Salam!
Analisis artikel di bawah ini cukup menarik didiskusikan.
Dalam discourse, argumentasi memang menjadi panglima. Bukan sekadar soal
siapa benar dan siapa salah atau saling tuding.

Kapan IKI atau KBRI menggelar diskusi yang pembicaranya kalangan mahasiswa
atau masyarakatnya sendiri.
Ayo dong IKI, KBRI..

Habis Permias DC nya masih sibuk dan belum selesai-selesai mencari/memilih
Ketua nya. Sedangkan IMAAM, apalagi, ya nggak nyambung dong. Atau
Pengajian-DC saja:-)
Tetapi jika ada yang mau, boleh juga nih.

Coba Lapau Senggol DC sudah ada, pan enak tuh, tinggal isi wadahnya saja.
Sekali waktu diskusi, lain waktu lagi baca puisi.

Yo wis, ngono sik.

penyimak pinggiran
###







http://suarapembaruan.com/News/2001/03/21/Editor/ed02/ed02.html

Operasi Militer sebagai Cara Penyelesaian Krisis Aceh
Oleh KUKUH SUHARWIYONO


Pemberontakan di Aceh telah membawa banyak korban, baik dari warga sipil
Aceh, anggota GAM maupun personel TNI/Polri. Sebagai pribadi, penulis
mempunyai prediksi, masalah Aceh akhirnya akan diselesaikan dengan operasi
militer. Hal itu bukan karena TNI ingin membunuh rakyat sendiri atau takut
dengan kekuatan militer negara lain, sebaliknya karena pemberontakan GAM
sudah melampui batas-batas toleransi suatu gerakan penyaluran aspirasi
rakyat. Bahkan, bantuan militer asing dalam perjuangan GAM di Indonesia
merupakan pelecehan bangsa dan negara Indonesia sebagai negara yang
berdaulat.

Pemberontakan GAM di Aceh harus segera dihentikan karena keutuhan NKRI dari
Sabang sampai Merauke menjadi taruhannya. Satu-satunya cara untuk mengakhiri
suatu pemberontakan militer dan bersenjata adalah melalui perlawanan militer
dan bersenjata juga.

Militer Indonesia memang masih dihantui masalah crimes against humanity pada
saat melakukan operasi militer di Timor Timur beberapa tahun silam. Namun,
dengan masalah itu bukan berarti kita boleh memberikan kesempatan bagi
kekuatan militer lain selain TNI sebagai kekuatan inti pertahanan dan
keamanan negara untuk bermain di wilayah Republik Indonesia.

Rules of Engagement adalah sebuah film yang dibintangi Samuel L Jackson dan
Tommy Lee Jones. Film itu mengisahkan bagaimana anggota marinir Amerika
Serikat yang melakukan pembunuhan terhadap massa demonstran akhirnya
dinyatakan tidak bersalah melalui proses pengadilan yang panjang.

Massa demonstran di depan Kedutaan Besar Amerika di Yaman dalam film itu
diceritakan disusupi kekuatan bersenjata. Beberapa orang bersenjata api
membaur bersama ratusan warga sipil yang berdemonstrasi. Kelompok kecil
bersenjata yang berada di tengah-tengah para demonstran itu menembaki
pasukan marinir Amerika yang berada di kedutaan besarnya. Akibatnya, tiga
orang marinir AS tertembak.

Melihat situasi itu, Samuel L Jackson sebagai komandan pasukan, langsung
memerintahkan untuk menembak ke arah demonstran. Ekses dari keputusan itu,
selain kelompok bersenjata di antara demonstran berhasil dilumpuhkan, banyak
warga sipil termasuk wanita dan anak-anak tewas. Oleh sebab itulah, Samuel L
Jackson kemudian diajukan ke pengadilan militer AS.

Tommy Lee Jones, sebagai pengacara Samuel L Jackson, berusaha mati-matian
memenangkan Samuel L Jackson dalam kasus itu. Jones yakin, apa yang
dilakukan Samuel L Jackson pada demonstran adalah cara terbaik untuk
mempertahankan kedaulatan negara serta menyelamatkan anak buahnya. Argumen
kunci Jones dalam memenangkan kasus tersebut adalah kutipan dia mengenai
Rules of Engagement, ''Civilian pointing a gun is no longer civilian.
Therefore, deadly force is authorized to be used under rules of
engagement''.


Menghilangkan Ancaman

Film itu adalah miniatur suatu pemberontakan militer di sebuah negara
berdaulat. Musuh memiliki senjata pembunuh massa yang sangat berbahaya,
namun mereka berada di tengah-tengah masyarakat sipil. Bila pemberontakan
dibiarkan, keselamatan jiwa dan negara di ambang pintu kehancuran, namun
bila ditumpas akan banyak masyarakat sipil yang ikut menjadi korban.

Jenderal Wesley Clark dalam wawancara mengenai serangan AS di Kosovo
beberapa tahun silam mengatakan, ''there is no exact calculation in the
situation like this (military operation)''. Apa yang dimaksud oleh Clark
adalah korban dalam suatu operasi militer tidak dapat diprediksi dengan
tepat, karena perubahan situasi medan pertempuran yang begitu cepat didukung
dengan peralatan-peralatan pembunuh massal yang digunakan kedua belah pihak
yang bertikai saat ini, sudah sangat canggih.

Kita semua tidak ingin adanya pertumpahan darah dari saudara-saudara kita
sebangsa setanah air. Segala permasalahan yang muncul sedapat mungkin
diselesaikan dengan cara damai, termasuk masalah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Namun, apabila cara-cara damai tidak dapat lagi digunakan, sedangkan suatu
permasalahan berubah menjadi ancaman kritis bagi kelangsungan hidup Republik
Indonesia, maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkan RI adalah
menghilangkan ancaman itu secepatnya.

Berdasarkan sejarah yang ada, penggunaan kekuatan militer melalui operasi
militer adalah cara paling efektif untuk menghilangkan berbagai hal yang
mengancam kedaulatan suatu negara. Melihat berbagai usaha Jeda Kemanusiaan
yang sering dilanggar oleh pihak GAM, maka tidak lain dan tidak tertutup
kemungkinan operasi militer merupakan cara yang akan dilakukan RI dalam
menghadapi GAM.

u

Penulis adalah kandidat Bachelor of Science di Virginia Military Institute,
Amerika Serikat

_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com

Kirim email ke