Rekan-rekan yth.,

Sungguh satu hal yang mengejutkan ketika berita malam (24 Desember) dan
berita-berita esok harinya dengan saratnya memberitakan terjadinya berbagai
pengeboman di lingkungan gereja-gereja di Indonesia di tengah damai dan
amannya (secara umum) keadaan di Indonesia di bulan ramadhan ini. Dan
sungguh sangat biadab perbuatan ini karena telah mengorbankan nyawa dan
harta banyak orang yang sedang tulus berniat untuk mengagungkan Tuhan.

Perbuatan ini jelas ada perencana nasionalnya, mengingat modus operandinya
sama dan waktunya serentak di berbagai wilayah. Ketika pertama kali berita
tsb diturunkan di TV, dengan rasa miris saya berpikir, jangan-jangan
beberapa hari lagi adalah giliran mesjid-mesjid yang akan diledakkan untuk
menyempurnakan rencana mengadu domba Kristen-Muslim ini. Saya menyesal punya
pikiran yang jelek ini, namun, cara-cara perencana dan pelaku pengeboman tsb
terlalu transparan untuk ditebak.

Esok hari 25 Desember, saya berharap para penggede di Indonesia untuk muncul
dan menyerukan sesuatu di media massa. Harapan ini terlaksana ketika siang
harinya presiden muncul di TV dengan himbauan yang menyejukkan, dengan
menyatakan keprihatinan yang besar dan mengharapkan kesabaran untuk tidak
terpancing kepada isu SARA yang coba diangkat oleh para pelaku pengeboman.
Seruan ini juga diikuti oleh seruan berbagai tokoh agama, baik yang muslim
maupun yang kristen. Bagaimanapun, hal ini cukup menenteramkan hati.
Demikian juga ketika saya berhasil menangkap pandangan beberapa orang
(muslim dan kristen) di lingkungan sekitar, yang rata-rata menganggap bahwa
ini adalah suatu rekayasa adu domba antara umat beragama. Namun, sayang
sekali ditengah upaya berbagai pihak untuk tetap menjaga keutuhan ini
dinodai oleh ucapan ketua DPR Akbar Tanjung yang selain mengutuk para
pelaku, juga mengecam pemerintahan Gus Dur yang dianggap tidak serius
menjaga keamanan di Indonesia. Bagi saya, kalimat terakhir tsb adalah tidak
tepat waktu diucapkan pada saat ini. Yang diperlukan bangsa kita di
saat-saat ini adalah kata-kata yang menyejukkan dan jauh dari rasa
permusuhan. Kenapa orang sekaliber Akbar Tanjung kok, bagi saya, ngomong
sangat naif dan tidak bijaksana serta mengumbar rasa kebencian disaat yang
cukup genting ini?
Apa dia mengetahui rencana pengeboman tsb?

Buat rekan-rekan yang berada di luar negeri, janganlah terlalu khawatir,
karena nampaknya 'lemparan bola api' oleh para perusuh tsb telah cukup
disadari tujuannya oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Mudah-mudahan, ke
depan ini tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.

Selamat memperingati hari raya dan mohon maaf setulusnya.

Salam,
Budi Haryanto

Kirim email ke