So what is the alternative?
not so bright.

Sabtu, 10 Maret 2001

Prof Dr Clifford Geertz:
Waspada, Kawan, Waspadalah...

Jakarta, Kompas
Indonesianis Amerika kawakan, Prof Dr Clifford Geertz, menilai, desakan
dari berbagai kalangan yang sangat emosional untuk menjatuhkan Presiden
Abdurrahman Wahid saat ini menunjukkan adanya semacam irasionalitas
massa. Ia mengkhawatirkan munculnya kembali jejak Orde Baru dalam
penggabungan nasionalisme radikal, Islam radikal, dan militerisme
radikal untuk menggantikan pemerintah yang sekarang.

Guru Besar Antropologi Universitas Princeton yang meletakkan dasar studi
antropologi di Indonesia itu mengatakan, "Kita saat ini tampaknya sedang
di ambang zaman edan seperti yang dikatakan Ronggowarsito."

Dalam wawancara jarak jauh dengan Kompas hari Kamis 8 Maret, penulis
buku The Religion of Java, yang memetakan kebudayaan Jawa dalam kategori
abangan, santri, dan priayi, itu menyampaikan pandangan umumnya mengenai
keadaan politik mutakhir Indonesia yang ia sebutkan sebagai "salah satu
titik paling kritis dalam sejarah modern Indonesia".

Berikut petikannya;

Desakan DPR, mahasiswa, dan gerakan massa lain yang meminta Presiden
Abdurrahman Wahid turun membesar dari hari ke hari. Pertemuan para
jenderal dan para pemimpin partai politik baru-baru ini kelihatannya
mengarah pada persiapan menurunkan Presiden. Apa pendapat Anda terhadap
gejala ini?

Saya memang sudah memperkirakan bahwa cepat atau lambat akan timbul
reaksi anti-Gus Dur (Abdurrahman Wahid-Red) karena kedudukan presiden
yang sekarang dipegangnya bukan pekerjaan gampang dan karena kehidupan
politik Indonesia pada umumnya sedang kacau-balau. Akan tetapi, reaksi
itu ternyata timbul jauh lebih mendadak dan emosional, serta lebih
membahayakan, daripada yang saya perkirakan.

Munculnya sikap menentang yang meluas terhadap Gus Dur itu, yang menurut
saya kurang berdasar, sangatlah mengherankan dan menunjukkan adanya
semacam irasionalitas massa. Bahkan, kaum neo-liberal Amerika, seperti
Van Zorge yang mengubah pandangannya dalam waktu dua minggu di The New
Republic dan The Economist, juga telah berganti haluan.
Pendapat-pendapat yang muncul dari kalangan Islam, bahkan dari kelompok
yang biasanya paling obyektif, pun mengecewakan. Kita saat ini tampaknya
sedang di ambang zaman edan seperti yang dikatakan Ronggowarsito.

Saya bukan memberi nasihat bagaimana orang hidup dan menjalankan
negerinya. Yang mau saya katakan, waspada, kawan, waspadalah. Sesal
dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.

Perlukah Abdurrahman Wahid dipertahankan? Kalau perlu, mengapa?

Dugaan saya, dia tidak hanya dapat bertahan, tetapi kemungkinan besar
akan bertahan. Saya pikir, yang sudah dia lepaskan baru beberapa gerakan
pencak saja.

Menjawab pertanyaan Anda mengapa harus dipertahankan, saya tidak
mengandaikan dia harus bertahan. Namun, kalau pada akhirnya dalam waktu
yang tidak lama dia jatuh dan keadaan makin berantakan, negeri ini dan
rakyatnya, paling tidak sebagian besar dari mereka, akan sangat
menyesalkan kejadian itu.

Gus Dur adalah orang yang sulit ditebak dan tidak bersedia menerima
kritik. Akan tetapi, dalam pandangan saya, dia masih pilihan terbaik
bagi Indonesia dari beberapa pilihan yang tersedia saat ini. History
isn't very strong on second chances.

Seandainya Abdurrahman Wahid turun, apa yang Anda ramalkan terjadi
dengan masa depan demokratisasi di Indonesia, pemberdayaan masyarakat
sipil, dan supremasi sipil dalam pemerintahan?

Saya tidak meramalkan apa pun seperti yang dilakukan tukang nujum. Saya
hanya menunjukkan akar persoalan. Yang paling saya takutkan di
Indonesia, apakah ini rasional atau tidak, adalah penggabungan
nasionalisme radikal, dan/ atau Islam radikal, dan (dalam hal ini: tanpa
atau) militerisme radikal dalam suatu rezim yang membuat Orde Baru
seperti menapakkan jejaknya di taman.

Lagi-lagi saya tekankan, saya tidak meramalkan hal semacam itu terjadi.
Ini hanyalah mimpi buruk dan kambuhan yang saya induksikan, barangkali
karena tidak selalu mengikuti perkembangan-perkembangan terbaru.
Supremasi sipil, yang kurang lebih kita temukan pada pemerintahan
sekarang, memang soal kritis pada sisi pemerintah. Sekali hilang,
supremasi sipil ini akan hilang untuk waktu yang lama.

Dalam pandangan Anda, apa target jangka panjang dan jangka pendek
gerakan untuk menurunkan Abdurrahman Wahid?

Seperti yang saya katakan, walaupun saya dapat mengerti bahkan
bersimpati dengan beberapa kritik terhadap Gus Dur, saya melihat gerakan
anti-Gus Dur ini merupakan kombinasi ambisi politik dengan perasaan
ketakutan dan ketidaksabaran. Saya tidak tahu apakah mereka punya target
jangka panjang atau jangka pendek. Kalaupun ada, itu kabur bagi saya.
Satu-satunya konsep bersama dalam gerakan ini adalah bahwa kalau kamu
berhasil menyingkirkan Presiden, inilah fajar baru untukmu. Kesimpulan
yang keliru dari pengalaman Soeharto.

Saya tidak dapat mengakhiri pembicaraan ini tanpa mengatakan bahwa saya
tidak mengira, apa yang harus dilakukan orang Indonesia saat ini dan
siapa seharusnya yang menjadi presiden, sebagai pekerjaan kami orang
asing yang mengamati Indonesia, bahkan saya yang lama dikaitkan dengan
Indonesia dan sangat peduli mengenai masa depan Indonesia. (sal)

Kirim email ke