Minggu, 10 Maret 2002, 18:03 WIB

PERC: Indonesia Negara Paling Korup di Asia

Singapura, Minggu

Hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang diumumkan Minggu (10/3), menempatkan Indonesia sebagai negara paling korup di Asia dengan tingkat skor 9.92, angka terjelek bagi RI sejak PERC melakukan survei pada tahun 1995.

Survei yang dilakukan atas 1.000 pengusaha ekspatriat di 12 negara Asia juga menunjukkan bahwa Singapura, Jepang dan Hong Kong sebagai negara yang paling rendah tingkat korupsinya.

"Sulit mempercayai bahwa masalah korupsi di Indonesia dapat terus memburuk, tetapi itulah yang terjadi. Seluruh sistem hukum nasional berantakan, sehingga pengadilan tidak mampu menawarkan perlindungan," kata PERC yang berkantor di Hong Kong.

India menduduki posisi kedua sebagai negara terkorup dengan skor 9,17, turun tipis dari 9,25 pada survei tahun lalu. Sedangkan Vietnam dinilai sebagai negara terkorup ketiga dengan skor 8,25, tetapi angka itu turun tajam dibandingkan 9,75 tahun 2001.

Dari sisi positifnya, survei mengungkapkan bahwa rata-rata tingkat korupsi tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. "Namun, dengan pengecualian beberapa negara, masalah korupsi tetap terlalu sulit untuk diberantas," sebutnya.

"Apa yang menarik adalah bahwa di hampir setiap negara kisarannya sangat sempit. Ada semacam konsensus luas bahwa maraknya korupsi sebagai masalah bisnis," ungkap survei.

Di dalam skala 1-10 dengan angka satu sebagai skor terbaik, Singapura menduduki posisi teratas dengan skor 0,90, diikuti Jepang (3,25) dan Hong Kong (3,33).

"Dari negara-negara di Asia, hanya Singapura yang tetap mempunyai reputasi yang sama atau bahkan melampaui negara-negara Barat seperti AS, Inggris dan Australia," katanya.

Sementara di luar ketiga negara itu, nilainya di atas 5,0. Malaysia mendapat skor 5,1 atau lebih baik dari 6,0 pada 2001, diikuti Korea Selatan 5,75, turun dari 7,0 tahun lalu.

Taiwan mendapat nilai 5,83, mengalahkan Cina 7,0 yang meningkat dibandingkan rating tahun 2001 dengan 7,88.

Filipina yang tingkat korupsinya digambarkan oleh PERC sebagai "buruk", mencatat skor 8,0, naik dari tahun lalu 9,0. Kemajuan penting yang terjadi di Filipina setelah Presiden Gloria Arroyo mengambilalih pemerintahan dari Joseph Estrada tahun lalu, tetapi menekankan bahwa skor Manila tetap di bawah rata-rata.

PERC mencatat, korupsi di Asia bisa semakin sulit dikurangi ketika pemerintah dan pengusaha Asia menggunakan kasus ambruknya raksasa energi AS Enron Corp.--yang juga akibat korupsi--sebagai contoh untuk menghindari tekanan melakukan transparansi khususnya oleh Amerika Serikat (AS).

"Namun upaya menerapkan standar peraturan yang lebih keras menyusul kejatuhan Enron, akan membuat lebih banyak perusahaan-perusahaan di Asia tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut," katanya.

Di sisi lain, Asia dapat menolak tekanan Barat untuk melakukan reformasi dengan menyatakan, kebangkrutan Enron juga cermin korupsi di perusahaan AS.

"AS tentu saja tidak akan menghentikan tekanan kepada pemerintah di negara-negara Asia untuk mengambil standar tertentu, tetapi jika AS mulai menunjukkan perilaku seperti kerajaan tanpa baju tetapi memberitahu ke orang lain bagaimana cara berpakaian, maka itu akan sangat dilecehkan oleh mereka yang ditekan," kata PERC.
(Ant/AFP/edj)

Kirim email ke