Lagi-lagi Indonesia mengalami kekalahan politik. Shihab akhirnya ingin dolan mengunjungi Jembatan Sydney, dan akan ditemui oleh menlu Aussie Downer yang belum lama lalu menyampaikan bahwa dia mendukung gerakan separatis papua. Yang lebih menyedihkan Shihab tidak akan dapat menemui raja bromocorah Howard. Sangat berlainan dengan Gus Dur yang selalu merendahkan diri tetapi tidak sadar bahwa tindakannya merendahkan martabat bangsa. Gus Dur berkali-kali menerima Downer yang cuma menlu secara resmi. Indonesia tak ubahnya seperti negara kecil di Afrika yang turis asingpun bisa bertandang. Lagi-lagi misi Indonesia adalah mengemis agar Australia mendukung integritas wilayah Indonesia. Suatu usaha yang sama sekali tidak memandang sejarah bagaimana Aussie selalu menohok dari belakang. Sejak penampungan tentara NICA sebelum diseberangkan ke Indonesia muda sampai kasus Timtim. Ibaratnya Shihab dan Gus Dur ingin janji dari tukang ingkar janji. Lagipula integritas bangsa tentunya harus dijaga sendiri. Mengapa pula tergantung sama negara kecil yang jumawa karena jadi kacung AS. Bacalah apa yg dikatakan oleh Howard di artikel di bawah ini. Demikian jumawanya si Howard yang ingin presiden Indonesia menghadap dan membayar upeti kepada susuhunan Aussie. Inilah rapor Shihab: - melaksanakan perjanjian dengan GAM - menjadi antek Aussie dengan berusaha menjalin hubungan khusus dengan Howard. - menjadi corong Gus Dur yang mengijinkan penaikan bendera OPM. - menjadi corong Gus Dur yang mengijinkan penaikan bendera GAM. Singkat kata, Shihab sudah salah dari awal. Sebagai menlu kok mengurusi urusan dalam negeri. Dalam arti Indonesia seakan-akan berurusan dengan pihak luar. GAM dan OPM adalah pihak dalam negeri yang harusnya diurusi oleh polisi. Anjasmara ------------------------------------- Selasa, 5 Desember 2000 Pertemuan Menteri Australia-Indonesia 8 Desember Jakarta, Kompas Meski ada larangan pergi ke luar negeri selama bulan Desember dari Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, pertemuan para menteri Australia dan Indonesia akan berlangsung Jumat (8/12) di Australia. Pertemuan itu merupakan pertemuan pendahuluan sebelum kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid ke Australia akhir Januari atau awal Februari depan. Menanggapi pernyataan Pemerintah Indonesia itu, Perdana Menteri Australia dikabarkan menyambut gembira. Ia berharap pembicaraan itu akan berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Sedangkan Menteri Luar Negeri Alexander Downer berharap pertemuan akan berlangsung hari Kamis dan Jumat (7 dan 8/12). Soal tanggal pertemuan, Menko Perekonomian Rizal Ramli usai menghadap Presiden di Istana Merdeka hari Senin (4/12) menegaskan, "Acaranya sendiri tanggal 8 Desember. Berangkat tanggal berapa, ya nanti kita lihatlah." Howard sendiri tampak tak mau banyak memberikan komentar soal rencana pertemuan ini. "Saya memahami, dan saya menggunakan ucapan saya dengan sangat hati-hati, karena sejumlah hal sedikit berubah, hanya ada para pejabat senior dan melibatkan Menteri Luar Negeri, tetapi marilah kita tunggu," katanya kepada wartawan. Dari pihak Indonesia, menteri yang akan pergi ke Australia antara lain adalah Menlu Alwi Shihab, Mendiknas Yahya Muhaimin, Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan Sarwono Kusumaatmadja, dan Menperindag Luhut Panjaitan. Sedangkan dari pihak Australia dipimpin Menlu Alexander Downer, yang akan didampingi oleh Menteri Perdagangan Mark Vaile dan Menteri Perindustrian Nick Minchin. Titik terendah Menurut Rizal, hubungan Indonesia dengan Australia memang berada pada titik terendah. "Jadi, ada permintaan khusus dari Pemerintah Australia supaya hubungan ini ditingkatkan dan diperbaiki. Dan, ini sudah dikonsultasikan kepada Wapres," tegas Rizal. Juru Bicara Kepresidenan Wimar Witoelar menambahkan, kunjungan Presiden ke Australia akan berlangsung akhir Januari atau awal Februari menjelang pembukaan parlemen di Canberra. "Kalau pertemuan para menteri itu tidak diadakan sekarang, nanti kunjungannya tertunda atau kunjungannya kurang persiapan," ujarnya. Wimar mengatakan, urusan Indonesia dengan Australia tidak hanya sebagai pada persoalan politik, tetapi juga di bidang lain. "Pertemuan para menteri itu juga menyangkut industri, perdagangan, investasi, pendidikan dan kebudayaan, selain tentu pembicaraan menyangkut hubungan luar negeri," ujarnya. Apakah pertemuan ini tidak mematahkan kebijakan Wakil Presiden, Wimar menjawab, "Sama sekali tidak, karena semua keputusan dibuat bersama (Presiden) dan Wapres." Rizal menegaskan, dalam pertemuan para menteri nanti Indonesia mengharapkan bisa membahas hal-hal konkret yang bisa bermanfaat bagi kedua negara. "Kemarin malam ada rapat para menteri dan tim teknis, dan ada usulan yang konkret. Kita harapkan bisa meningkatkan manfaat bagi Indonesia maupun Australia," ujarnya. Pertemuan yang semula dijadwalkan bulan Oktober itu, dan telah dibatalkan beberapa kali oleh Jakarta, kemungkinan juga akan membicarakan rencana kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid ke Australia. Presiden telah empat kali membatalkan kunjungannya ke Australia tahun ini atas desakan dari dalam negeri, menyangkut peranan pasukan Australia dalam memulihkan perdamaian di Timor Timur tahun lalu. Selain masalah Timor Timur, pertemuan itu juga akan difokuskan pada masalah seperti konflik yang bertambah buruk di Irian Jaya, serta kekhawatiran Canberra bahwa Indonesia dijadikan batu loncatan untuk imigran ilegal ke Australia. (mba/gun/osd/AFP/mk) _____________________________________________________________________________________ Get more from the Web. FREE MSN Explorer download : http://explorer.msn.com
