----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> Date: Tue, 26 Nov 2002 14:56:19 +0700 To: <[EMAIL PROTECTED]> Subject: A Maulani : Intel dan Bom
> > GATRA.com - KORAN The Manila Times edisi 29 Mei 2002 melaporkan, seorang > > Amerika, Michael Meiring, 65 tahun, ditemukan putus kakinya dan > > mengalami luka bakar pada beberapa bagian tubuhnya, karena meledaknya > > sebuah bom berkekuatan tinggi miliknya pada 16 Mei 2002, di sebuah kamar > > Evergreen Hotel di kota Davao, Filipina. Jaksa Davao, Raul Bendico, baru > > mengetahui kemudian bahwa Meiring anggota intel Amerika kelas kakap. In > > absentia, oleh Raul Bendico, ia dituduh sebagai teroris dengan > > "pemilikan bahan ledak secara tidak sah dan kelalaian menangani material > > bahan berbahaya." > > > > Begitu peristiwa itu terjadi, staf Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika > > bergegas ke tempat kecelakaan, dan para anggota National Security > > Agency, CIA dan FBI memblokir tempat tersebut. Tidak ada orang yang > > boleh masuk kecuali dokter kedutaan yang mendampingi Meiring yang, > > dengan pengawalan polisi, dilarikan hari itu juga dengan pesawat carter > > ke San Diego, Amerika. Penyelamatan Meiring dilaksanakan atas perintah > > langsung Presiden George W. Bush dengan persetujuan Presiden Gloria > > Macapagal-Arroyo. Seorang rekan Meiring mengatakan, ia membawa sepucuk > > surat dari Kedubes Amerika di Manila. Isinya: Meiring tidak bisa dituduh > > dengan dalil apa pun berkenaan dengan kejahatan kasus peledakan itu. > > > > Koran The Philipine Star dalam investigasinya melaporkan, Meiring tiba > > di Filipina pada 1992, dikenal sebagai "orang kaya" dengan usaha di > > bidang macam-macam, terutama mencarai "barang antik", menggunakan nama > > perusahaan Porousia International Trading Co. Dalam tempo 10 tahun, ia > > berhasil membina hubungan baik dengan para pejabat sipil dan kepolisian > > di Mindanao Selatan, dan di balik itu juga dengan tokoh-tokoh dari MNLF > > Nur Misuari, MILF Hashim Salamat, Panglima Tentara Rakyat Baru (NPA) > > Romo Navarro, Panglima MNLF Tony Nasa, serta tokoh-tokoh yang > > dibutuhkannya untuk berhubungan dengan kelompok Abu Sayyaf. > > > > Diketahui, Meiring memberikan dukungan dana, baik kepada MNLF, MILF, > > maupun kelompok Abu Sayyaf, dengan dalih sebagai pembayaran untuk > > pembelian "barang antik". Itu ternyata merupakan suatu komplotan bersama > > agen-agen intel CIA, Bob Gould, Frederick Obado, dan Nina North, dengan > > alamat Fremont di California, dengan para pejuang Islam fundamentalis > > untuk mengacau di Sabah, Malaysia Timur. > > > > Meiring dan komplotan CIA-nya sedang mendorong suatu rencana pengacauan > > di Sabah oleh kaum fundamentalis muslim Bangsa Moro di bawah bendera > > "Borneo National Liberation Front" dalam rangka pembentukan "The United > > States of Mindanao and North Borneo". Hubungan haram antara CIA dan Abu > > Sayyaf tidak usah bikin heran. Senator Filipina Aquilino Pimentel > > menyatakan, Abu Sayyaf adalah kelompok yang "diorganisir, dibiayai, dan > > dilatih mula pertamanya oleh dinas rahasia Ronald Reagan". Perkara CIA > > gemar mengobok-obok negeri orang juga bukan hal luar biasa. CIA bahkan > > gemar memanipulasi negerinya sendiri. > > > > *** > > > > Pada akhir pekan, 18-19 Oktober 1980, seorang mantan dan seorang lagi > > calon pemimpin CIA di Paris, Prancis, bertemu