Bacaan akhir pekan. Selamat membaca.
/w/
----- Original Message -----
Date: Thu, 2 Jan 2003 14:36:10 +0700
Subject: Fyi - Indosat: Siapa yang membohongi rakyat (1)

> EKSKLUSIF
>
> Ada Apa dengan Indosat (1)
>
> Siapa yang Sebetulnya Membohongi Rakyat?
>
> Oleh Wartawan " Pembaruan" Bondan Winarno
>
>
> LAKSAMANA Sukardi, Menteri Negara BUMN, sedang
> diganyang politisi, pakar, dan juga media massa.
> Privatisasi Indosat membuat lampu sorot yang panas
> memanggang dirinya. Baru kembali dari berlibur pada
> Sabtu sore (28/12), malam itu juga ia langsung
> menjumpai para pemimpin redaksi dari berbagai surat
> kabar. "Saya pikir semuanya sudah beres, karena itu
> saya berani mengambil cuti untuk sedikit berlibur,"
> katanya, nyaris lunglai. Hari Minggu (29/12), ia sudah
> berangkat lagi ke Bali untuk sebuah misi yang
> diketuainya. Malam itu ia didampingi Menteri
> Komunikasi dan Informasi Syamsul Muarif dan Direktur
> Utama Indosat Widya Purnama yang tampak lebam mata
> kirinya - kena gebuk pengunjuk rasa ketika Rapat Umum
> Pemegang Saham Luar Biasa sehari sebelumnya.
>
> Dalam pertemuan terbatas itu, Laks (begitu ia akrab
> dipanggil) memberikan penjelasan tentang proses
> privatisasi PT Indosat Tbk. Penjelasan yang diberikan
> Laks itu sebenarnya bukanlah hal baru. Semuanya
> menyangkut technicalities proses privatisasi yang
> menunjukkan ketaatan (compliance) pada asas. Proses
> privatisasi Indosat itu selalu mendapat perhatian
> media massa. Hingga tahap shortlist yang mengunggulkan
> dua bidders terbaik, belum ada reaksi masyarakat.
> Bahkan terakhir pada 14 Desember 2002 ketika Singapore
> Technologies Telemedia Pte Ltd (STT) diumumkan keluar
> sebagai pemenang, masyarakat tetap menerima kabar itu
> sebagai sebuah kewajaran.
>
> Bursa saham pun bereaksi positif terhadap prospek
> privatisasi Indosat itu. Harga saham beberapa
> perusahaan di bursa efek ikut terdongkrak karena
> sentimen positif ini.
>
> Tetapi, seminggu kemudian, ketika yang menandatangani
> sales and purchase agreement ternyata bukan STT,
> melainkan special purpose vehicle-nya yang bernama ICL
> (Indonesian Communications Limited) berkedudukan di
> Mauritius, tiba-tiba muncul reaksi. Mungkin karena ICL
> berkedudukan di Mauritius - sama dengan kedudukan
> perusahaan asing yang membeli BCA - masyarakat menduga
> ada bau tak sedap di balik skenario itu.
>
> Masyarakat kita tampaknya memang belum cukup mengenal
> fungsi dan peran special purpose vehicle (SPV
> merupakan perusahaan yang khusus dibentuk sebagai
> wahana). Padahal, SPV bukanlah hal yang aneh dalam
> bisnis. BPPN, misalnya, punya PT Holdiko Perkasa
> sebagai SPV. Hampir semua akuisisi dan restrukturisasi
> memanfaatkan SPV sebagai instrumen strategis. Dan
> karena keringanan pajak, banyak SPV yang didirikan di
> Mauritius, British Virgin Island, Cayman Island, dan
> lain-lain.
>
>
> Taat Asas
>
> "Setiap tahun, sejak 1999 hingga 2002, MPR selalu
> mengamanatkan perlunya restrukturisasi dan privatisasi
> BUMN," kata Laks sambil menunjukkan empat Tap MPR yang
> memuat amanat privatisasi itu. Laks tentu saja tidak
> perlu menyebut semua Tap MPR itu ditandatangani oleh
> Amien Rais, Ketua MPR RI, yang kini justru tengah
> bersilang-kata dengan Laks dalam kasus Indosat ini.
>
> "Salah satu Tap MPR itu, yaitu Nomor VIII/MPR/2000
> antara lain menyebut privatisasi agar dilakukan secara
> sangat selektif dan dikonsultasikan terlebih dulu
> dengan DPR. Ini pun sudah kami patuhi. Kami bertanya
> kepada DPR, komisi mana yang cocok sebagai mitra kami
> untuk urusan privatisasi ini. Kami diberi tahu Komisi
> IX-lah yang berwenang," kata Laks.
