SURATKABAR.COM : 31 OKTOBER 2000
===========================
TERNYATA BANYAK ALUMNUS SMA GAGAP TERHADAP HITUNGAN
"1/2 DIBAGI 1/3". SUNGGUH IRONIS!
_________________________________________________________
Oleh : Nasrullah Idris <Bandung> - Taufan Marhaendrajana <Texas>
_________________________________________________________
Seperti kita ketahui, hitungan seperti "1/2 dibagi 1/3" sudah diajarkan
kepada anak sekolah sejak kelas IV SD (minimal), karena menyangkut sesuatu
yang terhubungkan dengan realitas kehidupan, yakni perhitungan pecahan. Ini
diberlakukan pada berbagai format kurikulum pendidikan untuk materi yang
terkait, sehingga boleh dikata hampir semua orang yang mampu melewati
jenjang SD telah dibekali perhitungan pecahan tersebut.
"1/2 dibagi 1/3" sebenarnya perhitungan yang sangat sederhana. Namun
begitu, hubungannya dengan fenomena keseharian tidaklah mudah secara
langsung didapatkan. Dalam hal ini diperlukan peran besar dari para guru
(dan pihak yang terkait) untuk menghubungkan fenomena keseharian yang mudah
dijabarkan (contoh: 1/2 kali 3) dengan perhitungan yang "lebih sulit"
korelasinya dengan fenomena keseharian (1/2 dibagi 1/3). Dengan demikian
siswa-siswa pada jenjang SD itu tidak hanya diberikan aturan atau formulasi
matematika tetapi perlu juga diberikan latar belakang kenapa formulasi itu
ada. Sehingga diharapkan kehadirannya bisa mencapai sasaran pengertian.
Selanjutnya menjadi model perhitungan dengan faktor kesulitan setingkat yang
tidak terlupakan sampai kapan pun, yang berarti telah menjadi bagian
kebudayaannya masing-masing.
Demikianlah hakikat dari tujuan kehadiran pengajaran Matematika kalau
dilihat dari pendidikan sebagai sarana pembebasan dan pemecahan. Jadi
terdidik maupun pendidik tidak hanya merasakan sekedar mekanisme simbol yang
sudah teridealkan, juga cerminan korelasi terhadap makna aplikasinya.
Namun untuk masalah "1/2 dibagi 1/3" ternyata tidak semua orang bisa
menghitungnya dengan cepat atau mudah. Malah terjadi di kalangan lulusan
SMA. Pilihlah seratus responden dengan usia 30-40 tahun di antara mereka
secara acak. Lalu ajukanlah soal tersebut dengan bijaksana agar tidak sampai
memberi kesan pelecehan terhadap kemampuan hitung mereka. Jangan kaget kalau
anda menemukan cukup banyak dari mereka "tidak bisa", "salah", atau "cukup
lambat" dalam menjawabnya. Sungguh ironis. Terlebih bila diketahui bahwa di
antara mereka banyak memperoleh nilai biru untuk mata pelajaran Matematika
dalam rapornya, yang secara kejujuran intelektual berarti memenuhi
persyaratan untuk dikatakan mampu. Seharusnya jangan sampai terjadi pada
satu responden pun.
Data ini peroleh berdasarkan pertanyaan langsung kepada beberapa
lulusan SMA secara acak pada waktu senggang, secara serius, atau di jalan.
Malah hal serupa pun pernah ditanyakan justru kepada sarjana. Walaupun
akhirnya ia bisa menjawab tetapi terkesan lambat.
Bukan itu saja. Juga berdasarkan analisis dan intuisi terhadap pola
pengajaran hitungan pecahan selama ini di mana masalah hubungan "pembagi"
dan "pembilang" cenderung tidak merangsang terdidik untuk memahaminya secara
total.
Referensi seputar karakteristik otak anak usia SD pun dari aspek
kedokteran dan psikologi pun dijadikan bahan pertimbangan analisis/intuisi.
