Kompas
Rabu, 15 November 2000


BEGITU lahir-begitu banyak orang sering mengatakannya-orang Indonesia
keturunan Tionghoa sudah langsung pintar berdagang dan pandai pula mencari
duit. Dan, lagi-lagi kata orang, mereka juga sering tidak menunjukkan
kegairahan besar untuk mau bergaul dengan orang lain di luar kelompoknya.
Sebaliknya (masih kesan orang), mereka cenderung berperilaku eksklusif;
hanya mau bergaul secara intens dalam kelompoknya sendiri, demikian
seterusnya.Mitos-mitos tentang karakter-karakter tipikal orang Indonesia
keturunan Tionghoa inilah yang hingga kini masih tertanam kuat di benak
kita. Bahkan, bisa jadi, mitos-mitos itu juga masih hidup subur dan tertanam
dalam-dalam di lubuk kesadaran kalangan warga Indonesia keturunan Tionghoa
sendiri.

Pertanyaannya, lalu adakah sesuatu yang salah dalam perjalanan sejarah kita
sebagai bangsa, hingga mitos-mitos itu bisa begitu hidup dan tertanam lekat
di benak kita sampai sekarang?

Atas pertanyaan sepenting ini, Prof Daniel S Lev PhD (guru besar emeritus
Ilmu Politik Universitas Washington) lalu menarik akar dalam sejarah kita
sebagai bangsa. Dalam seminar internasional tentang "Orang
Indonesia-Tionghoa: Manusia dan Kebudayaannya" di Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) Jakarta, awal bulan ini, persoalan tersebut ia paparkan
dengan cara yang cukup menarik. Lev ingin menunjukkan betapa sistem politik
minoritas di masa lalu telah menempatkan warga Indonesia keturunan Tionghoa
itu sebagai "warga minoritas" di tengah kelompok "masyarakat mayoritas"
Indonesia yang terdiri dari berbagai kelompok etnis lainnya.


***
GELOMBANG migrasi orang-orang Tionghoa secara individual dari daratan Cina
ke berbagai pelosok wilayah di seluruh Indonesia, telah berlangsung lama dan
itu terjadi jauh sebelum VOC datang. Itu pun, kata Lev, tidak pernah
dianggap aneh, berbahaya, atau merupakan satu kejadian luar biasa bagi warga
lokal yang menerima kehadiran "tamu-tamu asing" itu.

Bahkan menurut sinolog dan antropolog Prof Leonard Blusse dari Universitas
Leiden, Belanda, selalu terjadi proses adaptasi damai antara kelompok
pendatang dari daratan Cina ini dengan warga setempat. Kalaupun pernah
terjadi konflik antarmereka sepanjang proses adaptasi sosial itu, begitu
keyakinan Lev, itu adalah hal biasa. Yang pasti, umumnya kedatangan
orang-orang Tionghoa dari daratan Cina ini pernah tidak ditolak, dikucilkan
oleh masyarakat lokal, atau kemudian dijadikan kambing hitam dan dihantam
terus-menerus seperti yang belakangan terjadi.

Pendulum sejarah memang akhirnya berbelok arah. Terjadi pemisahan
sosial-politik antara warga Indonesia keturunan Tionghoa dengan masyarakat
setempat. Ini terjadi, terutama sejak Pemerintah Belanda mulai menerapkan
sistem politik minoritas, yang sebenarnya tidak banyak berbeda dibandingi
sistem politik sama yang dijalankan oleh Pemerintah kolonial bangsa-bangsa
lain di masing-masing daerah koloninya di seluruh dunia.

Politik minoritas ini diterapkan, kata Lev, dengan tujuan-tujuan khusus.
Selain untuk menciptakan struktur sosial-ekonomi yang aman dan efisien,
politik minoritas yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda itu
dimaksudkan untuk menepis peluang terbentuknya kelas menengah di antara
masyarakat "pribumi". Mereka ini adalah kaum pedagang pribumi yang dianggap
sangat potensial bisa mengancam kekuasaan Belanda di Indonesia. Demi tujuan
itu, dirangkullah para pejabat lokal-seperti para sultan di Jawa dan Raja di
luar Jawa- oleh pemerintah kolonial Belanda dalam sebuah aliansi politik.

Pada saat bersamaan, guna mengisi kevakuman tiadanya kelompok
pedagang-posisi kelas menengah yang tidak diminati orang-orang Belanda-lalu
sengaja diciptakanlah (dengan banyak paksaan) semacam persetujuan dan
kontrak dengan kelompok minoritas Tionghoa. Sejak itu, mulai riil berlaku
sistem politik minoritas terhadap warga Indonesia keturunan Tionghoa yang
anehnya hal itu tak berlaku bagi warga keturunan Arab atau kelompok etnik
lainnya.

Sistem politik minoritas ini belakangan telah menimbulkan implikasi
sosial-politik serius berkaitan dengan citra negatif tentang masyarakat
Tionghoa di Indonesia. Itu termasuk komentar-komentar bernada peyoratif
berupa mitos-mitos yang salah perihal karakter khas masyarakat keturunan
Tionghoa.

