http://www.jawapos.co.id/print/index.php?view=detail&id=40458

RI Teken Konvensi Antiteror

Mega - Kofi Annan Bertemu di PBB


New York -

KENDATI baru pertama bertemu, Presiden Megawati Soekarnoputri dan Sekjen PBB
Kofi Annan cepat saling memiliki pengertian. Annan menerima tamunya di ruang
Sekjen PBB, lantai 38 Markas Besar PBB di New York, Senin sore atau Selasa
pagi WIB.

Dalam pertemuan itu, Mega didampingi Menlu Hassan Wirayuda, Dirjen HELN
Deplu Dr Makarim Wibisono, Dubes Makmur Widodo dari PTRI-New York, dan
anggota DPR RI Ahmad Sumargono.

Wartawan Jawa Pos di New York Ramadhan Pohan melaporkan tadi malam,
pertemuan Mega-Annan menyinggung banyak topik. Mulai pertemuan Mega dengan
George W. Bush di Washington DC, masalah terorisme, isu-isu Timtim,
pengungsi, kebijakan Indonesia mengenai Timtim, dan pengadilan ad hoc HAM.

Menyangkut gerakan separatisme Aceh, Irian Jaya, Sekjen PBB menegaskan
dukungan PBB terhadap integritas teritorial Indonesia. Dukungan terhadap
NKRI ini jelas sangat signifikan bagi pemerintah Mega saat ini.

"Beliau mengatakan, �Saya dapat mengatakan seluruh anggota PBB sepenuhnya
mendukung Indonesia, kedaulatan integritas teritorial Indonesia, dan
menjanjikan langkah-langkah konkret bagi upaya ini�," kata Hassan, mengutip
Annan, setelah pertemuan.

Mengenai Timtim, Annan menyambut baik kebijakan pemerintahan Megawati. Dia
menyebut langkah dan upaya pemerintah RI saat ini realistis. Apalagi ke
depan, Mega juga mengungkapkan, sejumlah langkah terus diupayakan Indonesia,
baik menyangkut masalah pengungsi, perbatasan, pengadilan ad hoc HAM, dan
sebagainya.

Yang menarik, setelah pertemuan tertutup Mega- Annan, Sekjen PBB mengajak
presiden ke-5 RI itu melakukan pertemuan empat mata saja. Menlu Hassan
melihat ini sebagai indikasi kehangatan hubungan kedua pemimpin.

Pembicaraan tertutup dan empat mata Mega- Annan ini berlangsung sepuluh
menit. Mereka tampaknya ingin pertemuan sepuluh menit ini hanya diketahui
berdua dan agar lebih leluasa berbincang. Tidak jelas apa saja yang
dibicarakan keduanya. Ketika ditanya, Menlu RI hanya mengangkat bahu tanda
tidak tahu.

"Saya enggak ada di situ. Mana saya tahu," jelasnya.

Sebagaimana di Washington DC sebelumnya, Mega juga melakukan ramah tamah
dengan masyarakat Indonesia di New York. Kesempatan kali ini dipakai Mega
menjelaskan sikap politik pemerintah RI menyangkut terorisme.

Mega meluruskan pandangan yang beredar seolah-olah dirinya baru bersuara
soal terorisme setelah peristiwa serangan WTC dan Pentagon. Jauh sebelum
tragedi melanda Amerika serikat ini, dia mengaku sudah menyuarakan masalah
ini.

"Hanya memang waktu itu memang belum keren, karena belum muncul. Saya sudah
sibuk (sejak) dulu,"katanya.

Megawati menyebutkan, sudah menjadi komitmen politiknya yang selalu
mengedepankan antikekerasan. Bahkan, itu jauh sebelum dirinya di
pemerintahan. Ungkapan Megawati ini menyiratkan pengalaman penindasan
politik yang dia alami selama Orde baru. Namun, dirinya tetap berjuang tanpa
kekerasan.

"Selama perjuangan saya masuk ke masalah politik, saya mengatakan
antikekerasan. Kepada Presiden [George] Bush, saya juga menyatakan seperti
itu," papar Mega.

Politik antikekerasan ini, kata Megawati, mestinya dipegang kukuh oleh siapa
saja di muka bumi ini. Sikap antikekerasan dan nilai kemanusiaan harusnya
mendapat tempat tinggi dalam peradaban semua umat.