Dikatakan bahwa kemampuan mereka memahami dan menyerap dasar suatu materi
matematika akan mengurangi resiko keterlupaan sampai mereka dewasa. Ini
mengingat memori otaknya masih rawan serta lebih mudah terbentuk.
Dari kesimpulan itu tentu bisa memperkuat data tersebut. Minimal
dijadikan warning terhadap : sejauh mana membuminya, mengkristalnya,
merakyatnya, atau integrasinya hitungan pecahan dalam masyarakat Indonesia?
Karena ini sekaligus bisa menjadikan ukuran peradaban Matematika itu
sendiri.
Saat Matematika mengalami perkembangan pesat dewasa ini melalui isyarat
sains/teknologi, kenyataannya masih banyak saudara kita yang tamatan SMA
belum mampu berintegrasi dengan berbagai perhitungan produk pengajaran SD.
Apakah karena itu pula sehingga banyak orang tua yang mengalami
kesulitan ketika si anak memintanya ikut menyelesaikan PR tentang hitungan
pecahan. Bisa jadi. Hanya demi mempertahankan kredibilitas intelektual di
mata anaknya maka dijadikanlah kata "sedang sibuk" atau "tidak sempat"
sebagai alat untuk menghindarinya. Kalau pun masih tetap memperhatikan
pendidikan anak dicarilah jalan keluarnya seperti dengan mendatangi guru
atau menyuruh les.
Bercerminlah pada para peserta program pemberantasan buta huruf.
Meskipun setiap siswa memperoleh sertifikat dengan penilaian yang bagus,
mereka tetap melakukan evaluasi, "Apakah saya memang sudah bisa membaca?".
Kesadaran akan ancaman yang ditimbulkan pada dirinya bila tidak bisa membaca
terhadap kehidupan menjadikan mereka tidak lagi memprioritaskan segala
bentuk penilaian administratif.
Kembali pada persoalan pokok.
Umumnya hitungan pecahan di bangku sekolah di Indonesia hanya "operasi
perhitungan simbol tanpa pengertian fisik". Entah sejak kapan kebiasaan ini
berlangsung. Lihat saja : penerangan jauh lebih banyak melalui penulisan
ketimbang peragaan.
Kalau minimnya peragaan dijadikan alasan rasanya kurang tepat. Toh
banyak benda bisa dijadikan untuk itu. Malah semua siswa hampir setiap hari
memegang benda : kertas, kueh, sampai pinsil. Kenapa nggak dimanfaatkan?
Rasanya guru mana pun bisa menyuruh setiap muridnya membawa benda tertentu
ke dalam kelas.
Apa karena dianggap tidak praktis seperti penulisan di buku tulis,
buku, dan papan tulis? Untuk jangka pendek boleh juga. Tetapi dampak jangka
panjangnya justru telah terjadi berbagai pemborosan pendidikan. Segmen
korbannya pun sungguh mengejutkan : para alumnus SMA.
Banyak siswa tidak mengetahui secara integrasi, tuntas, dan detail akan
hubungan bilangan pecahan dengan satuan. Ini sedikit-banyak bisa menimbulkan
kebingungan ketika menemukan hitungan bilangan bulat dengan hasil sama.
Mendingan bila dilanjutkan dengan banyak bertanya. Celakanya kalau "nrimo"
saja serta sifat ini terbawa sampai jenjang pendidikan lebih tinggi.
Terlebih bila para gurunya kurang memberikan kesempatan untuk menyalurkan
berbagai pertanyaan sampai mengerti benar.
Seperti kita ketahui hitungan "1/2 dibagi 1/3" dan "1/2 x 3"
menghasilkan bilangan sama. Tetapi secara psikologis mempunyai faktor
kesulitan berbeda. Para siswa akan merasakannya. Hanya mungkin tidak mereka
ucapkan mengingat keterbatasan perbendaharaan bahasa maupun kemampuan
verbal. Maklum, pengajaran Bahasa Indonesia saat itu belum mengarah ke sana.