>
> Untuk urusan privatisasi Indosat ini, Laks memang
> sudah mengantongi izin dari Komizi IX DPR. Komisi IX
> sebetulnya sudah memberikan keputusan untuk
> privatisasi tujuh BUMN pada 2001, yaitu PT Indosat, PT
> Wisma Nusantara Indonesia, PT Indofarma, PT Tambang
> Batubara Bukit Asam, Bank Mandiri, PT Angkasa Pura II
> (Bandara Soekarno-Hatta), dan PT Kimia Farma. Pada
> pertemuan 19 November 2002, Komisi IX menegaskan bahwa
> privatisasi untuk empat BUMN yang disebut pertama bisa
> dilanjutkan, sedangkan untuk tiga yang disebut
> terakhir agar dilaksanakan case by case dan
> dikonsultasikan lagi dengan DPR. Rencana pendapatan
> dari privatisasi bahkan sudah dianggarkan dalam APBN
> 2002-2003.
>
> Masyarakat mungkin alpa, APBN adalah undang-undang.
> Dan, notabene, undang-undang itu dikeluarkan oleh DPR
> RI sebagai lembaga legislatif. Undang-undang APBN itu
> telah menyepakati anggaran pendapatan dari privatisasi
> sebesar Rp 6,5 triliun untuk tahun 2002-2003. Untuk
> tahun anggaran ini, Laks bahkan tampaknya akan
> berhasil membukukan pendapatan Rp 8,1 triliun dari
> privatisasi - 24 persen di atas target. Kenapa ia
> malah diserang? Apa jadinya kalau ia malah tekor
> mengejar setoran APBN? Serangan macam apa pula yang
> akan dihadapinya?
>
>
>
> Ada pemeo Barat yang mengatakan who is asleep at the
> wheel? Siapa yang tertidur di roda kemudi? Mengapa DPR
> seolah-olah baru terbangun dari tidur dan kebakaran
> jenggot dalam soal privatisasi Indosat? Bukankah
> rencana penjualan saham Indosat sudah dibicarakan
> sejak tahun 2001? Atau, kalau memang DPR tidak
> menghendaki BUMN dijual kepada pihak asing, mestinya
> DPR bisa memagari agar penjualan saham BUMN hanya
> boleh dilakukan kepada warga negara Indonesia. Hal ini
> memang pernah terjadi di Jepang, misalnya, ketika
> melakukan privatisasi NTT.
>
> Tetapi, kondisi Indosat memang berbeda dengan NTT
> (Nippon Telegraph & Telephone) yang pada 1986-1988
> secara bertahap melepas seluruh saham Pemerintah
> Kerajaan Jepang (semula berjumlah 34,6 persen). Saham
> itu melulu dijual kepada investor domestik dan
> berhasil menggalang dana sebesar US$78,6 miliar.
> Secara teoretis saja kita mudah menduga bahwa tidak
> ada investor domestik yang sudi membayar saham Indosat
> dengan harga Rp 12,950 (lebih 50 persen di atas harga
> di pasar modal) untuk membeli 41,94 persen saham
> Indosat senilai Rp 5,62 triliun itu. Negara memang
> menjual. Tetapi, bila rakyat tidak merasa perlu
> membeli, mengapa kita berteriak ketika yang membeli
> ternyata kemudian pihak asing?
>
> Privatisasi, kata Laks, justru akan meningkatkan
> transparansi dan akuntabilitas. Memang, dengan
> privatisasi banyak pejabat yang akan kehilangan
> kenikmatan. " BUMN kita kenal sebagai sarang korupsi
> dan breeding ground untuk berbagai kasus korupsi.
> Mumpung saya menjabat sebagai Menneg BUMN, saya ingin
> ubah tradisi itu," kata Laks. Kalau pihak asing sudah
> jadi pemegang saham signifikan, partai politik pasti
> akan sungkan minta " jatah" .
>
> Hiruk-pikuk seperti dalam kasus Indosat ini, menurut
> Laks, tidak memberikan edukasi publik yang baik.
> Sialnya, investor akan semakin takut " menjamah"
> Indonesia. Laks telah dihujat membohingi rakyat.
> Tetapi, bila bukan dia, siapa sebetulnya yang
> membohongi rakyat?
>
>
> Politisasi Kasus
>
> Tajuk Rencana Pembaruan belum lama ini memprediksi
> 2003 akan menjadi tahun yang semakin repot bagi
> soal-soal ekonomi. Menjelang Pemilu, para politisi
> akan mengusung isu-isu yang seolah-olah populis,
> tetapi mungkin malah berdampak buruk bagi ekonomi
> jangka panjang. Para eksekutif pun akan takut
> melaksanakan kebijakan yang tidak populis, karena akan
> merugikan dirinya maupun partainya. Akibatnya jelas.