Yang paling tragis tentu saja, tendensi masyarakat umum yang dengan mudahnya
menohok kelompok minoritas Tionghoa ini sebagai pangkal dan sumber segala
masalah. Ini tak mengherankan, kata Lev, "Karena sejak awal mereka sudah
sering dianggap sebagai sumber segala masalah alias bisa dengan mudah pula
bisa dijadikan kambing hitam bila terjadi sesuatu," tandasnya.


***
KERUSUHAN Mei tahun 1998 silam, terutama di banyak tempat di Pulau Jawa,
bagi banyak orang telah menanamkan kesan kuat betapa insiden sosial ini
tampaknya disengaja untuk bisa menjadikan warga Tionghoa sebagai korbannya.
Menurut pengamatan Lev, peristiwa ini merupakan contoh nyata perihal telah
berkembangnya rasa sentimen masyarakat umum terhadap eksistensi warga
minoritas ini.

Peristiwa untuk menyudutkan kelompok minoritas ini bukan yang pertama kali
terjadi di Indonesia. Di tahun 1740, VOC bahkan pernah mengerahkan
orang-orang Belanda dan Jawa untuk melakukan tindakan pembunuhan massal
(massacre) terhadap kelompok minoritas ini. Dalam peristiwa itu korban tewas
tercatat tak kurang 10.000 jiwa. Aksi yang disertai pembakaran rumah-rumah
milik warga Tionghoa, secara massif dari Jakarta hingga Semarang, rasanya
logis mengatakan bahwa sejak dulu kelompok minoritas ini telah terbiasa
untuk selalu disudutkan, dijadikan kambing hitam, dan menjadi sasaran
kemarahan massa.

"Ribuan orang Tionghoa tewas dalam serangan ini yang besar kemungkinan juga
karena disulut oleh rasa sentimen ekonomi. Lebih jauh, peristiwa ini semakin
meningkatkan suatu proses terjadinya kelompok minoritas seperti dalam
bentuknya sekarang," kata Lev.


***
KESALAHAN sejarah di masa pemerintahan kolonial Belanda ternyata berlanjut
kembali di era pemerintahan Orde Baru. Lebih menyedihkan lagi, ungkap Lev,
tekanan politik dan sosial oleh penguasa Orde Baru terhadap kelompok
minoritas ini semakin intensif. Selain partisipasi dalam politik praktis
diingkari dan bahkan sama sekali diasingkan dari jajaran birokrasi
pemerintahan, kaum minoritas ini juga begitu rentan mendapat cap-cap jelek.
Yang terburuk tentu saja menjadikan mereka sebagai sumber segala masalah
atau kambing hitam.

Sementara, ketergantungan mereka diintensifkan pada ling-karan
kekuasaan-terutama menyangkut soal jaminan keamanan, perlindungan, dan
proteksi ekonomi-pada saat yang sama mereka tanpa henti menjadi "sapi perah"
ekonomi bagi kepentingan kekuasaan dan birokrat. Tak heran bila di tahun
1970-an muncul istilah cukong untuk menyebut orang-orang Indonesia keturunan
Tionghoa kaya raya yang sering bertindak sebagai "kasir" bagi kepentingan
aparat dan birokrat.

Oleh karena itu, tak terlalu mengherankan kalau di kemudian hari-terutama
karena proteksi dan hak-hak monopoli perdagangan-warga minoritas Indonesia
keturunan Tionghoa ini lalu menjadi sungguh-sungguh terampil mengelola
bisnis perdagangan. Hal ini memang sejak dulu telah mendapat "restu" dari
pemerintah kolonial Belanda; sebuah kebijakan politik yang rupanya berlanjut
terus dan makin massif di era pemerintahan Orde Baru.

"Sedari awal, kelompok minoritas Indonesia keturunan Tionghoa ini telah
resmi diizinkan bisa mencari nafkah secara bebas di dunia bisnis dan bahkan
malah boleh menjadi kaya juga...," ungkap Lev.

Ujung-ujungnya, lalu muncul berbagai mitos yang salah tentang kelompok
minoritas ini. Taruhlah itu anggapan umum di kalangan warga mayoritas
"pribumi", yakni anggapan bahwa orang-orang Tionghoa ini sejak dari sono-nya
sudah pandai berdagang dan cari duit, serta tidak berbakat di bidang
lainnya, juga tidak mau bergaul dengan kelompok masyarakat lain, dan
seterusnya.

Padahal, di balik semua itu, dalam kontrak dan persetujuan implisit yang
dipaksakan pemerintah kolonial Belanda terhadap kelompok minoritas ini
selalu tersembunyi satu persyaratan yang kurang lebih berbunyi begini:
"Kalau ada apa-apa yang terjadi, yang (harus) disalahkan adalah (kelompok)
minoritas dan ini terjadi di setiap wilayah koloni di mana-mana. Persyaratan
itu hingga sekarang masih ada," ungkap Lev.

