Berikut ini saya forwardkan salah satu tulisan kawan kita di milis ini,
Moko Darjatmoko, yg dimuat di Harian Suara Pembaruan tanggal
18 September 2001.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

http://www.suarapembaruan.com/News/2001/09/18/Editor/ed04/ed04.html
--------------------
Mekanisme Keruntuhan "World Trade Center"
Oleh Moko Darjatmoko

alah satu model keruntuhan yang sering terjadi pada bangunan tinggi umumnya
sebagai berikut: satu lantai jatuh ke lantai di bawahnya, yang selanjutnya
keduanya menjatuhi lantai di bawahnya lagi, dan seterusnya. Sampai akhirnya
semuanya menjadi tumpukan lantai di dasar bangunan seperti seonggok pancake
(kue serabi). Karena itulah fenomena keruntuhan seperti itu dikenal sebagai
pancake collapse. Tetapi, yang terjadi di World Trade Center (WTC) Selasa
pagi (11/9) yang lalu itu agak lain.

Waktu melihat bagaimana bangunan itu seolah "melorot" ke bawah --jantung
hampir copot rasanya. Implosion! Itulah kata yang langsung muncul di kepala.
(Implosion is a situation where the building collapses into itself). Teknik
implosion (lawannya explosion) itu biasanya dipakai oleh demolition
specialists untuk meminimalkan menebarnya reruntuhan, yang bisa mengganggu
keselamatan bangunan dan manusia di sekitarnya, misalkan demolition yang
dilakukan di urban area yang padat.

Teknik itu dilakukan dengan menempatkan bahan peledak (charges) di beberapa
tempat strategis setelah mempelajari gaya-gaya yang bekerja di struktur
bangunan tersebut. Bahan peledak yang dipakai minimal, karena fungsinya hanya
melemahkan atau menghilangkan stabilitas struktur dan selanjutnya gravitasi
bekerja dengan sendirinya. Artinya, bagian yang jatuh dan bagian yang
dijatuhi saling bertumbukan atau saling menghancurkan.

Salah satu company yang paling ahli dalam controlleddemolition itu adalah
keluarga Loizeaux. Tahun lalu, beberapa proyek demolisi mereka yang penting
diterbitkan sebagai buku, Demolition: The Art of Demolishing, Dismantling,
Imploding, Toppling and Razing (2000), oleh Helene Liss, Loizeaux Family.
Video dokumenternya yang sangat mengesankan juga bisa dilihat.

Pembajak Arsitek?

Beberapa menit semua orang terpaku di depan layar televisi, hampir pasti ada
bahan peledak yang secara profesional telah diletakkan di tempat-tempat
strategis, sehingga keruntuhan WTC begitu "rapi" seperti itu. Tetapi,
kemudian melintas dalam ingatan, struktur WTC itu agak istimewa - dan inilah
yang menyebabkan belum ada preseden sebelumnya.

Kalau Anda pernah memperhatikan WTC sewaktu berkunjung ke sana, di setiap
lantai tidak kelihatan ada kolom penyangga di tengah. Arsitek Minoru Yamasaki
mendesain struktur itu dengan menempatkan bebannya pada outer shell yang
berupa kerangka baja. Jadi struktur itu praktis mirip pipa raksasa dengan
penampang bujur sangkar. Cukup kaku dan kuat mendukung beban lantai (beton
bertulang) yang diteruskan ke bawah lewat "kulit" pipa tadi, maupun beban
gempa, angin badai, bahkan sesekali tumbukan pesawat.

Bangunan bertingkat tinggi memang dirancang untuk survive kalau ada tabrakan
pesawat terbang. Sebagai contoh pada 1945 sebuah bomber B-25 menabrak Empire
State Building karena kabut tebal di Manhattan.

Kalau sekadar tumbukan saja, walaupun lebih besar dan lebih kencang daripada
insiden bomber 56 tahun sebelumnya di Empire State Building, WTC tidak akan
runtuh. Tetapi, ada faktor lain lebih pegang peran. Panas yang ditimbulkan
oleh terbakarnya bahan bakar jet (24 ribu galon full tank, ketika
meninggalkan Logan Airport di Boston) mencapai temperatur di atas 1.000
derajat.

Pada temperatur tersebut struktur utama yang terdiri atas baja menjadi lemah,
terutama pada "sambungan" kolom dengan lantai yang berat itu (dibuat dari
beton bertulang). Runtuhnya satu-dua lantai di atas titik kebakaran itu,
lantai itu "menarik" kolom baja yang menyangganya ke arah dalam, dan jatuh ke
atas lantai di bawahnya, dan seterusnya. Proses berurutan itulah yang
menyebabkan bangunan tersebut kelihatan seolah-olah "tenggelam" ke dalam
tanah (in slow motion).

