Konflik Etnis Sama Saja Dengan Memporakporandakan Jaringan Silaturahim Storyby Nasrullah Idris 02/03/2001 (20:00) BANDUNG (SuratkabarCom) - Hubungan penduduk antar daerah di Indonesia tidak bisa dipandang sekedar "sebangsa, setanah air, dan sebahasa". Tetapi, sebagai dampak dari persatuan dan kesatuan yang sudah tercipta sejak lama, juga "jaringan silaturahmi" yang terbentuk dari Sabang sampai Merauke. Apakah itu karena "perpindahan penduduk antar daerah" maupun "perkawinan warga antara daerah". Bukankah ini berarti meningkatkan mobilisasi kesadaran "jaringan silaturahim" Jadi kalau di negeri ini sampai terjadi disintegrasi, yang berlanjut dengan terbentuknya negara-negara baru, sama saja dengan memporakporandakan jaringan tersebut. Konsekwensinya akan sangat jelas. Apalagi kalau gejolak sosial yang tumpang-tindih. Tidak hanya terbatas pada adanya gelombang sentimen seputar teritorial, juga protes dari mereka yang jaringan silaturahimnya terancam rusak, khususnya dari mereka yang lahir hasil perkawinan campuran. Bukankah ini merupakan benih bagi munculnya perang saudara? Apalagi kalau dirasakan pula oleh para elit yang kompeten untuk memobilisasi massa. Sering kita dengar bahwa silaturahmi tidak mengenal batas wilayah negara. Tetapi selama berlakunya tradisi kenegaraan, yaitu sesuatu yang terdiri dari wilayah, penduduk, dan pemerintahan, teori tersebut tidak selalu mudah dilaksanakan. Minimal ada dorongan kuat, agar terbentuknya silaturahmi disertai persamaan kewarganegaraan. Lain soal bila negara di dunia ini hanya satu. Jadi organisasi level internasional semacam PBB, Non Blok, dan ASEAN tidak diperlukan. Tetapi apakah mungkin? Taroklah ya! Kapan itu akan terjadi? Paling juga saat semua pikiran manusia tanpa kecuali adalah sama. Mimpi! Bagaimana pun kuatnya cinta dua personal, tetapi kalau kewarganegaraannya berbeda karena disintegrasi, maka tidak terhindarkan lagi, perasaan adanya yang tidak sempurna akan muncul pada dirinya masing-masing. Memang kalau ditanya masalah tersebut, mereka mungkin saja akan berkomentar yang nadanya tidak mengaitkan cinta dengan kewargenegaraan. Tetapi yakinlan, di bawah alam sadarnya sedikit-banyak timbul juga keinginan untuk segera menyamakannya. Kita hendaknya bisa belajar dari kejadian di Jerman, yaitu saat pecah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur, yang dampaknya begitu luas terhadap seluruh aspek kehidupan, khususnya jaringan silaturahmi rakyatnya. Berapa banyak dari mereka yang tidak bisa lagi berkomunikasi dengan orangtua sampai saudaranya untuk sekian lama karena dipisahkan Tembok Berlin. Bagi kaum melankolis akan sungguh menyakitkan kalau melihat pirsawan TV tiba-tiba menangis histeris karena melihat familinya yang sudah lama tidak bersua masuk dalam visualisasi pemberitaan. Mereka itu adalah korban permainan dari elit politik yang sedang berkuasa saat itu, yang masing-masing didukung oleh pemenang Perang Dunia II. Dengan tangan besinya, rakyat Jerman dipecah tanpa memikirkan konsekwensi sosialnya di kemudian hari. Memang sekarang sudah bersatu. Tetapi berapa besar biaya dan lama waktu harus yang dihabiskan untuk merehabilitasinya. Tidak hanya pembangunan fisik, juga etos kerja, wawasan pikiran, sampai kultur. Belum lagi trauma akibat pemutusan silaturahmi. Sampai detik ini masih ada warga eks Jerman Barat terus minta kepastian tentang keberadaan keluarganya di eks Jerman Timur melalui instansi pemerintah. PERSATUAN & KESATUAN Mencintai Indonesia berarti menyadari dan merasakan negeri ini sebagai kebanggaan dan kehormatan, sekaligus kepemilikan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Dengan sendirinya akan berusaha untuk tidak mempermalukan bangsa sendiri. Sehingga terdoronglah untuk menjaga persatuan dan kesatuan, yang antara lain dengan mengakui kelebihan dan kekurangan setiap daerah dibandingkan dengan daerah asalnya. Mental seperti ini gilirannya