> Kebijakan dan langkah-langkah ekonomi yang terjadi
> pada 2003 akan lebih bersifat arbitrer, dan mungkin
> sekali akan semakin membuat kita terpuruk.
>
> Ternyata, kita tidak harus menunggu hingga 2003 untuk
> membuktikannya. Beberapa kasus politisasi telah
> mengemuka menjelang penutupan tahun. Rahardi Ramelan,
> misalnya, merasa dirinya telah menjadi korban
> politisasi demi kepentingan suatu partai, dan pada
> akhir Desember diganjar hukuman dua tahun penjara.
> Privatisasi Indosat juga merupakan kasus yang semakin
> jelas aroma politiknya.
>
> Seorang wartawan melaporkan, sebetulnya Fuad Bawazir -
> yang diduga mempunyai saham Indosat dan berhak ikut
> Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa - sudah berhasil
> memasuki gedung Indosat dengan aman. Tetapi, begitu
> melihat AM Fatwa melompati pagar, ia pun keluar lagi
> dan memasuki gedung dengan melompati pagar. Adegan
> inilah yang dipotret wartawan dan menjadi berita.
> Cerdik!
>
> Tanpa menyebut kemungkinan PAN " sakit hati" , surat
> kabar Singapura The Straits Times menyebut bahwa AM
> Fatwa dan Fuad Bawazir telah minta Amien Rais untuk
> mendukung Telkom Malaysia sebagai pembeli saham
> Indosat. Bagaimanapun, nuansa politisasi memang terasa
> kental dalam isu ini. Adakah kemungkinan PAN berebut "
> setoran" dengan PDI-P dalam pertarungan ini?
> Jangan-jangan, Laks hanyalah sasaran antara. Sasaran
> utamanya mungkin justru Presiden Megawati yang oleh
> satu kubu politik telah disebut-sebut harus
> bertanggung jawab atas penjualan saham BUMN kepada
> asing.
>
> Contoh politisasi tampak mencuat pada kehadiran
> beberapa anggota DPR-RI pada Rapat Umum Pemegang Saham
> Luar Biasa PT Indosat Tbk. Mengapa wakil rakyat
> seolah-olah tidak mengerti aturan? Bukankah yang
> berhak angkat suara dalam rapat itu hanyalah mereka
> yang punya saham? (Catatan: Fuad diketahui mempunyai
> saham Indosat. Sedang Fatwa dikabarkan hadir dengan
> membawa proksi dari pemegang saham yang absen).
> Mengapa mereka malah mengajukan interupsi? Bukankah
> ini sebuah show buruk yang memercik ke wajah kita yang
> sudah buruk ini? Mengapa mereka tidak beli saham
> Indosat agar dapat meng-exercise hak mereka? Dan kalau
> secara bersama orang Indonesia sudi membeli 41,94
> persen saham Indosat senilai Rp 5,62 triliun itu,
> mungkin kita tidak perlu investor asing untuk memodali
> Indosat mengembangkan usahanya.
>
> Lucunya, di Singapura STT justru mendapat kecaman dari
> analis pasar modal karena dianggap membeli Indosat
> dengan harga terlalu tinggi. Sebaliknya, di Indonesia,
> orang-orang yang tidak sudi membeli saham Indosat
> malah berkomentar bahwa pemerintah terlalu murah
> menjual saham Indosat. Kalau memang murah, kenapa
> tidak diborong sendiri saja?
>
> "Sekarang ini yang paling enak memang menjadi oposan,"
> kata Laks. Sebaliknya, tentu saja celaka bagi mereka
> yang duduk di pemerintahan dan menjadi bulan-bulanan
> para politisi. "Opsinya bagi kami hanya dua. Menjadi
> populis, tetapi fatalistik. Atau menjadi tidak populis
> dan tidak populer. Kami memilih yang terakhir.
> Masyarakat tidak bisa dan tidak boleh dibodohi,"
> katanya lagi.
>
>
> Asas Manfaat
>
> Ketika hiruk-pikuk melanda privatisasi BCA awal tahun
> ini, Pembaruan juga pernah menulis, masyarakat kita
> masih memerlukan pendidikan untuk memahami dan
> membedakan asas kepemilikan dan asas manfaat. Mana
> yang lebih penting? Memiliki, atau memperoleh manfaat
> tertinggi dari yang kita miliki itu? Apa gunanya kita
> memiliki, tetapi tidak memperoleh kemanfaatan apa-apa
> dari yang kita miliki itu?
>
> Pembaruan pernah mencontohkan New Zealand yang punya
> 17 bank terdaftar, tetapi milik New Zealand sendiri
> cuma lima. New Zealand punya ekonomi kuat, tetapi
> tidak merasa perlu memiliki bank sendiri secara
> dominan. Di Australia juga ada perusahaan
> telekomunikasi Optus yang mayoritas sahamnya dimiliki
> SingTel Singapura. PM Howard ketika itu hanya
> mewanti-wanti agar Singapura jangan mempengaruhi
> kebijakan Australia sebagai regulator.
