni Uni
Soviet yang menyerbu masuk, membantai 25.000 pemuda dan kaum buruh
setempat. Mereka dikenal sebagai "Pejuang Kemerdekaan" (Freedom
Fighters). Dari mereka 500 orang dihukum gantung. Beberapa puluh di
antara mereka, karena belum cukup umur, menunggu beberapa tahun
sebelum leher mereka dibelit tali di tiang gantungan rezim
Marxis-Leninis.

Sedih sekali kenyataan bahwa negeri ini, yang anak muda dan kaum
buruhnya begitu berani melawan pendudukan Tentara Merah Uni Uni Soviet
yang menyerbu masuk membantu orang komunis setempat, seperti diabaikan
saja oleh dunia luar. Selepas itu (tahun 1970-an) angka bunuh diri di
Hongaria naik tiga kali lipat, sampai dengan angka 5.000 bunuh diri
setahunnya, dan 50.000 percobaan bunuh diri yang gagal. Hidup di dalam
tekanan dan di bawah injakan rezim Marxis yang anti-demokrasi dan HAM,
tidak tertahankan oleh rakyat kebanyakan, yang tidak pula beriman pada
Tuhan. Jalan pintasnya bunuh diri, seperti yang mewabah di
Cekoslowakia.

Sejak kup 1978, Afghanistan Marxis telah membantai 1,2 juta
penduduknya sendiri, hasil kerjasama lebih dari 10 tahun serdadu Uni
Soviet dan Afghan merah. Kaum Marxis itu menghalau lebih dari lima
juta rakyat Afghan ke kamp pengungsian di Pakistan dan Iran. Tidak
puas meratakan pedesaan Afghan, pesawat tempur Rusia membom lagi
pengungsi yang tak berdaya di ratusan kemah pengungsi di perbatasan
Pakistan.

Kelompok komunis  Khmer Rouge merebut Pnom Penh dan Kampuchea jadi
merah di tahun 1978. Menurut Joel Charny, direktur Oxfam wilayah Asia,
diperkirakan 500.000 rakyat Kampuchea dibantai (1970-75) dan sejuta
dibunuh atau kerja paksa sampai mati oleh Khmer Rouge (1975-79). Khmer
Rouge dipersenjatai oleh rezim RRC  Marxis. Selanjutnya sejuta lagi
rakyat Kampuchea dibantai sepanjang masa pendudukan pasukan Vietnam
Utara komunis. Serdadu Vietnam Utara bergerak merampas Kampuchea dari
kekuasaan rekannya sesama komunis. Pecah perang lagi. Tewaslah 30.000
orang Kampuchea dan 25.000 orang Vietnam. Bila dulu Amerika
menggunakan bom napalm membunuhi orang Vietnam, kini pasukan Vietnam
memakai bom kimia beracun untuk membantai rekannya sesama Marxis Khmer
Rouge.

 Pengarahan dari Lenin

Tujuan setiap partai Marxis-Leninis-Maois adalah merebut kekuasaan di
negara mereka masing-masing, dengan cara berdarah. Bagi mereka, apa
pun cara untuk mencapai tujuan adalah halal, termasuk membunuh, juga
sesama Marxis. Adakah batas persentase korban ditetapkan oleh Moskow?
Ada. Lenin memberi petunjuk: "Tidak soal bila tiga perempat dunia
habis, asal seperempat yang tinggal itu komunis." (Schwarz, You Can
Trust the Communist, 1972). Jadi 100 juta yang dibantai
Marxis-Leninis-Maois di abad 20 ini masih jauh di bawah minimum.

Partai Komunis Amerika yang sangat yakin bahwa pada suatu masa mereka
akan menang (Schwarz, YCTtC, 1972), di tahun 50-an pernah membuat
pernyataan bahwa bila mereka "berhasil menguasai Amerika Serikat,
mereka perlu membunuh (would need to put to death) sepertiga rakyat
Amerika Serikat" (artinya itu 55 juta orang). Statemen secongkak ini,
memang karakter sehari-hari Marxis-Leninis seluruh dunia, termasuk
dulu di Indonesia.

Seorang penyair Pnom Penh secara ajaib berhasil lolos dari lubang
jarum, lari dari neraka dunia "Ladang Pembantaian" Kampuchea di awal
90-an. Dari Bangkok dia terbang ke Iowa City.  Diberitahu bahwa saya
orang Indonesia, kami langsung akrab. Penyair kurus-kering itu
bercerita bahwa komunis Kampuchea geram sekali PKI tak berhasil
merebut kekuasaan di tahun 1965. Waktu itu dia mendengar dari
orang-orang Khmer Merah itu, bahwa kalau PKI menang, paling kurang 15
% atau seperenam rakyat Indonesia yang anti-komunis  akan dibantai PKI
(artinya itu 20 juta orang). Khmer Merah sendiri membantai 2,5 juta
orang sebangsa, hampir separuh jumlah rakyat Kampuchea.

Saya langsung teringat pada lubang perlindungan terhadap kemungkinan
serangan udara Inggeris semasa konfrontasi Malaysia, yang diharuskan
digali di pekarangan rumah, yang dulu dicurigai adalah untuk kubur
yang praktis bagi  PKI untuk menjagal rakyat bila mereka menang, Di
tahun 1992, sehabis mendengar cerita teman saya penyair Kampuchea itu,
dengan ucapan "wooo, begitu", yakinlah saya bahwa memang lubang
perlindungan itu akan  jadi kubur rakyat Indonesia yang anti
Marxis-Leninis. Ternyata kita pernah mereka tipu menggali kubur
sendiri, yang tak jadi dipakai karena gagalnya Gestapu.

Sesumbarnya Partai Komunis Amerika akan menghabisi sepertiga bangsanya
bila mereka berkuasa (55 juta), dan informasi dari Kampuchea bahwa PKI
akan membantai paling kurang 20 juta rakyat Indonesia bila mereka
menang, tidak mustahil karena di 64 negara lain perangai  haus darah
Marxis-Leninis itu sudah menjadi fakta sejarah.

Taksiran angka pembantaian 20 juta bagi PKI tahun 1965 (partai
Marxis-Leninis-Maois terbesar di dunia di luar blok komunis), masih di
bawah limit petunjuk  Lenin dan sebandinglah dengan angka 52,1 juta
untuk Uni Soviet dan 60 juta bagi RRC. Gengsi PKI akan naik karenanya.

Kalau itu terjadi, maka ke Komnas HAM di tahun 2000 akan menghadap
delegasi yang menuntut pengusutan terhadap pembantaian 20 juta rakyat
anti komunis yang dilakukan PKI, ketika Gestapu sukses berlangsung di
tahun 1965. Komnas HAM akan luar biasa repot menghadapi tuntutan ini.

***

Kirim email ke