Dari Gatranews.net
---------------------
Rekaman Koboi Cula Babi
Seorang warga Amerika dideportasi. Dia dituduh melakukan kegiatan
mata-mata di Irian Jaya. Ia getol membangun hubungan dengan pentolan
Papua Merdeka. Targetnya: memisahkan Irian Jaya dari Indonesia?
TONGKRONGANNYA gagah. Agak sangar. Tubuhnya tegap menjulang
hampir dua meter.
Gayanya bak petualang tulen: sepatu bot, rompi, dan kemeja
dril dengan lengan digulung. Di
kepalanya bertengger topi rimba lebar berhiaskan kulit kerang.
Di lehernya melingkar kalung cula
babi. Tapi saat keluar dari perut Merpati di Bandara
Hasanuddin, Makassar, Sabtu siang pekan
lalu, Aaron Ward Maness tertunduk lesu. Loyo!
Pesawat Fokker Merpati bernomor penerbangan 763, rute
Jayapura-Jakarta, itu transit di
Makassar 20 menit. Di Bandar Udara Sentani, Jayapura, Aaron
sempat mengundang perhatian
penumpang lain. Dia menangis sesenggukan di ruang tunggu.
''Saya sangat sedih meninggalkan
Papua. Saya sangat cinta daerah itu,'' kata pria berpaspor
Amerika yang berusia 46 tahun itu
kepada Gatra.
Dengan langkah berat, Aaron masuk ke pesawat yang akan
membawanya ke Makassar, kemudian
ke Jakarta. Dalam perjalanan ini, Aaron didampingi Nico Mallo,
petugas Imigrasi Irian Jaya. Ia
harus meninggalkan ''bumi cendrawasih'' dengan tidak
terhormat. Ia dipaksa mudik ke negerinya
alias dideportasi. Ia akan cabut dari Jakarta, Senin pekan
ini.
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Irian Jaya, Brigadir
Jenderal (Brigjen) Selvianus Yulian
Wenas, mengakui bahwa permintaan deportasi itu datang dari
pihaknya. Ia mengirim surat resmi ke
kantor Imigrasi, 14 Oktober lalu. ''Warga Amerika itu telah
menyalahgunakan visa turisnya,'' kata
Wenas, yang posisinya akan digantikan Brigadir Jenderal Timbul
Silaen, mantan Kapolda Timor
Timur semasa masih menjadi bagian Indonesia itu.
Aaron Ward masuk dengan visa kunjungan wisata, Tapi, selama di
Wamena, dia dianggap ''main
politik''. Bumi Irian, menurut seorang perwira polisi di
Jayapura, memang jadi salah satu tempat
favorit bagi turis semacam Aaron. Pada 1996, menjelang
peristiwa penyanderaan Tim Lorentz '96
terjadi, seorang warga negara Australia, Ben Bohani, telah
lebih dulu kelayapan di sana. Konon, ia
memprovokasi gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan
memberikan latihan militer.
Lalu September 1999, Paul Francis Dalton, 26 tahun, diringkus
petugas Bandara Timika, Irian
Jaya. Ia dituduh terlibat penggalangan Papua Merdeka. Dalton
masuk ke Indonesia sebagai tenaga
UNAMET, misi PBB menggelar jajak pendapat di Timor Timur.
Ketika digeledah, dalam tas yang
dikempit arsitek lulusan Universitas Canberra itu ditemukan
sejumlah dokumen politik. Di
antaranya, pernyataan 100 tokoh Papua yang menuntut
kemerdekaan.
Ada dokumen lain, daftar nama anggota TNI yang dituduh telah
melakukan pelanggaraan HAM di
daerah Timika tahun 1996. Dalam ransel Paul Dalton itu polisi
menemukan dua rol film, kaset, dan
tiga lembar peta operasi pesawat misionaris Australia di Irian
Jaya.
Belakangan Kedutaan Besar Australia di Jakarta mengakui,
Dalton pernah mengirim sejumlah
informasi. ''Tak ada yang sifatnya rahasia,'' kata Kirk
Coningham, Atase Kedutaan Besar Australia
di Jakarta. Laporan itu, tutur Coningham pula, datang tanpa
diminta. ''Dia itu orang gila. Apa yang
dia lakukan tak ada hubungannya dengan Pemerintah Australia,''
ia menambahkan.