Menarik sekali bahwa pesawat bajakan itu ditumbukkan pada tempat yang paling
"optimal'', beberapa tingkat dari puncak bangunan (Menurut berita terakhir,
salah seorang pembajak adalah arsitek, - pen). Seandainya titik impact
terjadi jauh di tingkat bawah, besar kemungkinan implosi sempurna tidak
terjadi. Bangunan tersebut akan roboh seperti pohon yang tumbang, mungkin
menimpa bangunan lain di sekitarnya. Kerugian (materi) mana yang lebih besar,
bergantung ke mana arah jatuhnya, tetapi korban manusia mungkin tidak
sebanyak seperti dalam kasus implosi sempurna seperti yang terjadi itu.
Paling tidak upaya search and rescue lebih mudah.

Hancur?

Pertanyaan yang sampai sekarang masih belum terjawab adalah: di manakah para
korban yang masih berada di dalam ketika banguan itu runtuh? Sampai saat ini
tim paramedis bisa dibilang menganggur, menunggu korban atau jasad yang masih
terus digali dari reruntuhan. Diperkirakan ribuan manusia masih berada di
dalam ketika bangunan tersebut kolaps. Sampai saat ini sekitar 5.000 telah
dilaporkan hilang, tetapi setelah menggali lima hari lebih belum ada seorang
survivor pun, hanya sekitar 150 jasad atau potongan tubuh yang ditemukan.

Dalam implosion, bisa dibilang tidak ada yang bisa survive. Statistik
sebelumnya memang tidak ada, karena hampir semua implosion dilakukan dengan
sengaja, melalui perencanaan yang matang, pada bangunan yang tidak
berpenghuni. Tetapi bisa dibayangkan kalau lantai beton yang begitu keras
saja bisa lumat, bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan manusia yang
terdiri atas darah-daging.

Yang bisa diduga - penulis berharap dugaan ini salah - mereka juga mengalami
nasib yang sama dengan beton tersebut. Lumat bersama, dan menjadi satu dengan
beton (dan segala perabotan kantor). Tetapi di mana, kenapa seperti "tidak
ada bekas''-nya, di antara reruntuhan yang sekarang mulai diangkati itu?

Muncul spekulasi, jasad mereka - dalam keadaan hancur-- berada di dasar
bangunan (basement), padat menjadi satu dengan butir-butir remukan beton. Hal
itu terjadi karena pada waktu implosi (runtuh ke dalam), di samping teremas
menjadi potongan kecil, reruntuhan tersebut mengalami semacam efek
liquefaction, dengan partikel yang kecil berada paling bawah, dan potongan
yang lebih besar --seperti batang-batang baja-- malang-melintang menumpuk di
atasnya (kira-kira setinggi tujuh tingkat).

Gejala sorting, kecil di bawah besar di atas, itu sudah berhasil dibuktikan.
Pembahasannya bisa dibaca dalam Scientific Anerican. Anda pun bisa melakukan
eksperimen sendiri di rumah, dengan menaruh kelereng dalam kolom pasir, dalam
botol, atau tabung yang agak panjang. Kocok-kocok tabung tersebut,
kelerengnya akan pelan-pelan "naik" ke atas (ini memang seakan "berlawanan
dengan logika" kita, yang merasa karena kelereng lebih besar/berat, akan
jatuh ke bawah). Fenomena itu juga menjelaskan kenapa kalau kita membeli
mixed nuts di dalam kaleng, kacang yang besar, misalnya Brazil nuts,
kebanyakan berada di atas, sedangkan kacang tanah yang berukuran kecil berada
di bawah, karena guncangan selama perjalanan.

Dalam proses keruntuhan konvensional, misalkan karena gempa, sering kali
terjadi efek caving (cave = gua), terbentuk kantong-kantong di antara blok
lantai atau kolom. Kantong-kantong itu melindungi survivor yang beruntung,
dan punya suplai oksigen sampai beberapa hari (ada yang survive sampai dua
minggu). Dalam implosi sempurna, kemungkinan terbentuknya caving kecil, dan
benda-benda yang hancur jatuh dan memadat di dasar bangunan.

Saat ini sudah banyak material yang menyediakan informasi yang mudah
dimengerti untuk kaum awam dalam bentuk buku populer atau video. Artinya,
tanpa harus ahli dalam perhitungan teknik sipil atau arsitektur, cukup
kemauan membaca dan menggunakan common sense saja. Di samping buku Demolition
yang disebutkan di atas, ada buku lain yang sangat bagus dibaca, Building Big
karya arsitek kawakan David MaCaulay, yang juga diterbitkan tahun lalu. Di
samping itu banyak informasi gratis di Internet dalam subjek yang relevan.
Sebagai contoh klik URL berikut:

http://howstuffworks.lycos.com/building-implosion.htm?printable=1

http://howstuffworks.lycos.com/ skyscraper.htm?printable=1

Penulis adalah lulusan Teknik Sipil ITB yang sedang memperdalam teknologi
informasi, pengamat demolisi bangunan, tinggal di Madison, Wisconsin, AS.

Kirim email ke