Dear Cak Pohan,
Tentu saja boleh join main tennis-nya. Mampirlah ke Depok kalau lagi ke JKT.
Ada indomie telor yang enak sekali buat sarapan di situ, dan tahu
gorengnya....... wehwehweh .... nggak bisa diberentiin makannya...
(uuueeennnnnaakkk gila...).
Dijamin, obrolan yang terjadi adalah lemparan anekdot-anekdot paling
mutakhir dan tentu saja bermakna dalam.
Tempo terbaru kelihatannya cukup jeli mengidentifikasi dan menganalisis
situasi perpolitikan di Indonesia.
Soal bangun-membangun kastil, biarlah rekan Ida dan Yohanes menggabungkan
pandangannya. Sampai saat ini teman-teman di seputaran JKT masih merasakan
bahwa hukum = HUallah mak Kok Uang Mulu'. Polisi di setopan juga masih
nawarin 'damai', TKI di bandara juga masih 'dikerjain' petugas imigrasi,
belum lagi sabun mandi dan shampoo yang dikenai pajak barang mewah....
Kita tunggu saja hasil class action pertama di Indonesia yang dilakukan YLKI
terhadap kenaikan sepihak gas elpiji oleh Pertamina. Mungkin akan bisa
sedikit memberikan gambaran model 'kastil' seperti apa yang layak dibangun
di republik kita ini.
Salam,
Budi
(penggemar tahu goreng ibu lapangan tennis UI).
-----Original Message-----
From: Indonesian Students in the US [mailto:[EMAIL PROTECTED]]On
Behalf Of Ramadhan Pohan
Sent: Monday, February 12, 2001 8:18 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Artikel Reflektif Notrida
Cak Budi,
Sorry, aku juga jadi bingung, kayaknya ada gangguan teknis di URL nya.
Lain kali, tak bikin lengkap saja ya.
Oya, di bawah ini ada tanggapan Yohanes Sulaiman atas Notrida, dan juga
dimuat di Jawa Pos.
Bud, ente ente maen tenis dengan kolega dosen Depok ya?
Kalau saya sudah balik, ingin ikutan ah.
salam,
rap
##