YATIM PIATU ATAU FAKIR MISKIN ?
--------------------------------------------
Oleh : Nasrullah Idris
 
     IBU Rosnely tidak saja dikenal sebagai pengusaha sukses, juga wanita muslim yang berhati dermawan. Entah berapa puluh juta uang yang ia keluarkan setiap bulannya untuk meringankan kaum dhuafa, terlebih pada sekitar bulan suci Ramadhan.
     Dua hari menjelang lebaran, ia sibuk mengkordinasi pembagian sedekah bersama suami dan kedua anak gadisnya, termasuk pengiriman langsung dari rumah ke rumah di lingkungan tempat tinggalnya.
     Pada kunjungan kesekian kalinya, kira-kira sejam menjelang waktu berbuka puasa, ia mendatangi sebuah rumah tua yang sudah rusak, sekitar tiga ratus meter dari rumahnya.
     "Assalamualaikum!", sapa Ibu Rosnely senyum ramah.
     "Waalaikumussalam, Ooo, ibu Ros rupanya", balas Ibu Mintarsih, seorang penjahit pakaian yang bersama suaminya menghidupi enam anak, tiga adik, dan kedua orangtuanya.
     "Silakan masuk, bu!"
     Masuklah Ibu Rosnely ke sebuah ruangan kecil, kemudian duduk di kursi yang sudah sobek dan kumal.
     "Saya membawa bingkisan makanan dan uang. Semoga bisa bermanfaat. Tetapi sebelumnya, saya ingin bertanya dulu, ada berapa anggota keluarga di sini?"
     "Banyak, sekitar tiga belas orang. Memangnya kenapa?"
     "Supaya semuanya dapat"
     Lalu Ny. Rosnely menyuruh supirnya mengambil tiga kotak besar berisi makanan dan tiga belas amplop berisi uang.
     "Terima kasih banyak, bu!", ujar Ibu Mintarsih penuh haru, "Datangnya rezeki memang tidak bisa diduga. Padahal keluarga kami hampir putus asa untuk bisa merayakan lebaran. Maklumlah, penghasilan hanya pas-pasan"
     "Ya, doakan saja, supaya Allah terus memberkati pabrik kue yang saya pimpin. Siapa tahu nanti saya bisa memberi modal yang cukup bagi usaha ibu bersama suami"
     "Amien!  Amien! Terima kasih sebelumnya"
     "Ngomong-ngomong, tidak mudik nih?", tanya Ibu Rosnely sambil menyaksikan sepasang suami-istri yang sudah manula yang duduk beralaskan tikar, yang tiada lain orangtua Ibu Mintarsih.
     "Di sini saja. Apalagi kedua orangtua saya sudah tiga tahun terakhir ini tinggal bersama saya"
     "Wah, ibu senang sekali dong, bisa merayakan lebaran bersama ibu"
     "Senang apanya, bu! Repotnya mengurus mereka bukan main. Setiap beberapa hari kali minta diantar pergi. Soalnya tidak sanggup lagi pergi sendirian. Sementara saya sibuk dengan pesanan jahitan. Belum lagi mempersiapkan keperluan berbuka puasa", gerutu Ibu Mintarsih, "Sungguh, saya benar-benar stress"
     Tiba-tiba saja air mata Ibu Rosnely bergulir di pipi sambil menelungkupkan kepalanya. Sekali-sekali terdengar isakannya.
     "Mengapa, bu? Apa ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan ibu?", tanya Ibu Mintarsih risau.
     "Ooo tidak. tidak ada. Saya hanya teringat saja dengan nasib saya"
     "Memang kenapa"
     "Sejak berusia satu bulan, saya sudah tinggal di panti asuhan yatim piatu. Kedua orangtua saya meninggal karena kecelakaan. Jadi saya hampir tidak pernah merasakan kehangatan pangkuan ayah mapun ibu.
     "Ooo ", Ibu Mintarsih terperanjat, "Eee ... apa ibu punya famili?", tanyanya tergagap-gapap.
     "Entah ya kalau ditelusuri. Sudah dicoba beberapa melalui media. Yang jelas sampai kini belum ditemukan. Insya Allah, nanti akan dicoba lagi. Apalagi saya anak tunggal", Ny. Rosnely kembali tersenyum sambil menyeka pipinya yang basah, "Sungguh, bu, saya merindukan kehadiran orangtua di sisi saya, khususnya pada saat Idul Fitri. Kadang-kadang yang melamun,  kalau saja Allah menakdirkan orangtua saya hidup kembali, saya rela meninggalkan karir saya sebagai pengusaha, asal saya tinggal bersama kedua orangtua, sekalian mengurusnya, baik suka maupun duka. Biarlah menjadi orang miskin, asal merasakan tinggal bersama orangtua. Karena saya heran bila ada orang membiarkan orangtuanya tinggal di panti jompo"
     Sebentar kemudian berpisahlah keduanya. Ibu Mintarsih mengantarkannya sampai pintu halaman. Kemudian masuk lagi ke dalam rumah.
      Kemudian balik masuk. Dengan jalan yang tergopoh-gopoh, ia menemui ayah dan ibunya. Ditatap serta dipeluknyalah keduanya.
     Entah pergolakan apa yang terjadi pada diri Ibu Mintarsih, tidak seperti biasanya. Dengan mata berkaca-kaca sambil mencium pipi ayah dan ibunya, ia hanya berkata singkat, "Besok saya antar beli baju lebaran ya!".*****

Kirim email ke