Kini Aaron Wared Maness yang membuat heboh. Ia dicurigai
sebagai intel Amerika yang
beroperasi di daerah bergolak. Pria yang fasih berbahasa
Indonesia ini kabarnya menjalin kontak
dengan Satgas Papua yang berambisi mendirikan Papua Merdeka.
Keruan saja, Aaron dituduh
sebagai ''provokator'', mengipas adanya perlawanan massa atas
upaya penurunan bendera Bintang
Kejora. Walhasil, meletuplah kerusuhan Wamena 6 Oktober lalu.
''Ia datang ke sini dengan visa turis. Tapi ia melakukan
kegiatan yang sifatnya intelijen,
memata-matai,'' kata Menteri Pertahanan Mohammad Mahfud
Mohidin. Dalam pandangannya, aksi
Aaron itu untuk memecah belah negara kesatuan Republik
Indonesia. ''Saya selalu berteriak-teriak,
negara-negara asing itu punya kepentingan memecah belah
Indonesia,'' ujar Mahfud menambahkan
(lihat: Perang Lebih Gampang).
Peristiwa Wamena itu menewaskan 58 orang, mencederai 60
lainnya. Irian kini pun meriang. Wakil
Presiden Megawati Soekarnoputri rupanya sudah tak tahan
melihat bendera Papua Merdeka
dijadikan simbol penggalangan aksi separatisme. Ia lantas
memerintahkan kepolisian untuk
menurunkan bendera itu. Di Wamena, perintah ini disambut
dengan aksi kekerasan Satgas Papua.
Ketika polisi menurunkan bendera bergaris-garis biru dan
bergambar bintang itu, mereka membalas
dengan menyerang warga pendatang. Polisi pun menembak. Korban
berjatuhan.
Perintah Megawati itu memang seperti meralat sikap Presiden
Abdurrahman Wahid, yang
memberikan toleransi atas Bintang Kejora. Ternyata, perintah
itu mendapat dukungan luas, baik
dari kalangan partai politik, jajaran militer, kepolisian, dan
masyarakat umum. Berikutnya, Presiden
Gus Dur secara resmi melarang pengibaran Bintang Kejora.
Memang, sengketa Bintang Kejora itu sempat menelan korban,
terutama di Wamena. Di situlah
Aaron bermain. Ia merekam bentrokan itu, lengkap dengan
gambar-gambar pemuda Papua yang
dihajar polisi. Namun, seperti dituturkan Kapolda Irian Jaya,
Brigjen Selvianus Yulian Wenas,
Aaoron Ward hanya merekam korban gebukan dan tembakan polisi.
Kisah pembantaian Satgas
Papua atas warga pendatang tak sepotong pun masuk ke dalam
kameranya.
Polisi yakin ''rekaman'' itu telah dikirimkan Aaron keluar
negeri, plus laporan tertulis bahwa di
Wamena terjadi pembantaian etnis yang dilakukan polisi
Indonesia. Padahal, kata Wenas, justru
oknum Satgas Papua itulah yang sembarangan membantai warga
pendatang. ''Laporannya tak
seimbang. Dan ia telah memutarbalikkan fakta,'' kata Wenas
kesal.
Yang membikin polisi gerah, sehari setelah kerusuhan itu,
Aaron memutar hasil liputan videonya di
lobi Hotel Nayak, tempat dia menginap di Wamena. Rekaman itu
ditonton tamu-tamu hotel,
terutama turis-turis asing. Polisi lantas menangkap Aaron esok
harinya. Dari Wamena, ia diboyong
ke Jayapura untuk diperiksa. Selama di Jayapura, ia
dikarantina di Hotel Yasmin hingga sampai
kemudian dideportasi.
Selain rekaman, polisi juga menemukan dokumen-dokumen yang
menunjukkan kontak Aaron
Ward dengan pengurus Satgas Papua, antara lain Komandan Satgas
Wamena, Kostan Tabuni.