>
> Privatisasi di Indonesia tidak akan pernah menjadi isu
> yang populis selama masyarakat - termasuk para
> politisi - tidak memahami asas kemanfaatan. Sebelum
> menjadi Ketua MPR-RI, pada 1997 Amien Rais juga sudah
> meneriakkan seruan miring tentang sektor pertambangan.
> Seruan yang seolah-olah populis dan nasionalis itu,
> sayangnya, tidak berlandaskan pada perundang-undangan
> yang berlaku di sektor pertambangan. Sebuah artikel di
> The Asian Wall Street Journal ketika itu menunjukkan
> betapa seruan Amien lebih berlandas pada mitos, bukan
> realitas.
>
> Masyarakat perlu memahami bahwa negara mempunyai hak
> kedaulatan (sovereign right). Dalam kasus Indosat,
> siapa pun pemiliknya, pemerintah tetap menuai manfaat
> bila perusahaan itu berjalan dengan baik. Indosat
> tidak akan dipindahkan ke Singapura sekalipun
> pemiliknya Singapura. Indosat tidak mungkin
> mempekerjakan ribuan orang Singapura yang gajinya
> tentunya jauh lebih mahal. Semua pajak yang diperoleh
> Indosat - baik pajak atas penjualan maupun
> keuntungannya - akan tetap menjadi hak pemerintah RI.
> Bila ada keuntungan atas usahanya, barulah Singapura
> memperoleh dividen. Hal yang amat wajar dalam bisnis.
>
> Paling-paling STT hanya menempatkan direksi dan
> komisaris sesuai dengan jumlah sahamnya. Hal ini telah
> pula dikunci dengan aturan tidak adanya diskriminasi
> remunerasi. Artinya, direksi dan komisaris dari
> Singapura digaji sama dengan mereka yang dari
> Indonesia. Di masa lalu, pada kasus Telkomsel dan
> MGTI, pernah terjadi diskriminasi remunerasi yang
> membuat direksi asing bergaji lipat ganda.
>
> Contoh yang paling jelas di Indonesia tentang asas
> kemanfaatan mungkin adalah Unilever. Perusahaan besar
> ini dimiliki asing. Sukses Unilever membuatnya sebagai
> perusahaan pembayar pajak terbesar bagi pemerintah RI.
> Manfaat dari pajak yang disetor Unilever sangat nyata.
> Mengapa kita tidak pernah mempersoalkan kepemilikan
> Unilever? Bukankah produk-produk Unilever bahkan
> menyeruak ke bagian yang paling pribadi dari tubuh
> masyarakat Indonesia?
>
> Masyarakat agaknya juga kurang memahami bahwa investor
> tidak hanya memperoleh aset sesuai dengan bagian saham
> yang dimilikinya, tetapi juga bertanggung jawab atas
> utang dan kewajiban lain. Indosat sebagai perusahaan
> yang berbasis teknologi tentu saja mempunyai utang
> yang besar pula untuk menjalankan usahanya.
>
> " Dengan menjual semua sahamnya, pemerintah hanya akan
> kehilangan dividen. Tetapi, jangan lupa, pemerintah
> masih punya satu lembar saham Seri A yang membuat
> posisinya tetap sangat dominan bagi masa depan
> Indosat. Apalagi pemerintah juga tetap menjadi
> regulator yang menguasai sektor telekomunikasi," kata
> Laks. Lebih lanjut Laks memberi ilustrasi tentang
> perusahaan perkebunan milik asing di Indonesia yang
> karena dikelola dengan baik menghasilkan pajak bagi
> negara tiga kali lipat dibanding PTPN III untuk tiap
> hektare lahan yang dioperasikan. Dengan contoh itu,
> pajak yang diterima pemerintah jauh lebih tinggi
> daripada potensi dividen yang bakal diperolehnya dari
> kepemilikan saham.
>
> "Apakah kita akan membiarkan negara menangani begitu
> banyak perusahaan? Itulah pertanyaan filosofis yang
> harus kita jawab," kata Laks. " Saya rasa tidak.
> Terlalu banyak moral hazards bila negara kelola
> perusahaan. Sebagai orang PDI-P yang menjadi menteri,
> bagaimana kalau nanti saya tetapkan semua dirut BUMN
> orang PDI-P?" *
>
>

--
_______________________________________________
Sign-up for your own FREE Personalized E-mail at Mail.com
http://www.mail.com/?sr=signup

Meet Singles
http://corp.mail.com/lavalife

Kirim email ke