Hal tersebut hendaknya dijadikan indikasi "faktor kesulitan" harus
menjadi perhatian serius. Karena ini akan mendorong upaya mencari alternatif
untuk mengimbanginya. Kalau siswa belum paham jangan hanya dituntut untuk
terus belajar. Tampilkan bentuk selain penulisan. Misalkan ya peragaan.
Kalau saja pemahaman terhadap hitungan seperti "1/2 dibagi 1/3" bisa
dicapai secara membumi akan membuat otak siswa untuk ingat sampai kapan pun.
Sekaligus menjadi bagian sarana esensial bagi kemampuannya dalam penelitian,
kalkulasi, dan penganalisaan di berbagai bidang kehidupan di mana ukuran
pecahan akan banyak terlibat di dalamnya. Sehingga proses pengambilan
keputusan mengalami efisiensi dan efektivitas.
Karena memang tugas pengajaran Matematika bukan sekedar memasok materi
kepada siswa. Juga merangsang mereka untuk mampu mengaplikasikannya pada
kondisi hitungan apa pun dalam ruang lingkup pecahan. Pemahaman terhadap
eksistensi pembagi-pembilang membuat otaknya bak pohon asli (kontiniu),
bukannya pohon plastik (statis).
Kami memberi contoh "1/2 dibagi 1/3" hanya untuk mengingatkan bahwa
kalau untuk masalah sepele itu saja, banyak alumnus SMA yang merasa gagap,
bagaimana dengan materi lanjutannya yang mereka peroleh di jenjang kelas
yang lebih tinggi? Bukan berarti mereka lulus karena menyontek. Secara
administratif pun memang sah. Hanya kalau mau intropeksi seharusnya mereka
malu, kenapa nilai biru pada ijasahnya tidak mencerminkan kemampuan yang
sebenarnya.
LATAR BELAKANG
Cukup banyak latar belakang sampai munculnya keironian tersebut. Kurang
perencanaan dalam penulisan buku pegangannya ikut memberi andil sangat
besar. Lihat saja penerbitan buku Matematika. Berapa banyak isinya dengan
tampilan kurang menarik. Artinya kurang mempertimbangkan faktor : artistik
lay out, ergonomis, maupun irama materi.
Terkadang jarak nomor soal/halaman terlalu dekat dengan isi materinya.
Malah ukuran dan jenisnya sama. Apa ini nggak memberikan minus point
terhadap psikologis siswa?Maka tidak heran bila anak SD lebih spontan
membeli kaset lagu atau komik cerita ketimbang buku pelajaran.
Untuk penerbit, mungkin karena mengejar target bisnis. Perencanaan lay
out dianggapnya menambah biaya produksi, sementara realitas pasar belum
mendukung, meskipun slogan misinya tidak berubah : "Ikut Mencerdaskan
Bangsa".
Penulis pun demikian. Mungkin karena royalti yang bakal diperolehnya
terasa minim, sehingga naskah yang diserahkan tidak mencerminkan perencaaan
irama materi.
Bisa juga karena kedua belah pihak memang tidak kompeten untuk hal
tersebut. Sehingga polanya mengikuti yang sudah ada. Bagi mereka yang
penting, sudah memenuhi persyaratan untuk dijadikan buku pegangan. Apalagi
kalau dasar produktivitasnya cenderung pada bisnis semata, tanpa
memperhatikan faktor industri secara serius.
Kita tidak bisa menyalahkan semuanya pada mereka. Kebijaksanaan
birokrat dalam pemerintahan tentang Matematika ikut menentukan apresiasi
"raja bagi semua sains" ini. Tidak perlu jauh dulu. Jarangnya diucapkan kata
"Matematika" dalam berbagai kesempatan pidato, ceramah, dan wawancara
memberi indikasi akan termarjinalkannya ilmu tersebut dalam peradaban
Indonesia.
Belum lagi indikasi yang sama melalui pandangan masyarakat terhadap
prospek masa depan pakar Matematika. Segmen karir ini belum memperoleh
penghargaan, dukungan moril, dan kesempatan semestinya. Tidak tertutup
kemungkinan alumnus jurusan ini memilih menjadi dosen bermotifkan pelarian
hanya karena tidak melihat prospek aplikasi realistisnya selain itu.
