Bismillahirrahmanirrahim,
Jumat, 04 Mei 2001
Perang Hacker AS-Cina Seret Indonesia
WASHINGTON -- Konflik hacker Amerika Serikat dan Cina
mengimbas ke beberapa negara lain,
termasuk Indonesia. Para hacker di seluruh dunia kini terbagi dalam
kubu AS atau kubu Cina.
Sejumlah ahli keamanan mengaku khawatir bahwa perang dunia maya
ini menyebar di luar Cina dan
AS. Para hacker dari negara lain kini menempatkan diri mereka ke
dalam dua blok yaitu pro AS dan pro
Cina.
Menurut Marquis Grove dari Security News Portal, hacker pro AS kini
didukung oleh para hacker dari
Arab Saudi, Pakistan, India, Brazil Argentina, dan Malaysia.
Sedangkan hacker pro Cina mendapat
dukungan dari Korea, Jepang, dan Indonesia.
''Kami sudah ada di dalam komputer pemerintah AS, dan kami bisa
menyakiti mereka jika itu yang
kami pilih. Yang kami lakukan bukanlah perang, namun ini hanyalah
cara para hacker untuk bersenang-
senang,'' seorang hacker Cina, Jia En Zhu mengakui kepada kantor
berita AFP, Rabu lalu.
Hingga kini, perang dunia maya ini telah mengakibatkan gangguan
pada ratusan situs Internet. Para ahli
keamanan komputer kini pontang-panting mengantisipasi meluasnya
konflik ini.
Para hacker Cina menyatakan bahwa mereka berencana untuk
meningkatkan serangan kepada jaringan
kerja AS pada 4 Mei waktu Cina (atau 3 Mei di Amerika Utara).
Tanggal tersebut dipatok sebagai
tanda penghormatan bagi Qingnian Jie (Hari Pemuda) yang menjadi
hari libur nasional Cina.
Mike Assante dari perusahaan pelatihan keamanan Vigilinx,
menyatakan bahwa para peetugas
pemerintah dan perusahaan keamanan akan memantau kegiatan
jaringan kerja dari dekat. Mereka akan
berupaya untuk menghalangi setiap virus e-mail dan berusaha untuk
menembus jaringan tersebut atau
mengirimkan ''serangan penolakan''.
Menurut Assante, ada indikasi keterlibatan hacker dari negara lain.
Namun, katanya, bukanlah hal yang
aneh bagi hacker untuk menyembunyikan lokasi mereka dengan
meluncurkan serangan melalui jaringan
komputer lain.
Selasa lalu, Pusat Perlindungan Infrastruktur Nasional (NIPC) yang
dipimpin FBI telah memberi
peringatan bahwa para hacker telah melakukan serangan selama dua
hari. NICP menyarankan kepada
pemerintah dan para pengusaha mengenai ''peningkatan yang
signifikan dalam upaya mengeksploatasi
kelemahan'' pada jaringan Unix.
Menurut Grove, upaya untuk menembus jaringan biasanya adalah
sebuah tanda untuk melancarkan
''serangan penolakan'' dalam ruang lingkup yang luas. Tak pelak,
jaringan komputer pun akan dibanjiri
oleh kesibukan yang tidak diharapkan.
Seorang bocah belasan tahun bahwan mampu melumpuhkan situs
Yahoo, eBay, dan Amazom.com
dengan menggunakan DDoS dalam serangkaian serangan pada
Februari 2000 silam. Kini para hacker
Cina telah menciptakan perangkat lunak DDoS yang canggih dan
dapat diperoleh dengan gratis di situs
mereka, www.cnhonker.com.
Para hacker Cina mengaku telah berhasil menyelusup ke dalam
jaringan komputer Dewan Perwakilan
Rakyat AS dengan menggunakan ''serangan penolakan''. Aksi mereka
bahkan telah pula menembus
jaringan Pusat Bisnis Nasional di bawah Departemen Dalam Negeri
AS, Dinas Internet Pasifik Bell,
dan Penelitian Geologi AS.
Sementara kantor berita Cina Xinhua melaporkan bahwa para hacker
AS telah menembus situs
pemerintah propinssi Yichun, Xiajun, dan Beijing, pasukan pengaman
Deng Xiaoping, Tsinghua
University, Xinjiang University, serta situs milik Korea Selatan seperti
Samsung dan Daewoo
Telecoms.
Data statistik yang ada dalam situs Chinese Hacker Union, para hacker
Cina tengah berupaya
menembus situs-situs AS secara acak, menyerang pemerintahan,
perusahaan, dan situs e-commerce
kecil. Sedangkan para hacker AS lebih memusatkan perhatian pada
situs milik pemerintah.
Perang dunia maya antara Cina dan AS dipicu oleh tabrakan pesawat
antara pesawat mata-mata AS dan
jet tempur Cina. Para hacker AS sendiri mengaku tengah menunggu
kalau-kalau hacker pro Cina
meningkatkan serangannya.
''Saya ingin melihat bagaimana mereka meningkatkan aksinya,
memenuhi ancaman mereka,'' tutur 'nabi'
-- julukan hacker AS yang menurut China.com ia adalah hacker
perorangan yang paling banyak
menyerang situs Cina. afp/yyn