dengan utusan dari suatu > > "rezim teroris". Mereka merancang bagaimana memanipulasi hasil pemilihan > > Presiden Amerika Serikat yang akan berlangsung. Sebenarnya, kegiatan > > seperti itu sudah dapat dikategorikan pengkhianatan terhadap negara. > > Tetapi, kegiatan semacam itu tidak terlalu diambil pusing oleh George > > Bush (sepuh), Kepala CIA pada waktu itu, serta William Casey, calon > > penggantinya. Mereka berunding dengan utusan Ayatullah Rohullah > > Khomeini, membahas agar 52 diplomat Amerika yang disandera di Kedubes > > Amerika di Teheran tetap terus ditahan sampai selesainya kontes > > pemilihan Presiden Amerika pada November 1980, antara Presiden Jimmy > > Carter dan penantangnya, Ronald Reagan. > > > > Bush dan Casey dikirim ke Paris untuk bertemu dengan utusan Khomeini, > > menawarkan kesepakatan rahasia --agar Iran tetap menyekap para sandera > > Amerika itu sampai Reagan berhasil masuk ke Gedung Putih. Apa > > iming-imingnya? Kalau menang, pemerintahan baru Reagan-Bush akan memasok > > peralatan militer kepada Iran secara rahasia. > > > > Pemerintahan Ayatullah Khomeini memutuskan: setuju mendukung pasangan > > Reagan-Bush; Iran akan terus menahan para sandera itu sampai menit-menit > > terakhir diraihnya kemenangan oleh Reagan atas Jimmy Carter. Hasilnya, > > Reagan memenangkan kontes kepresidenan karena "berhasil membebaskan > > sandera" Amerika di Teheran. Kemudian, sebagaimana diketahui, sogokan > > berupa perlengkapan militer Amerika yang dijanjikan Bush dan Casey > > diurus seorang agen CIA, Letnan Kolonel Oliver North, yang ketika bocor > > kondang dikenal dengan "skandal Iran-Contra". > > > > Tetapi, Iran juga ditipu Reagan. Sambil mengirimkan senjata-senjata itu > > ke Teheran, Reagan dan Bush diam-diam merangkul musuh bebuyutan > > Khomeini: Saddam Hussein. Amerika memasoknya dengan persenjataan, > > membantu invasinya ke Iran, mendukungnya dengan intelijen militer, dan > > membiarkan Saddam menghabisi tentara dan penduduk sipil Iran dengan > > senjata kimia beracun. Ketika George Bush sepuh naik ke Oval Office > > menggantikan Reagan, ia mengirimkan berton-ton material dan teknologi > > untuk memberi kemampuan kepada Saddam Hussein mengembangkan persenjataan > > biologi, kimia, dan nuklirnya. > > > > Maka, jika sekarang Saddam Hussein dituduh memiliki kemampuan mengancam > > dunia dengan senjata biologi, kimia, dan senjata-perusak-massal (WMD), > > penanggung jawab sebenarnya tidak lain adalah George Bush sepuh. Walter > > Lippmann menyebutkan, "penukangan" semacam itu tidak pernah lepas dari > > tangan CIA dan organisasi semacamnya. > > > > *** > > > > Indonesia sudah lama dituduh sebagai mata rantai paling lemah dalam > > upaya perang melawan terorisme di Asia Tenggara. Selama ini, para > > pejabat Indonesia bersikeras, Al-Qaeda tidak ada di Indonesia. Lima > > bulan lalu, Mabes Polri pernah mewawancarai tokoh yang disebut-sebut > > pihak Amerika sebagai bos jaringan teroris di Indonesia, Ustad Abu Bakar > > Ba'asyir, dan melepaskannya dengan keterangan, "Ba'asyir tidak terlibat > > dalam jaringan ataupun kegiatan terorisme." > > > > Ledakan bom di Bali yang begitu dahsyat, konon dilihat dari jumlah > > korban yang jatuh adalah yang kedua terbesar sesudah serangan terhadap > > Gedung WTC New York, harus dibaca sebagai peringatan kepada Indonesia. > > Karena? Tidak sampai satu