Bagaimana kira - kira ya menggambarkan keadaan sebuah medan perang, dimana di satu sisi sang prajurit digaji untuk pergi berperang (katanya) demi negara dan bangsa, ditugaskan untuk membunuh lawan, dengan secara sadar harus meminimalkan kerugiannya, misalkan tidak terluka apalagi terbunuh.
Di sisi lain ada prajurit yang berperang demi harga diri dan keyakinan serta dengan inisiatif sendiri berhasrat untuk membunuh lawan dengan tujuan mati dalam pertempuran. Menarik sekali. ------------------------------------------------------ Osama bin Laden Belum Terjamah, AS Mulai Gelisah Reporter: Eddie Santosa detikcom - Den Haag, Mesin-mesin perang AS terus menghujani Afghanistan dengan bom dan misil. Kemarin bahkan terjadi serangan paling dahsyat dalam rangkaian aksi militer AS sejak sembilan hari lalu. Namun sejauh itu belum ada tanda-tanda Osama bin Laden bisa dilumpuhkan. Frustasi dikabarkan mulai menyergap AS. Mirip kisah David versus Goliath, tapi belum jelas siapa pemenangnya. Itulah barangkali perumpamaan duel Afghanistan melawan AS saat ini. Dari segi peralatan dan ilmu perang, praktis Afghanistan bukan tandingan AS. Sehari sebelum serangan di mulai, media-media Barat melaporkan betapa negeri termiskin di dunia itu betul-betul terkepung oleh kekuatan militer raksasa. Di Laut Tengah, AS mengerahkan 14 kapal perang di antaranya kapal induk USS Roosevelt dengan 80 pesawat tempur. Di pangkalan udara Incirlik, Turki, dikerahkan 36 pesawat tempur F-15 dan F-16, pesawat pengintai AWACS, dan pesawat pengganggu radar A-6. Inggris membantu dengan pesawat pemburu jenis Jaguar dan pesawat pengisi bahan bakar di udara VC-10. Di Usbekistan dan Tajikistan, AS menyiagakan helikopter tempur dan 1.000 orang pasukan infanteri. Di pangkalan milter Ahmad al-Jabbar, Kuwait, ada 24 pesawat pemburu A-10 (Tankbusters) dan Inggris mem-back-up dengan 8 pesawat Tornado. Di Arab Saudi, AS mengerahkan 40 pesawat F-15 dan F-16, F-117 Stealth, VC-10 dan pesawat pengintai. Inggris membantu dengan 8 Tornado type F3. Di Oman mesin-mesin perang Ingris bertebaran, meliputi 20 kapal perang, termasuk kapal induk HMS Illustrious dengan 15 jet tempur jenis Harriers yang tak membutuhkan landas pacu. Sebanyak 24.000 tentara Inggris disiagakan di situ. Di Teluk Arab, digelar armada AS ke-9 yang berkekuatan 42 kapal perang, di antaranya kapal-kapal selam dan kapal induk USS Carl Vinson dan USS Enterprise yang dilengkapi misil Tomahawk. Di pangkalan udara Diego Gracia, Samudera Hindia, dikerahkan pesawat pembom B-52, B1 dan pengisi bahan bakar di udara KC-10. Dari Jepang menyusul kapal induk USS Kitty Hawk. Bahkan Pakistan menyediakan teritorialnya untuk dipakai sebagai markas pasukan komando AS dan seluruh pangkalan udaranya dipersilakan kepada AS untuk dipakai menyerang. Afghanistan betul-betul terkepung dan selama sembilan hari ini berturut-turut dihujani senjata penghancur: Herat di Barat, Mazhar i-Sharif dan Konduz di Utara, Jalalabad di Timur, Kandahar di Selatan dan di jantung Afghanistan, Kabul. Namun sejauh itu mana hasilnya? Osama bin Laden dan jaringannya Al Qaeda yang dijadikan target ternyata tetap belum bisa dijamah, apalagi dilumpuhkan. Pemerintah Taliban bahkan belum menunjukkan tanda-tanda goyah. Hal ini memicu kegelisahan dan frustrasi di kalangan Washington, seperti diulas TV Belanda Senin (15/10/2001) malam. Para tokoh politik dan lingkaran penasehat Bush dikabarkan mulai menekan para komandan dan perencana militer di Pentagon untuk dalam jangka waktu singkat mengerahkan lebih banyak pasukan komando dan Special Forces untuk beroperasi di Afghanistan. Namun pihak Pentagon ragu-ragu untuk mengirim pasukan darat tersebut, karena menurut perhitungan mereka situasi di darat masih sangat berbahaya. Kegelisahan kubu Bush dinilai masuk akal. Seandainya kampanye militer yang dilancarkannya tidak mencapai sasaran yang diinginkan dan terus berlarut-larut, maka dikhawatirkan popularitas Bush yang melejit kembali setelah pernyataan perang terhadap teroris, bakal runtuh lagi. Publik AS tidak akan membiarkan janji-janji kosong, sementara setiap hari mereka dihadapkan dengan hantu teror yang kini terus menebar dengan mengambil bentuk baru: bakteri anthrax. Selain kekhawatiran publik dalam negeri akan berbalik punggung, Washington juga cemas resistensi publik internasional akan semakin meluas. Di Eropa akhir pekan kemarin saja, ribuan massa di Italia, Jerman, Inggris dan Swis turun ke jalan-jalan berdemonstrasi menentang AS. Di Belanda aksi serupa telah digelar lebih dulu, melibatkan sekitar 6.000 massa di Dam, Amsterdam. Mereka memprotes aksi militer AS di Afghanistan dan mempertanyakan efektifitas kekerasan dalam mengatasi terorisme. Sebab semakin hari bukannya kelompok yang menjadi target berhasil dilumpuhkan, tetapi justru semakin banyak jatuh korban di kalangan penduduk sipil yang tak berdosa, terutama perempuan dan anak-anak.(san)
