Dear mbak Diah dan rekan2 relawan lainnya,
 
I agree with "air memang amat vital." Juga ada baiknya mengulang lagi cara darurat tradisional memasak ala tungku dan kayu bakar (debris patahan kayu bisa ditemui di banyak halaman rumah yang dilanda tsunami). Kurangi penggunaan minyak dan listrik pada tingkat sekarang. Kirimkan banyak panci dan alat2 dasar memasak. Dengan cara ini setiap penduduk sudah bisa memasak air dan supermi dengan cepat. Juga kirimkan banyak jirigen plastik untuk air dan minyak tanah. Bersamaan dengan itu himbaulah pemerintah dan Pertamina untuk menyumbangkan minyak dan mobil2 tangki dari berbagai propinsi di Sumatera dan Jawa.
 
Juga perlu mengerahkan banyak truk tangki pemadam kebakaran dari berbagai propinsi untuk transportasi air. Sambil menunggu beresnya kiprah teknologi air yang dikerjakan oleh tentara Australia. Nah, jika Pertamina sempat membanjirkan bensin dan truk2 bisa didatangkan dari berbagai propinsi, maka proses pemulihan sudah berjalan 50%. Selain itu untuk mengobati infrastruktur komunikasi lokal dan regional, dukungan komunikasi dari para operator radio amatir yang sudah dilakukan sejak hari pertama perlu diteruskan dengan menambah backup radio volunteers. Thus, strategic planning macam ini yang perlu diterapkan secara terpadu. Semoga para pemimpin di pusat dan daerah bencana sempat membaca tulisan2 ini. Terimakasih.
wassalam,
w.purwinto <dx emergency support>
syracuse, new york.

Diah_12540 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear All,
Mungkin informasi ini ada manfaatnya terutama untuk pengadaan air bersih di lokasi bencana. Salam Diah

Misri Gozan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: "Misri Gozan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Putri Arfa Nilam Sari" <[EMAIL PROTECTED]>,
"Abdi Suryaningati" <[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: Dukungan Aceh(AIR)
Date: Mon, 3 Jan 2005 16:36:49 +0700

Dear semuanya,

Akses darat Medan-Aceh sdh membaik. Terbukti banyak tangki bahan bakar masuk.
Akses udara ke Aceh (dengan peswat penumpang) dari dan ke Aceh banyak
terhambat karena diutamakan peswt Hercules dan container lainnya. LIstrik dan
telepon di luar daerah hempasan air laut sudah banyak "on" (mungkin karena
infra struktur tidak terlalu rusak kena gempa). Sudah terlihat beberapa mobil
tangki air (paling tidak saya saksikan 2 milik TNI dan 1 PDAM) hilir mudik.

Air Bersih dan minum memang mutlak! Sementara ini kebutuhan di sana dipenuhi
dgn air dalam kemasan (ADK) yang meruoaan sumbangan berbagai pihak. Tapisampai kapan?
PDAM Aceh Lambaro (Aceh Besar) tdk berfungsi karena banyak karyawan dn
kel! uarganya sbg korban. Tapi sy ndak sempat mengecek langsung apakah alatnya
berfungsi (simply ndak ada orang di sana! serem, kayak gedung hantu saja).
PDAM Mata Ie masih OK, tapi hanya 2-6 jam operate karena BBM masih terbatas.
Pipa distribusi air di kota saya khawatir hancur berantakan. Jadi terlalu lama
ya kalau mengharap PDAM bangkit.

Sementara itu saya cek sumber air tanah di beberapa lokasi pengungsian (such
as Rukoh, Ule Kareng, dll) : TDSnya tinggi sekali antara 500-1500! Padahal TDS
ndak bisa hilang walau dimasak lama sekalipun (malah nambah), kecuali di RO
atau kimiawi lainnya (yg saat ini belum mungkin). Indikator lainnya ndak punya
alat cek saat itu di sana. Hanya Hidung dan Lidah bantuannya. Ironisnya banyak
penampungan pengungsi menggunakan air sumur tersebut (saya menyarankan mereka
memasak juga, karena khawatir bakteri dan organik terlarut! yg baunya cukup
jelas walau di Ule Kareng sekalipun). Juga saya sarankan penduduk utk saling
berbagi air bersih (yg TDSnya dibawah 400!

Mengenai sumbangan alat purifier air, saya usulkan agar dikirimkan ke:
1. POSKO pengungsian terutama di sekitar masjid (karena struktur masyarakat
Aceh yg memang dekat dgn masjid). Terutama dikelola oleh rekan PKS.
Banyak juga pengungsi yg sudah exodus dari POSKO non masjid (hari Jumat-Sabtu
tgl 31 des dan 1 Jan lalu saya lihat beberapa POSKO non masjid mulai agak
kosong, padahal tadinya banyak). Mungkin mereka mulai ndak betah di bawah
tenda dan masuk ke rumah-rumah penduduk. Atau mungkin ke kampung di gunung.
Tempat kami (POSKO MENPORA) juga non masjid dan termasuk penghuni rumah-rumah
penduduk. Salah satu kegiatan besar kami menyebarkan air bersih ke Posko-posko
(Seingat saya: Rukoh, UnSyiah Darussalam, Masjid Ule Kareng, Pesantren
Hidayatullah Lhok Nga, dan beberapa lainnya, catatan ada di POsko)! . Posko ini
dikomandani bpk Ir Venizano dan pemilik rumahnya mbak/kak Cut Khairan. Lokasi
di Ule Kareng, desa Ceurih (phone 0651-28617 atau 0815 8071888). Ada teknisi
air 2 org lagi sekarang di sana (mas Joko dan Alfan) serta pasukan mobile
penduduk asli Aceh (mhs UnSyiah).