Dalam salah satu dokumen itu, menurut polisi, ada agenda aksi
menyambut instruksi penurunan
Bintang Kejora. Tabuni kini dinyatakan buron. Ia ditengarai
menghasut warga asli Papua menyerang
warga pendatang.
Dari keterangan yang diperoleh polisi, Aaron berulangkali
mengirim VCD berisi rekaman kerusuhan
dan wawancara dengan Satgas Papua ke suatu alamat di Bluebind
Drive West Valley City-84120,
Utah. Kepada polisi, Aaron mengaku alamat itu sebagai tempat
tinggalnya.
Kepada Gatra, Aaron Ward mengaku cuma turis yang tertarik
dengan keindahan Papua. Ia sudah
tiga kali mengunjungi ''bumi cendrawasih'' itu. Yang pertama
Juli 1995, via Jakarta. Yang kedua Juli
2000. Dan ketiga September 2000. Kunjungan kedua dan ketiga
dilakukan lewat Papua Nugini. Ia
mengaku tak melakukan kegiatan intelijen. ''Tuduhan Pemerintah
Indonesia ini sangat kejam. Saya
sangat sedih,'' katanya (lihat: Tuduhan Itu Sangat Kejam).
Toh ia langsung bungkam seribu bahasa ketika disodok dengan
pertanyaan soal kegemarannya
gonta-ganti identitas, hal yang biasa dilakukan di dunia
intelijen. Saat di Wamena, kepada penduduk
ia mengaku sebagai Arnold Smith. Pekerjaannya juga
berubah-ubah. Kadang dia mengaku
sukarelawan WHO, badan PBB yang menangani masalah kesehatan.
Sering juga ia mengaku
sebagai wartawan.
Dalam kunjungan yang ketiga, Aaron masuk lewat Vanimo, Papua
Nugini, 19 September 2000.
Dia menggunakan visa turis kunjungan wisata bernomor B.411.
Sebelumnya, pria kelahiran Utah,
14 Desember 1954, ini memang sudah biasa mengunjungi pelbagai
tempat di wilayah Indonesia:
Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ambon, dan Sulawesi.
Tentu, Aaron Ward cukup mengenal Indonesia. Alumnus Medical
Technician University of Hawaii
ini bahkan bisa bergaul mesra dengan warga masyarakat
pedalaman. Catatan di kepolisian
menyebutkan bahwa di Irian, Aaron ikut aktif di sebuah lembaga
swadaya masyarakat yang getol
memberikan advokasi kepada organisasi Papua Merdeka. Sebuah
sumber menyebutkan, sebelum
''bertugas'' di Indonesia, Aaron tercatat sebagai anggota
Angkatan Udara Amerika, yang bermarkas
di Hawaii.
Di mata polisi, aktivitas Aaron di Wamena tidak seperti turis.
''Karena gerak-geriknya
mencurigakan dan berindikasi sebagai agen asing, dia harus
diamankan untuk dideportasi,'' kata
Kepala Dinas Penerangan Polri Brigadir Jenderal Saleh Saaf.
Apakah Aaron terlibat dalam kerusuhan di Wamena? Polisi belum
memberi jawaban pasti.
''Keterlibatannya masih dalam penyelidikan. Kita harus
hati-hati dan jangan terburu-buru
memutuskan,'' kata Saleh. Jika salah menuduh, kata Saleh, bisa
saja hubungan diplomatik antara
Indonesia dan Amerika terganggu.
Kalau polisi dingin-dingin saja, suara keras datang dari Ketua
Komisi I DPR RI, Yasril Ananta
Baharuddin. Dengan tertangkapnya Aaron Ward Maness, kata
Yasril, makin banyak bukti bahwa
Amerika sedang melakukan intervensi terhadap Indonesia. ''Itu
juga makin membuktikan politik
ganda Amerika. Tidak hanya politik muka dua, muka sepuluh,'',
katanya kepada Rohmat Haryadi
dari Gatra. ''Kita harus buka kedok mereka,'' Yasril
menambahkan.
Campur tangan intel Amerika terhadap politik Indonesia memang
tertoreh sejak dulu. Salah satunya
adalah dukungan mereka terhadap pemberontakan PRRI-Permesta
pada tahun l958 untuk
merontokkan pemerintahan Soekarno (lihat: Jejak Sejarah
Subversi Amerika).