"Kalau semua orang mempunyai pendapat yang sama dengan nilai antikekerasan
itu, rasanya kok nggak akan ada ramai-ramai seperti sekarang, yang disebut
terorisme itu," jelas Megawati.

Bahkan, sebelum berangkat ke AS pun, jelas presiden, dirinya sudah melakukan
konsolidasi dengan negara-negara ASEAN. Di event pertemuan itu, Megawati
membicarakan soal-soal terorisme dan penanggulangannya. Jelas bahwa
terorisme memang persoalan penting dan perlu kerja sama dengan negara-negara
lain untuk mengatasi hal itu.

Tanpa merujuk langsung atas peristiwa-peristiwa terakhir dan nama
negara-negara tertentu di mana Indonesia menjalin komitmen antiterorisme,
presiden tampak kukuh dengan pemikiran bahwa terorisme merupakan persoalan
bersama. Walau demikian, kesepakatan dan kerja sama RI dengan negara-negara
lain dalam penanggulangan terorisme bukan pula berarti meruntuhkan kebijakan
politik luar negeri bebas aktif Indonesia.

"Sebelum saya ke AS ini, saya telah melakukan konsolidasi ke negara-negara
ASEAN juga, antara lain, membicarakan hal itu. Jadi, memang kesepakatan kita
untuk mengatasi masalah itu secara bersama-sama. Tetapi (nada suara Mega
meninggi dan lantang, Red), juga bukan berarti kita tidak mempunyai
kedaulatan politik kita sendiri. Kita tentu harus menyatakan itu dengan
baik. Artinya, posisi kita, politik luar negeri kita adalah politik bebas
aktif," paparnya, disambut aplaus panjang 300 hadirin.

Dalam pertemuan Megawati dengan masyarakat New York itu, kesempatan bertanya
diberikan kepada hadirin. Namun, kebanyakan penanya malah mendoakan
pemerintahan Megawati. Mereka mensyukuri kerukunan antarumat dan memuji
kepemimpinan Megawati. Begitu juga soal komitmen Mega yang bertekad
menciptakan aparat pemerintahan yang bersih, hadirin merasa terhibur.

Apalagi, saat Megawati memerintah aparat pemerintah, menteri-menteri dan
pejabat, supaya segera melaporkan kekayaan masing-masing. Menurut presiden,
perbaikan Indonesia hanya dapat dilakukan lewat teladan dan contoh konkret
masing-masing individu.

Hanya seorang mahasiswa Indonesia dari Albany, New York, yang benar-benar
memanfaatkan bertanya ke Megawati. Anto Mohsin, nama mahasiswa berkacamata
ini, mengangkat keprihatinan soal narkoba yang makin ganas saja. Mengutip
berbagai data statistik parahnya soal narkoba, Anto meminta agar Megawati
serius menangani persoalan itu.

Ditanya soal narkoba, Megawati menyebutkan bahwa sejak dirinya maih Wapres,
soal narkoba sudah menjadi perhatian mendalam. Persoalan narkoba, kata Mega,
serius sekali dan memerlukan penanganan menyeluruh.

Megawati sempat memancing tawa dan aplaus hadirin saat menyebut dirinya
mencoba mendekati kaum ibu supaya menjaga putra putrinya agar jauh dari
narkoba, yang banyak kena ternyata bapak-bapak.

"Repot juga kan. Minta tolong kepada ibunya, ternyata si korban itu juga
suami atau bapaknya," kata Megawati enteng, disambut tawa hadirin.
Kasus narkoba, kata Megawati, sudah masuk segala lini, strata berbagai latar
belakang sosial.

"Ini salah satu yang diprioritaskan di dalam program pemerintah, terutama
hari-hari ini. Ini bukan merupakan masalah sosial saja, tapi sudah
terakselerasi menjadi masalah politik dan ekonomi juga," papar Mega, yang
menambahkan bahwa dirinya tetap optimistis, tantangan soal narkoba dapat
diatasi pemerintah bersama masyarakat luas. (*)

http://www.jawapos.co.id/print/index.php?view=detail&id=40458


_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp

Kirim email ke