akan menganggap warga dari daerah mana pun dalam wilayah Indonesia sebagai saudara : sebangsa, setanah air, dan sebahasa. Bukankah ini senjata ampuh untuk menghindari disintegrasi bangsa? Kalau kita hanya melihat perbedaan, titik akhirnya adalah perpisahan dan kehancuran. Sebaliknya kalau persamaan, hasilnya apalagi kalau bukan persatuan dan kesatuan". Jadi biarkanlah perbedaan itu berlangsung sebagai modal keragaman budaya bangsa. Justru persatuan dan kesatuan harus dipandang sebagai kebutuhan. Janganlah berharap kita memperoleh kepuasan batin dari daerah kita masing-masing dalam semua hal. Itu nonsen. Nenek-moyang kita pun sebenarnya sudah memberi isyarat ke sana, seperti melalui nasihatnya kepada para perantau. Mereka justru menyuruh mencari induk semang terlebih dulu ketimbang sanak famili. Ini bertanda, sanak famili yang notabenenya sedaerah belum menjadi jaminan untuk dijadikan induk semang. Jadi penduduk setempat mungkin saja bisa lebih berjasa, apalagi kalau mau menganggapnya sebagai saudara. Banyak kisah perantau ketika sampai di kota tujuan justru ditampung oleh keluarga yang berlainan daerah. Misalkan seorang penganggur yang hijrah untuk berdagang di Jakarta dengan harapan, sambil mencari rumah tetap, ia akan numpang dulu di rumah kakak kandungnya. Ternyata tidak bisa, karena iparnya merasa keberatan. Sedangkan familinya kebetulan tidak ditemukan. Hampir ia kembali ke kampung halamannya kalau saja tidak dibantu oleh seseorang lain daerah di pelabuhan Tanjung Periok yang kemudian menjadi induk semangnya. Walaupun saya ini asli orang Minang, namun kenyataannya, sebagian besar daerah di Indonesia, yaitu melalui warga aslinya, sudah memberikan jasa monumental bagi masa depan saya, yang justru kebetulan tidak saya peroleh dari orang Minang sendiri. Apakah itu dari seseorang yang bergelar Tengku di Indonesia bagian barat, seseorang yang bergelar Bugis di Indonesia bagian tengah, sampai seseorang yang bersuku Asmat di Indonesia bagian timur. Nah, di sanalah saya merasakan nikmatnya "Persatuan & Kesatuan". Hikmah gamblang dari Persatuan dan Kesatuan bisa kita prediksi dari mereka yang suami atau istrinya berlainan daerah. Tentu ada di antara mereka yang pada malam penganten berkata pada dirinya, "Oh, ternyata cinta saya tertuju pada sosok pasangan dari daerah lain". Kembali pada masalah pokok. Sumber disintegrasi bangsa bisa saja bersumber pada pemahaman yang keliru terhadap arti slogan itu sendiri. Kita sepakat bahwa persatuan dan kesatuan sangat penting bagi terbentuknya negara yang kuat, sejahtera, dan aman. Tetapi kalau dalam prakteknya, kepentingan pribadi, suku, dan golongan lebih menonjol, apa mungkin impian itu bisa menjadi kenyataan? Persatuan dan kesatuan harus dipahami sebagai kebulatan tekad pada diri setiap individu yang mempunyai keragaman dalam hal kepentingan, persepsi, pola hidup, sampai tingkat kepribadian untuk membangun sesuatu yang keuntungannya bisa dinikmati secara adil, objektif, bersama, dan maksimal. Persatuan dan Kesatuan harus menjadi kekuatan yang mengayomi, memberi, dan melindungi seluruh komponen yang terkait. Kalau sampai menimbulkan ketakutan berarti belum sempurna. Malah bisa menimbulkan kebencian dan benturan yang gilirannya membawa akibat rusaknya sendi-sendi perdamaian. Ia bisa diibaratkan dengan seorang pemain sirkus yang sedang memutar sejumlah piring yang masing-masing disimpan di atas sebuah batang kayu kecil. Ia harus mampu membuat setiap piring terus berputar dengan jalan menggoyang-goyangkan batang kayu di bawahnya. Jadi mau tidak mau, konsentrasinya harus diarahkan ke semuanya, dalam artian, jangan sampai ada satu piring pun yang terabaikan. Karena kalau itu sampai terjadi, bunyi pecah tidak akan terhindarkan lagi. Bagi pemain sirkus profesional jelas merupakan kejadian yang sangat memalukan. (Nasrullah Idris/Bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi)
