Karena cabang olahraga ini beresiko terhadap kerusakan otak maka jumlah
rondenya dikurangi. Kalau perlu satu ronde saja. Ini bisalah diatur
berdasarkan pengamatan terhadap berbagai faktor ergonomis fisik/psikis
rata-rata dari si atlit pada umumnya.
     Penilaian menang-kalahnya ditentukan oleh perbandingan pukulan yang
masuk ke arah lawan.
     Ingat, kematian petinju Muhammad Alfaridzi semakin mengundang gugatan,
apakah tinju
profesional itu masih layak disebut olahraga.
    Tetapi rasanya untuk menghapus cabang olahraga itu merupakan sesuatu
yang sulit dilakukan mengingat apresiasi dan popularitasnya. Sebagai jalan
tengahnya ya dengan mengurangi jumlah ronde.

Salam,

Nasrullah Idris

Kirim email ke