Saya rasa, mahalnya biaya konsultasi kesehatan dan diagnosa penyakit
yang dilakukan dokter spesialis penyakit dalam di Indonesia bukan karena
mahalnya biaya pendidikan yang membuat mereka menjadi dokter. Justru karena
rasio jumlah dokter dan jumlah penduduk Indonesia yang memungkinkan biaya
tersebut menjadi mahal.
Coba kalau rasionya seperti "ahli TI" dan "Pengguna jasa internet"?
Selain itu, coba kalau ruang implementasi pelayanan kesehatannya sebanyak
internet? Mungkin dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia akan banyak
yang gratis.
Misalkan, registrasi kesehatan "gratis", biaya rawat inap di RS
"gratis", periksa badan "gratis", air mineral "Gratis", periksa tensi darah
"Gratis".
Sekarang juga sebenarnya sudah ada yang gratis, seperti timbang badan,
tempat duduk, parkir mobil, dan mainan anak-anak.
Salam,
Nasrullah Idris
----------------------
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu
http://google.yahoo.com/bin/query?p=Nasrullah+Idris&hc=0&hs=0
Email Lain : [EMAIL PROTECTED] <untuk darurat saja>