----- Original Message ----- 
From: Rudy Berliandy 
Sent: Thursday, January 25, 2007 4:53 AM
Subject: Second opinion [FW: Adam Air tidak meledak di udara -]

Adam Air Tidak Meledak di Udara

Oleh: 



Canny Watae 

warga biasa tinggal di Makassar

Saya tergerak untuk beranalisis mengingat semua analisis yang terpublikasi 
sejak kasus Adam Air ini terjadi belum ada yang menyertakan detil geografis, 
dalam artian mencocokkan informasi-informasi koordinat  Lintang dan Bujur 
dengan kondisi alam yang mendekati riil di lapangan. Juga, belum ada yang 
berusaha memasukkan kesaksian-kesaksian warga secara runut. Saya masih percaya 
kalau warga pedesaan kita cukup jujur. Orang-orang yang kelewat pintar saja 
yang salah mengambil kesimpulan dari kesaksian mereka.

Penemuan Tail Horizontal Stabilizer oleh nelayan Bakri di pantai Mallusetasi  
Kab. Barru memang penemuan yang sangat penting. Tetapi, sejauh ini belum ada 
yang berteriak "Eureka!", seperti yang dilakukan Archimedes beberapa ribu tahun 
yang lalu ketika menemukan hukum berat jenis benda.  Bagi saya, yang 
iseng-iseng "mencari " pesawat nahas dengan nomor penerbangan KI-574  via layar 
komputer, temuan Pak Bakri memacu urat spontan saya berteriak Eureka ! 

Cross-wind 74 knot (130 km/jam) yang menimpa KI-574 seperti yang disampaikan 
Menhub Hatta Radjasa (Fajar, 5/1), plus kecepatan jelajah pesawat (Cruising 
Speed)  600-700 km/jam  menghasilkan resultan gaya yang cukup besar. Jika arah 
KI-574 adalah jam 12, maka Cross-wind ini datang dari arah jam 3 (menuju jam 
9). Terjadi resultan sebesar antara akar kuadrat dari 600 kuadrat plus 130 
kuadrat ( 613 km/jam) dan 700 kuadrat plus 130 kuadrat ( 712 km/jam)  dengan 
arah vektor sekitar jam 11. Arah pesawat bergeser. Fakta menunjukkan pesawat 
bergeser, Kokpit Adam Air KI-574 sempat meminta ATC Makassar memandunya karena 
pesawat berubah arah akibat dorongan angin. Dari posisi heading timur-laut, 
bergeser ke utara. Kemudian oleh ATC Makassar pesawat diminta kembali ke 
heading semula. Ketika pilot kembali heading timur laut dari posisi heading 
utara, pesawat bukan lagi kena cross-wind melainkan parallel-wind arah 
berlawanan. Arah vektor kecepatan pesawat nyaris berlawanan dengan arah angin. 
Resultan kecepatan pesawat terhadap angin adalah minimal 600 +  130 = 730 
km/jam, dan maksimal 700 + 130 = 830 km/jam! Pengecekan saya pada alamat web 
http://uk.flyasiana .com/travelplann er/travelplanner _aircrafts. asp 
menunjukkan bahwa kecepatan jelajah maksimum B737-400 adalah 790 km/jam! My 
God,.... besar kemungkinan gerak relatif KI-574 terhadap angin lebih besar dari 
pada kecepatan maksimum yang diizinkan.

Tail Horizontal Stabilizer bisa saja menjadi komponen yang paling bekerja keras 
ketika KI-574 mencapai kecepatan jelajah maksimumnya. Apa tah lagi kondisi 
udara yang ditembus tidak karu-karuan. Mengapa Tail Horizontal Stabilizer kanan 
yang lepas? Karena dia-lah yang mengalami masa papar cross-wind hingga 
parallel-wind terlama. Angin cross sebelumnya datang dari arah kanan. Komponen 
ini terpental ke arah kiri, ke arah badan pesawat, yang memungkinkan badan 
pesawat sobek lalu berlubang. Perbedaan tekanan antara kabin dan atmosfer pada 
ketinggian di atas 30.000 kaki  menimbulkan efek hisap yang sangat kuat. 
Tatakan meja, sandaran jok, life-vest (pelampung), fiber penutup bagasi kabin, 
isi bagasi kabin, tas, bungkusan makanan, video-monitor di kabin penumpang, 
semuanya tersedot keluar. Fakta menunjukkan barang-barang tersebut sudah 
ditemukan para nelayan di perairan Barru dan Pangkep. Penumpang saya perkirakan 
sedang memakai seat-belt karena sedari awal cuaca jelek. Tidak ada penumpang 
yang tersedot ke atmosfer! Bakalan tidak ada pula jenazah yang ditemukan di 
perairan yang membentang sepanjang jazirah Sulawesi Selatan (Pinrang, Parepare, 
Barru, Pangep, Maros, dan Makassar). Fakta menunjukkan belum ada jenazah dari 
Adam Air KI-574 yang ditemukan di perairan ini.