Cap-cap jelek itu makin menjadi-jadi di era Orde Baru. Ada perubahan
signifikan atas semula yang disebut Republik Rakyat Tionghoa (RRT) harus
diubah menjadi Republik Rakyat Cina (RRC). Itu membawa konsekuensi serius,
karena kebijakan politik asimilasi lalu juga mengharuskan sebutan "Tionghoa"
harus diubah menjadi "Cina", yang di sini tanpa keraguan sedikit pun sangat
bernuansa penghinaan atau merendahkan.

Begitu kelompok minoritas ini semakin tertekan dan terisolasi, maka dengan
mudah pula rezim Orde Baru lalu bisa "menghidupkan" kembali sejumlah
persyaratan kontrak dulu antara kelompok minoritas ini dengan pemerintah
kolonial Belanda. Dari situasi inilah lalu muncul istilah cukong seperti
dimaksudkan di atas.

Rupanya ada kesamaan cara pikir penguasa kolonial Belanda dengan penguasa
Orde Baru; mereka sama-sama ingin menjadikan warga Tionghoa ini sebagai
warga minoritas yang hidup di atas menara gading. Saat bersamaan mereka juga
dijadikan kelompok pebisnis profesional yang sewaktu-waktu harus bisa
dimanfaatkan bagi kepentingan penguasa. Praktik politik minoritas ini
nyata-nyata bertujuan agar jangan sampai tercipta kelas menengah "pribumi"
yang potensial mengancam kekuasaan Orde Baru.

Dengan tergantungnya warga minoritas ini kepada penguasa dalam masalah
jaminan keamanan dan proteksi (dagang), maka kekuasaan bisa dengan mudah
dimanfaatkan bagi kepentingan kekuasaan seperti dengan adanya kewajiban
"setoran". Dengan kata lain, para pedagang Tionghoa itu bisa diperas
terus-menerus. Ini bisa berlanjut terus, hanya apabila warga Tionghoa ini
tetap hidup dalam kerangka isolasi sosial dan jangan sampai terjun masuk ke
dalam politik praktis dengan menjadi politisi atau anggota parlemen.

Bila akhirnya lalu muncul budaya suap, main uang di bawah meja, lagi-lagi
kelompok minoritas inilah yang akhirnya dipersalahkan oleh masyarakat.
Mereka, katanya, memang telah menjadi terbiasa dengan main sogok, paling
tidak begitu cap yang seakan-akan menuduh kelompok minoritas ini sebagai
biang keladi tradisi budaya korupsi. Amat jarang, misalnya, kita mau dengan
jujur mengatakan bahwa sesungguhnya para aparat dan pegawai birokrasi itulah
yang sejatinya lebih mata duitan, sehingga mau tak mau lalu memeras kelompok
minoritas ini yang tengah terjepit kepentingannya. Dari sinilah, mitos-mitos
yang salah tentang orang-orang Tionghoa itu semakin terkukuhkan lagi.


***
RANGKUMAN hasil diskusi kelompok dalam seminar ini secara tegas
menyimpulkan, semua mitos tentang masyarakat Tionghoa di atas itu adalah
tidak benar. Alih-alih selalu berkutat pada persoalan ingin menjadikan
kelompok minoritas ini sebagai "sasaran tembak", jauh lebih baik mau
mengembangkan sikap positif. Sebaiknya kita harus berani membedah peran
penting yang pernah dilakukan sejumlah tokoh orang Tionghoa-seperti Kapten
John Lee-dalam sejarah pergerakan nasional menurut proporsinya.

Hal itu perlu dilakukan, tambah Mely Tan selaku ketua panitia pengarah,
karena kini justru tengah berlangsung hal-hal positif yang mendukung proses
terciptanya-katakanlah-"identitas" keindonesiaan kita sebagai bangsa. Proses
itu semakin mengkristal di kalangan anak-anak muda, di mana proses
konvergensi (pemusatan pandangan menuju satu arah yang sama) antarkawula
muda-baik dari kelompok pribumi maupun nonpribumi-semakin kencang.

"Masyarakat perlu mendukung proses itu agar proses pembentukan kesadaran
baru menyangkut identitas diri baru mereka semakin nyata. Itu penting,
karena kalangan muda ini sekarang lebih suka menyebut dirinya orang
Indonesia tanpa disertai embel-embel apa pun," ungkap Mely di akhir seminar.

Menurut dia, kalaupun orang lalu menuntut harus ada "identitas" tambahan
yang sifatnya lebih bisa menerangkan halnya, katakanlah itu dari keturunan
etnis mana dia berasal, hal itu haruslah hanya merupakan tambahan saja.
"Jadi tidak perlu ada pretensi politik apa pun di sini," tandasnya.

Jelas, seruan seminar ini juga mengartikulasikan harapan besar agar jangan
ada lagi mitos-mitos dan persepsi salah tentang warga Indonesia keturunan
Tionghoa ini. (Mathias Hariyadi)







_______________________________________________________
Tired of slow Internet? Get @Home Broadband Internet
http://www.home.com/xinbox/signup.html

Kirim email ke