TANGISAN DEWIYANA SAAT LEBARAN
------------------------------

     Suasana menjelang lebaran tahun ini di rumah Dewiyana memang lain. Mak-Uonya 
sudah pikun. Mungkin karena penyakit stroke yang menimpanya sejak beberapa bulan yang 
lalu. Sehingga beberapa lama tidak sadarkan diri. Malah sempat juga masuk rumah sakit. 
Apalagi usianya sudah lanjut. Hampir mendekati delapan puluh tahun.
     Sukar dibayangkan bagaimana kesedihan Dewiyana. Soalnya setiap kali memeluk 
Mak-Uonya sambil berkata, "Lihat, Mak-Uo! Dewi membawa hadiah lebaran kesukaan Mak-Uo 
...!", si Mak-Uo hanya bisa mengambil, lalu memeluknya dengan puas, tanpa mengeluarkan 
kalimat sepatah kata pun. Paling juga tersenyum sambil mengangguk. Mungkin sebagai 
isyarat ucapan terima kasih.
     Padahal Dewiyana sudah berulang kali berkata, "Ini Dewi, Mak-Uo! Cucu kesayangan 
Mak-Uo! Masih ingat kan kepada Dewi, Mak-Uo!"
     Karenanya tidak heran bila Dewiyana yang berusia delapan tahun itu akhirnya 
menangis sendirian di kamar mandi. Mengapa Mak-Uonya tidak seperti tahun yang lalu.
     Ia memang sayang kepada Mak-Uonya yang sering membawanya jalan-jalan di halaman 
rumah ketika ia masih bayi.
     Ia tidak tega melihat Mak-Uo menyambut lebaran tanpa perlengkapan lebaran yang 
lengkap, sebagaimana yang sudah-sudah. 
     "Pah! Tampaknya Mak-Uo tidak mengenal Dewi lagi", ujar Dewiyana seperti mau 
menangis di samping Fauzan Azima, ayahnya.
     "Dewi ingin Mak-Uo seperti saat Dewi masih kecil. Tersenyum setiap perayaan 
lebaran".
     Akhirnya Dewiyana sadar. Ingatan Mak-Uonya sudah jauh berkurang. Tetapi ia yakin, 
semua itu bukan keinginan Mak-Uo, tetapi akibat penyakit stroke yang dideritanya.
     Esok harinya si Mak-Uo sudah berdadan rapih, termasuk mengenakan hadiah lebaran 
yang diperolehnya dari Dewiyana, yakni sebuah sendal jepit dari kulit.
     Usai sholat Idul Fitri di Lapangan, Dewiyana kembali memeluk Mak-Uonya sambil 
berkata,
     "Oh Mak-Uo! Walaupun tidak mengenal Dewi lagi namun yakinlah Mak-Uo, Dewi sangat 
menyayangi Mak-Uo! Maafkah kesalahan Dewi selama ini, Mak-Uo!".
     Entah kenapa tiba-tiba air mata bergulir di pipi Mak-Uo. Dewi dilihatnya dalam 
waktu lama. Ia tampak seperti hendak berkata. Tetapi nggak mampu selain hanya 
mengeluarkan bunyi datar.
     "Dewi ... lihatlah! Itulah keinginan Mak-Uo sebenarnya", kata Fauzan melihatnya 
dari jauh, "Kasih sayang! Keikhlasanmu memberi hadiah lebaran itu lebih berharga bagi 
Mak-Uo daripada hadiah lebaran itu sendiri"
     Dewiyana pun menangis sambil jalan perlahan memasuki kamar papahnya,
     "Kalau begitu apa yang papah katakan tadi malam, maka Dewi akan sering memberi 
hadiah untuk Mak-Uo, lalu memeluknya, meskipun Mak-Uo tidak mengenal Dewi lagi"
     "Dewi, yang penting, bagaimana Mak-Uo merasakan kehangatan kasih sayang setiap 
kali Dewi peluk", ujar Fauzan Azima terharu sambil menciumnya. (NSR)




Kirim email ke