Tertangkapnya Aaron Ward Maness makin menambah panjang daftar
oknum yang dicurigai
sebagai intel asing. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Mohammad
Mahfud Mohidin menduga,
kerusuhan di Atambua, 5 September lalu, adalah hasil operasi
intelijen negara tertentu. Mahfud tak
menunjuk hidung. Cuma, sumber Gatra di Departemen Pertahanan
memastikan, yang dimaksud
adalah Australia.
Salah satu indikasinya adalah kehadiran Mayor Matthew D. Quinn
di Atambua, 23-25 Agustus.
Perwira combat inteligent dari Divisi I Royal Australian
Regiment, Townville, Brisbane, keluar
masuk kamp pengungsi. Seperti juga intel lain, pria berusia 35
tahun ini menyembunyikan identitas
aslinya. Kepada para pengungsi, kadang ia memperkenalkan diri
sebagai pengusaha, kadang
sebagai mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, yang sedang melakukan
riset.
Sebelum lontang-lantung ke Atambua, Matt Quinn adalah peserta
Sekolah Staf Komando TNI
Angkatan Darat, Bandung, angkatan ke-37 dan rampung Mei lalu.
Bisa dimengerti kalau Quinn
fasih berbahasa Indonesia. Sekitar April l999, Quinn juga
kelihatan di Dili.
Selama di Atambua, Quinn melakukan kontak dengan para
''agen''-nya. Pihak Uni Timor Asuwain
(Untas), wadah tunggal warga Timor Timur di pengungsian,
menduga bahwa jaringan Matt
Quinn-lah yang merancang huru-hara Atambua tersebut, termasuk
mengondisikan kematian staf
UNHCR --lembaga PBB untuk urusan pengungsi.
Tuduhan itu dibantah keras Kirk Coningham, Atase Kedutaan
Besar Australia di Jakarta. Matt
Quinn, katanya, berada di Indonesia atas nama pribadi. ''Ia
menyatakan tidak pernah ke Timor
Timur, apalagi ke Atambua,'' katanya kepada Gatra.
Toh, bantahan itu tak menyurutkan kecurigaan. Apalagi
sebelumnya, intel Australia juga sempat
kepergok ikut main di Timor Timur saat penentuan jajak
pendapat, Agustus dua tahun lalu. Pada
saat itu, Simon Hermes dan Peter Bartu, dua perwira intelijen
Australia, disusupkan sebagai staf
UNAMET (United Nations Assistance Mission for East Timor).
Lantas, Mayor Smith, pada 14
Agustus 1998 kepergok sedang menyuruh warga Kampung Turema,
Kecamatan Railako,
Bobonaro, menurunkan bendera Merah Putih.
Toh semua fakta itu dengan enteng dielakkan Pemerintah
Australia. Pada saat itu, Kedutaan Besar
Australia di Jakarta mengakui, ketiganya memang warga
Australia. Tapi, kegiatan-kegiatan itu
dilakukan atas inisiatif pribadi, bukan untuk kepentingan
intelijen Australia. Menteri Luar Negeri
Australia Alexander Downer dengan enteng malah menyebutkan
bahwa Mayor Hermes sudah
keluar dari dinas intelijen Australia.
Pihak asing memang selalu menampik kalau dituduh sedang
melakukan aksi intelijen di sini. Untuk
kasus Aaron Ward Maness, Kedutaan Besar Amerika di Jakarta
memang belum mengeluarkan
pernyataan resmi. Tapi bisa dipastikan, sebagaimana dikatakan
Menteri Mahfud, mereka bakal
membantah. ''Nanti Robert Gelbart (Duta Besar Amerika Serikat
untuk Indonesia --Red.) akan
berbicara bahwa tidak ada kaitan. Kita tunggu saja dalam satu
dua hari,'' kata Menteri Pertahanan
Mohammad Mahfud Mohidin. Ya, tapi mana ada maling yang ngaku.
_________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.
Share information about yourself, create your own public profile at
http://profiles.msn.com.