Sampai-sampai ada dosen dari PT terbaik di Indonesia yang mengisyaratkan
kepada kami bahwa Matematika sulit dijadikan alat untuk mencari duit.
Lingkaran itulah yang harus ditata kembali secara komprehensif yang
akhirnya bermuara pada keputusan strategis.
Berbagai pihak terkait harus aktif untuk menciptakan suasana kondusif
bagi apresiasi Matematika di bumi tanah air ini, terutama dari kalangan
akademis. Agar masyarakat nanti merasakan serta menikmati ilmu ini sebagai
sumber peradaban mengingat di dalamnya terkandung gudang jalan pintas bagi
solusi berbagai kalkulasi kehidupan. Hal ini mendorong mereka untuk mencari
arah kemanfaatan dari setiap kali memperoleh materi Matematika di bangku
sekolah. Bukankah orang pemilik warung baru mau membeli serta belajar
kalkulator setelah ia sadar bahwa alat itu akan banyak meringankan tugas
bisnisnya.
TIGA KECEPATAN
Harus kita akui bahwa salah satu kondisi masyarakat Indonesia ialah
keterbelakangan intelektual atau keminiman prestasi di bidang IPTEK.
Akibatnya kita tidak bisa melepaskan ketergantungan akan berbagai produknya
dari Barat.
Apakah harus demikian terus? Tentu saja tidak!
Kita sejak dini harus segera melangkah lebih jauh dan melompat lebih
efektif. Antara lain dengan merumuskan visi sebagai prioritas unggulan serta
didukung oleh program kongkrit dan langkag strategis. Termasuk berbagai
mitos conter produktif seputar Matematika.
Terutama menghadapi era globalisasi di mana kita akan benar-benar
dihadapkan pada faktor "Kecepatan Kalkulasi", "Kecepatan Analisis", dan
"Kecepatan Enginering". Kalau ingin tetap menjadi tuan rumah di negeri
sendiri di banyak bidang produksi ya kita harus melaksanakannya.
Untuk mewujudkan "Kecepatan kalkulasi" ini, diperlukan komputerisasi
formulasi-formulasi perhitungan dan metode/teknik perhitungan dalam segala
bidang. Untuk melakukan hal ini tentu dibutuhkan seseorang yang mempunyai
kemampuan matematika yang mantap untuk menjamin ketepatan dan keakuratan.
Begitu "Kecepatan Kalkulasi" ini sudah dapat dicapai dengan
"komputerisasi" maka "Kecepatan Analisis" dapat dicapai karena terfokusnya
perhatian pada upaya-upaya analisis. Demikian halnya para ahli hanya
disibukkan oleh memikirkan ide pembuatan produk tanpa disibukkan oleh
perhitungan-perhitungan yang kompleks. Pada kondisi ini "Kecepatan
Engineering" akan tercapai.
Di sini terlihat betapa pemahaman yang matematika yang mantap sebagai
media dalam menerangkan dan mensimulasi fenomena-fenomena alam merupakan
dasar yang sangat diperlukan dalam mencapai ketiga kecepatan di atas.
Menjamurnya kursus Aritmatika (Cempoa ala Jepang) di Jepang dewasa ini
dalam rangka melatih hitung dalam waktu beberapa kali lebih cepat secara
manual hendaknya direspon oleh pemerintah. Soalnya sampai kini masih di luar
kurikulum.
Walaupun ia lebih diarahkan kepada para siswa usia SD mengingat otak
mereka masih mudah dibentuk serta dirangsang, namun perhatian sejak dini
tetap harus diberikan demi invetasi SDM bangsa Indonesia masa depan
menghadapi era globalisasi. (Nasrullah Idris, bidang studi : Reformasi Sains
Matematika Teknologi, Bandung ; Taufan Marhaendrajana, sedang mengambil
program Doctor of Philosophy Degree in Petroleum Engineering, di Texas A&M
University, College Station, Texas, USA)