Rekan Ida dan rekan-rekan lain,

Saya mengerti akan kekhawatiran anda dan rekan-rekan lain
terhadap perkembangan diskusi antara saya dengan rekan
Irwan, dan saya juga menyadari bahwa adalah kurang etis
sampai keluarnya kata-kata 'seronok' di milis yang juga
banyak dibaca teman-teman lain ini. Untuk itulah saya telah
meminta maaf dalam tulisan saya terdahulu.

Khusus untuk rekan Ida, kelihatannya anda terlalu jauh
dalam menyimpulkan premis-premis yang ada sampai-sampai
menggeneralisasikannya ke jutaan orang di Indonesia.
Percayalah, saya hanyalah rakyat jelata yang tidak punya
kemampuan untuk menggerakkan Ambon, Aceh, Irian, dll.
Sedikit banyak saya juga tahu bagaimana sikap dan pendirian
rekan Irwan. Setahu saya, dia sangat konsisten dan concern
terhadap nasib bangsa dan rakyatnya. Dan yang terpenting,
saya masih bisa mengendalikan diri untuk memutuskan kapan
diskusi tsb perlu diteruskan dan kapan harus disudahi.

Beberapa bulan ini, saya lihat 'kevakuman' di milis ini
dengan langkanya diskusi dan debat-debat. Suatu hal yang
ironis sekali ditengah keterpurukan ekonomi dan keadaan
bangsa saat ini, sementara itu pelanggan milis ini adalah
kebanyakan calon-calon penerus bangsa yang sedang sekolah
di sekolah-sekolah terhormat, di luar negeri lagi.....
Bagaimanapun, diskusi dan debat akan memberikan latihan
berpikir dan analisis serta melontarkannya dalam bentuk
tulisan (Tentu saja diskusi dan debat yang
tanpa 'humiliation'.. hehehehe....... Tapi dikit-dikit
boleh juga 'kali ya......, buat nglatih mental.....).

Saya juga ingin bisa melihat teman-teman dari milis ini
nantinya bisa menjadi pemimpin-pemimpin bangsa kita yang
jago diskusi, debat, dan mumpuni. (Saya sangat sedih ketika
tadi malam melihat dialog kesehatan di Indosiar yang
dipandu oleh Wimar Witular dengan panelis Menteri
Kesehatan, Ketua Koalisi Kesehatan, Direktur salah satu
perusahanan, dan pekerja sosial. Wimar tidak menguasai
masalah, sehingga pertanyaan-pertanyaannya kurang jitu.
Menkes tidak bisa berdiskusi dan omongannya di awang-awang.
Materi yang di dialogkan arahnya nggak karuan. Dan yang
paling menyedihkan, suasana dialog, termasuk pertanyaan-
pertanyaan peserta dan peserta yang dipilih hadir, di set
up persis seperti pertemuan presiden Soeharto dengan
rakyatnya dahulu. Hal ini sangat-sangat berbeda dengan
dialog ekonomi dan politik yang selalu lugas, blak-blakan,
sangat mendasar, dan lebih kongkrit keluarannya.

Salam,
Budi
(tetap sebagai rakyat jelata dengan bubur ayamnya)

> Dear Rekan Budi dan Bang Irwan,
>
> Mungkin ada baiknya sikap saling tuding dan saling
memalukan di depan umum
> dihentikan. Bisa dibayangkan ketidaksanggupan bangsa kita
menyelesaikan
> masalah sendiri di tanah air. Contoh dua orang yang
beragumen seperti yang
> anda lakukan pun telah terjerumus dalam sikap-sikap
saling menjatuhkan. Bisa
> anda gambarkan jika jutaan orang yang berargumen.
hasilnya seperti di Ambon,
> Aceh, Irian, etc.
> Mungkin sudah saatnya kita menghindarkan diri dari
prilaku yang tidak
> mengakui saling pengertian dan tidak menghendaki saling
meninggikan derajat
> sesama manusia Indonesia.
>
> Mari kita belajar bersama. mungkin merendahkan hati atau
humiliation sangat
> penting untuk kita pelajari.
>
> wassalam,
>
> ida
>
>
> >From: "Budi H." <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: Indonesian Students in the US
<[EMAIL PROTECTED]>
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >Subject: Re: akurasi berita
> >Date: Sun, 12 Nov 2000 23:15:53 GMT
> >
> >Rekan Iwan,
> >
> >Sekarang saya sudah mengerti jelas dan tahu persis sikap
> >dan perangai anda dalam berdiskusi. Untuk itu, khusus
> >terhadap tulisan anda, saya akan tetap menggunakan kata-
> >kata 'semanis' yang anda gunakan.
> >
> > > Yang jelas, soal mengoreksi penggunaan kata yg kurang
> >tepat
> > > di milis ini bukan kali ini saja saya lakukan. Walau
sudah
> > > beberapa kali, tapi tetap saja ada yg kurang
> >memperhatikan.
> > > Kali ini, kebetulan anda saja yg kena.
> >
> >Adalah hak anda untuk menjadi pahlawan atau polisi di
milis
> >ini meskipun nggak ada seorangpun yang mengangkat atau
> >setuju. Pingin ngetop ya...??? Sudah itu maksa lagi....
> >Kalau anda menyadari bahwa anda sendiri tidak sempurna,
> >lalu kenapa anda memaksakan agar saran anda untuk
dituruti?
> >Apakah ini pahlawan/polisi milis yang bijaksana atau
malah
> >egois....??
> >
> > > Ngomong2 soal simpatik2an yg saya kurang mengerti
benda
> > > apaan itu, saya jadi ingin tahu tulisan simpatik itu
yg
> > > seperti apa sih kriterianya?
> >
> >Saya nggak perlu nanggepin yang ini. Boleh saja khan saya
> >nggak ngreken pertanyaan anda.
> >
> > > Rekan Budi, saya ngga tahu dendam apa yg anda miliki
> >kepada
> > > saya sampai perlu menulis seperti di atas. Padahal
saya
> > > sudah cukup lama tidak menulis di milis ini.
> >
> >Saya alergi terhadap beberapa tulisan anda (kronis)
seperti
> >juga anda alergi terhadap tulisan saya.
> >
> > > Kritik yg saya lakukan ke anda adalah suatu yg benar.
> >
> >Inilah yang membuat saya alergi. Omongan seprti ini
adalah
> >sangat langka di perguruan tinggi.
> >
> > > Semoga hal ini bisa jadi masukan bagi rekan2 lainnya.
> >
> >Gaya sok ngajarin ini juga nggak enak dibaca dan
(maaf)...
> >naif.
> >
> >Salam,
> >Budi
> >
> >
> >
> >----------------------------------------------------
> >This email was sent using http://webmail.cbn.net.id/
>
>
____________________________________________________________
_____________
> Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at
http://www.hotmail.com.
>
> Share information about yourself, create your own public
profile at
> http://profiles.msn.com.
>


----------------------------------------------------
This email was sent using http://webmail.cbn.net.id/

Kirim email ke