2. Untuk rumah sakit serta klinik yang masih berfungsi. Dari pengamatan, hanya
RS KesDAm yg masih bisa dirujuk, itupun karena Mer-C mengerahkan segenap
bantuan paramedis dari berbagai arah (Singapur, Medan, Malaysia, Jkt, dll). RS
lainnya lumpuh! Tapi banyak klinik kecil yang ndak tahu sumber airnya dari
mana. Klinik-klinik ini kini dikelola oleh Mer-C (di Neusu, Ule Kareng, dll),
BSMI (Lambaro, dll), dan PMI (sy belum tahu dimana, tapi saya yakin ada) Saya
juga lihat mobil Sans Frontiers lalu lalang (tapi ndak tahu apakah mereka
punya lokasi klinik)

Prediksi: masalah ke depan yang terkait air: kontaminasi sumber air tanah oleh
aktifitas pengungsi dan migrasi kon! taminan patogenik dari bangkai manusia,
hewan dan kotoran lainnya yang ma! sih bergeletakan digenangi air hujan dan sisa
hempasan air laut.

Wassalam
Misri Gozan

> -----Original Message-----
> From: Abdi Suryaningati [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, December 30, 2004 1:22 AM
> To: Darwina; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: Dukungan Aceh
>
> Dear All,
>
> Saya sangat setuju dengan ide ttg unit pengelola air mobile, itu hal,
> among other things, yg saya rasa sangat diperlukan di Aceh
> sekarang. Kami punya nama-nama posko yg sudah jalan dan yg sudah
> punya channel untuk kirim bantuan ke Aceh, besok akan saya sampaikan
> beberapa nama posko dari kalangan manapun bagi yg berminat utk
> menyumbang. Ada sebuah jaringan NGO yang saat ini sedang
> mengumpulkan informasi tentang (sekaligus menginisiasi pembentukan)
> unit-unit darurat di berbagai wilaya! h di Aceh. Yang paling sulit
> memang masuk ke Aceh Barat. Selain itu, ! kami juga punya kontak dg
> lebih kurang 300 orang di 20 Kabupaten di Aceh (yang sampai malam
> ini baru bisa dihubungi dan memberi informasi ttg jumlah survival,
> keberadaan unit darurat dan dan kebutuhan riil hanya 20 orang ...
> sisanya komunikasi masih mampet!). Kalau perlu info yang sudah
> berhasil terkumpul sampai sejauh ini, juga bisa kukirim ... atau
> bisa menghubungi Wahyudi atau Firman atau Iko di kantor Yappika
> besok pagi di nomor telepon: 8191623
>
> Berita terakhir yg kami dengar dari Aceh pada pukul 20:00 malam ini adalah:
> ada donasi-donasi yang cukup banyak jumlahnya (makanan, pakaian,
> obat-obatan) yang sudah menumpuk, baik di Bandara Iskandar Muda
> maupun di beberapa tempat di Banda Aceh (belum lagi yg di Lanud
> Halim dan di Bandara Polonia). Kesulitan utama adalah pada
> pendistrib! usian secara merata dan cepat ke berbagai unit darurat
> (posko) yang sudah terbentuk di beberapa wilayah Aceh, bahkan di
> kawasan Banda Aceh sendiri. Persoalannya terletak di langkanya bahan
> bakar dan kendaraan yang bisa digunakan untuk pendistribusian
> bantuan tersebut. So, kita bisa kirim beribu koli pakaian, makanan,
> dll... tapi tersendat pendistribusiannya di Aceh sendiri lantaran
> bahan bakar dan kendaraan. Untuk sewa truk dari Medan sampai ke
> Banda Aceh, dibutuhkan dana sebesar 6 juta rupiah, belum bensinnya.
> Dan kalau kita tidak pasti tentang berapa jumlah orang yang selamat
> di satu wilayah serta kebutuhan riil yang diperlukan seluruh
> penduduk yang selamat tersebut, kita bisa bikin bencana karena
> konflik memperebutkan sumber daya yang terbatas. Simpulannya, be
> patient in sending donations to Aceh.. barangkali sampe assessment
> team siap dengan informasi yang lebih! valid tentang kebutuhan di
> berbagai lokasi. Yang kedua, pikirkan j! uga secara matang persoalan
> kelangkaan kendaraan dan bahan bakar sebagai cost ... atau bahkan sebagai
> elemen dari donasinya sendiri. Kita khan mau sampaikan dukungan itu
> langsung pada yang membutuhkan... bukan hanya untuk menjadi tumpukan
> di bandara atau di tempat-tempat tertentu saja.
>
> Anyway, saya setuju ide pengelolaan air mobile.. bila bisa tersedia dalam
> jumlah yang cukup dalam waktu yang cepat dan punya sarana
> pendistribusian... that's very good idea indeed.
>
> Salam,
> Yenni

http://www.libertyphonecard.com


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.

Kirim email ke