"Meski jalan saya sudah pincang, saya ingin datang agar bisa merasakan
langsung kesulitan mereka. Mereka juga kan saudara kita,"

Kalau saja kejadian seperti ini selalu dilakukan tanpa pernah memikirkan
saya ini suku A, saya ini suku B, saya ini keturunan C, saya ini keturunan
D, betapa indahnya yach Indonesia kita?


Indonesia satu saudara,
-t-
++++++++++

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0202/27/JATIM/mato32.htm

Mator Kasoon, Kamsia..."

Kompas/sutta dharmasaputra

USIA Go Khim Toen sudah lebih dari 70 tahun. Meski demikian, kakek yang
sejak muda mengembangkan Yayasan Sin Hua High School itu tetap ngotot
berangkat ke Situbondo dan Bondowoso, padahal kondisi jalan pascabencana
banjir dan tanah longsor sekarang ini tidak nyaman dan berbahaya jika turun
hujan.

Tekadnya sangat besar mengunjungi dan menyampaikan bantuan secara langsung
kepada para korban bencana banjir di sana. Semangatnya telah mengalahkan
tubuh rentanya, dan yang lebih unik lagi dia tidak sendiri, sesama kaum
tua, mencoba memberikan bakti pada negeri ini, mengembalikan semangat
persatuan pada negerinya.

Termasuk Aryani, nenek berusia 64 tahun yang jalannya sudah
terpincang-pincang karena mengidap rematik akut, juga tak mau ketinggalan.
Alumni sekolah Tionghoa Sin Hua High School (SHHS) Surabaya tahun 1930-an
itu dengan semangat menyala mendatangi sejumlah pos pemberian bantuan.

Dengan dituntun anaknya, ia berjalan perlahan mendekati pos yang ada.
Kemudian, dia bersama alumnus SHHS lainnya, yang umumnya berumur 50 tahun
ke atas, membagikan paket bantuan kepada sejumlah korban.

"Meski jalan saya sudah pincang, saya ingin datang agar bisa merasakan
langsung kesulitan mereka. Mereka juga kan saudara kita," ucapnya dengan
logat pelo kepada Kompas, Minggu (17/2), di tengah acara pemberian bantuan
kepada warga Desa Sumberkolak Krajan, Kecamatan Penarukan, Kabupaten
Situbondo.


***


KEHADIRAN rombongan SHHS ke Situbondo dan Bondowoso memang mengundang
perhatian warga sekitar. Begitu anggota rombongan turun dari bus, mata
warga memandang dengan penuh tanda tanya. "Wah, rombongan iki Cino kabeh
(Wah, rombongan ini semuanya warga Tionghoa-Red)," ujar seorang warga
Situbondo berbisik kepada rekan-rekannya yang lain.

Anehnya lagi, rombongan ini bukanlah mereka yang masih muda, sebagian besar
sudah berusia lanjut. Tidak sedikit di antara mereka sudah berusia 50 tahun
lebih, dan beberapa sudah berusia dari 70 tahun lebih.

Bagi seorang yang masih muda, perjalanan darat
Surabaya-Bondowoso-Situbondo-Surabaya yang mencapai 500 kilometer tentu
bukan soal. Tetapi, bagi Go Khim Toen dan rekan yang sudah berumur itu
tentunya bukan hal remeh.

Apalagi lokasi yang dikunjungi bukan tempat wisata, tetapi daerah yang
tertimpa musibah banjir. Berkunjung ke sejumlah lokasi bencana alam
tentunya membawa segudang risiko bagi orang-orang seusianya. Soalnya,
kondisi medan maupun masyarakat yang tertimpa musibah dalam keadaan
abnormal.

Orang pun menjadi bertanya-tanya, kok mau-maunya para tua renta itu datang
jauh-jauh ke lokasi banjir yang oleh sebagian besar orang dihindari.
Barangkali hanya para pekerja sukarela yang mengabdikan diri pada
masalah-masalah sosial yang mau memberikan bantuan kepada mereka yang
menderita ini.

Yang lebih mengherankan lagi, ternyata pada sosok fisik tua itu adalah
sejumlah bos yang ingin menunjukkan perhatiannya pada sesama umat manusia
yang menderita. Seperti Ali Wijaya (bos PT Chyoda), dan Ny Linda, pemilik
Hotel Bintang Lima Grand Mirage di Nusa Dua. Mereka pun berbaur menjadi
satu. Barangkali, karena hal ini pula maka kepedulian sosial ini
membangkitkan rasa haru baik bagi diri penerima bantuan maupun pemberi
bantuan.

"Ci, mator kasoon... (Kakak, terima kasih...-Red). Orang Tionghoa itu baik
yah.... Kenapa harus ada yang rumahnya dibakar. Yang bakar-bakar itu yang
jahat," ujar Mbok Mujenang dengan mata berkaca.

Mendengar itu, mata para alumni SHHS pun ikut berkaca. Mereka terharu
melihat ketegaran dan ketabahan hati para korban bencana. Mereka juga
terharu karena dihargai sebagai sesama manusia, tidak membedakan warna
kulit, status sosial, ataupun atribut lainnya.


***


YAYASAN Sin Hua High School ternyata memang mengemas acara kunjungan ke
Situbondo dan Bondowoso bukan semata-mata untuk menyampaikan bantuan,
tetapi juga untuk lebih mempererat hubungan berbangsa yang selama ini
terkesan terkotak-kotak.

"Kami datang bukan sekadar memberi bantuan, tetapi yang terpenting juga
menumbuhkan semangat berbangsa," ujar Suharsa, Pelindung SHHS Surabaya
dengan tulus.

Bantuan yang diserahkan pada korban banjir di Bondowoso dan Situbondo
sebanyak 3.000 paket. Masing-masing paket terdiri dari lima kilogram beras,
satu kilogram gula, 10 bungkus mi instan, dan selembar sarung. Mereka juga
memberikan 600 stel baju seragam untuk anak-anak sekolah dasar yang
tertimpa musibah.

Berbeda dengan umumnya donatur, meski bantuan yang diberikan cukup besar,
mereka telah mengemas menjadi paket-paket kecil dan disampaikan langsung
pada korban bencana tanpa peratara.

Menurut Panitia Pelaksana Matali, membagi berton-ton beras menjadi
kantung-kantung kecil memang merepotkan. Demikian juga menyampaikan bantuan
kepada korban secara langsung. Namun, dari hal itulah terjadi interaksi
sosial antara pemberi dan penerima sebagai satu bangsa.

Terlepas dari kekurangan yang ada di sana-sini, inisiatif SHHS mengajak
warga Tionghoa untuk berkunjung ke lokasi banjir di Situbondo dan
Bondowoso, bagaikan air segar di tengah gurun pasir. Tak ada lagi pembedaan
suku, agama, ras, dan golongan. Yang tersisa hanyalah perasaan saudara
sebangsa.

Sebuah permulaan yang baik di tahun 2002, tahun Kuda Air. Mator kasoon
alumnus SHHS, Kamsia (terima kasih-Red) warga Situbondo dan Bondowoso.

Kirim email ke