hari, Washington, London, Canberra, tanpa > > banyak pikir memvonis, bangsat di belakang peledakan itu adalah Muhammad > > Khalifah, adik ipar Osama bin Laden dari Al-Qaeda. Karenanya, Indonesia > > tidak boleh lagi ragu-ragu menindak jaringan Al-Qaeda yang ada di > > Indonesia. > > > > Dari begitu dahsyatnya akibat yang ditimbulkan bom tersebut, dan > > ciri-ciri yang ada, Joe Vialls, pakar bahan peledak, sampai berucap, > > "hanya idiot" yang menolak bahwa bom itu bukan dari jenis > > nonkonvensional. Kesimpulan banyak pihak, terakhir kesaksian Kapten > > Jonattan Garland, perwira Angkatan Darat Australia, yang ada di situs > > kejadian, memperkuat kesimpulan tentang digunakannya senjata > > nonkonvensional di Legian, Bali. > > > > Bom itu sendiri, terlepas dari berbagai analisis tentang artinya bagi > > Indonesia, dapat dibaca sebagai pretext kepada Amerika untuk melakukan > > serbuan ke Irak, karena dosa-dosa Al-Qaeda di pantai Legian-Kuta, met of > > zonder resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagaimana pemboman WTC, > > menjadi dalih bagi Amerika untuk melancarkan serbuan ke negara miskin > > Afghanistan. Amerika selama ini menuduh Irak telah memberikan dukungan > > dana dan sebagainya kepada Al-Qaeda, suatu tuduhan yang tidak masuk > > akal, mengingat Al-Qaeda yang Wahhabi-fundamentalis tidak akan bersedia > > bekerja sama dengan Saddam Hussein yang sekuler-marxis. > > > > Bom seperti yang meledak di Bali begitu dahsyatnya, teknologinya belum > > dikuasai kelompok yang gila sekali pun di Indonesia. Dapat diduga, itu > > hasil kerja profesional dari luar Indonesia, barangkali dibantu kelompok > > "locals". Keduanya tampaknya tidak pernah akan terungkap. > > > > Namun, kasus gegernya parlemen Taiwan menuntut dipecatnya Menteri Luar > > Negerinya --karena sudah mengetahui akan ada peledakan bom di Bali pada > > 12 Oktober 2002, konon berkat tips dari CIA-- mengungkap siapa > > sebenarnya yang berada di belakang pemboman di Bali > > (http.//taiwannews.com, 15 October 2002). > > > > Sebagaimana kisah tentang Mister Meiring tadi, pemerintah asing, bahkan > > International Crime Court di Den Haag, Belanda, sekali pun, tidak > > sanggup menjamah warga negara Amerika yang terlibat kasus kriminal > > perang di luar negeri. Maka, kasus ini akan terus gelap, dan > > korban-korban kambing hitam akan terus berjatuhan. > > > > Belajar dari kasus adu domba Irak-Iran dan Sabah tadi, seorang > > Indonesianis, Daniel Lev, memberikan saran kepada Pemerintah Indonesia > > agar tidak terseret pada kepentingan asing jangka pendek, dan lebih baik > > memberikan perhatiannya pada kepentingan nasional Indonesia jangka > > panjang. > > > > Kita diuji, sesudah peledakan bom Bali, apakah masih mampu menegakkan > > politik luar negeri yang bebas-aktif, kebijakan dalam negeri dengan > > kepala tegak, dan kemampuan menegakkan yurisdiksi hukum nasional kita > > yang berdaulat berdasarkan keadilan dan kebenaran dalam menangani > > kasus-kasus terorisme di Indonesia. Wallahua'lam bis-shawab. > > > > [ZA Maulani, Mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara] > > [Kolom, GATRA, Nomor 01 Beredar Senin 18 November 2002] > -- _______________________________________________ Sign-up for your own FREE Personalized E-mail at Mail.com http://www.mail.com/?sr=signup One click access to the Top Search Engines http://www.exactsearchbar.com/mailcom