Karena kebocoran kabin, pilot berusaha menurunkan ketinggian pesawat sesegera 
mungkin. Demi penumpang, ia berusaha terbang pada ketinggian yang memungkinkan 
penumpang bernapas tanpa alat bantu. Penurunan ketinggian yang mendadak ini 
menimbulkan efek sentakan pada bodi pesawat, mungkin mencapai minus 3G yang 
memicu trigger ELBA. Penurunan ketinggian ini juga membuat KI-574 tidak bisa 
terpantau radar. Fakta menunjukkan KI-574 hilang dari pantauan radar ATC 
Makassar. 

Dalam kondisi terbang rendah, sekitar 8000 kaki  atau di bawahnya,  pesawat 
terus berusaha mengarah ke Manado (timur-laut) . Pesawat melintasi perairan 
Pinrang/Polewali? Majene, lalu daratan Enrekang, kemudian sampai di atas Tana 
Toraja. Fakta menunjukkan Saul Palulungan (57 tahun) mendengar suara pesawat 
(Fajar, 5/1). Di Tana Toraja pilot melakukan manuver tajam ke kiri. Di kiri 
pesawat ada Bandara Pongtiku, kawasan Rante Tayo, kurang lebih 10 Km dari 
Makale. Sementara di kanan pesawat adalah Bulu (Gunung) Rante Kombala dan Bulu 
Rante Mario. Dalam keadaan kehilangan Tail Horizontal Stabilizer (belakangan 
juga beberapa bagian sayap kanan yang ditemukan di perairan Pinrang, mungkin 
Aileron yang bertanggung jawab pada gaya angkat pesawat), manuver pesawat 
sangat berat dan menimbulkan hentakan. Hentakan ini men-trig aktivasi sinyal 
ELBA. Fakta menunjukkan RCC Singapura sempat menangkap sinyal ELBA pada lokasi 
ini (Fajar, 3/1).

Usaha mendarat darurat di Bandara Pongtiku gagal. Pesawat susah dikendalikan 
untuk manuver-manuver halus mengingat salah satu Tail Stabilizer Horizontal, 
belakangan juga sayap kanan,  rusak. Ces-pleng, Bandara Pongtiku berada di 
daerah perbukitan sebagaimana lazimnya kontur Tana Toraja. 

Pilot memutuskan untuk lurus, sebab pada arah lurus ini ada bandara Tampa 
Padang , Mamuju, Sulawesi Barat.

Dalam lintasan menuju Bandara Tampa Padang, KI-574 harus bermanuver melewati 
pegunungan, termasuk kawasan Matangnga. Banyak kesaksian warga yang menyatakan 
mendengar suara gemuruh dan ledakan sepanjang lintasan Toraja - Mamuju ini. 
Termasuk di antaranya Abu Haris yang kemudian di-cap berbohong. Padahal, ia 
sendiri tidak pernah menyatakan ada pesawat jatuh. Pernyataannya adalah "ada 
suara pesawat".

Di lepas pantai Mamuju, nelayan Baharuddin bersaksi pada Danlantamal VI 
Makassar bahwa ia melihat pesawat berbadan  biru laut melintas dari arah 
bandara Tampa Padang. Fakta menunjukkan bahwa warna pesawat Adam Air KI-574 
bukanlah Oranye seperti lazimnya dalam display-display promosi Adam Air. 
Warnanya putih (Fajar, foto headline, 12/1). Warna biru laut yang dilihat 
Baharuddin sangat mungkin akibat pantulan air laut. Pesawat lagi-lagi tak 
berhasil mendarat di bandara alternatif. Tepat di atas kepala Baharuddin, 
pesawat belok kiri ke arah daratan Sulawesi. Jika kita memperhatikan peta rupa 
bumi, tampak bahwa daratan Sulawesi di depan KI-574 adalah pegunungan. Masuk 
akal ketika Baharuddin mengatakan pesawat kembali ke arah laut. Pesawat 
menghindari tabrakan dengan gunung. Pilot memilih ditching (mendarat di laut).

Posisi deteksi sonar KRI Fatahillah adalah 02.35.18 LS, 118.48.36 BT. Jarak 
antara Saksi Baharuddin dan posisi Sonar ini kurang lebih 12,5 KM. Artinya 
dengan asumsi tinggi mata saksi dari permukaan laut 2m, maka posisi di mana KRI 
Fatahillah mendeteksi adanya logam bulat, sudah tidak terjangkau lagi oleh 
Baharuddin. Posisi itu tertutup garis horizon jika dipandang dari tempat saksi 
berdiri. Saksi sendiri mengaku tidak melihat apakah pesawat tersebut jatuh atau 
tidak. Yang ada hanya terdengarnya suara gemuruh dan bunyi ledakan. Karena 
kecepatan suara adalah 340 m/detik, maka ledakan itu terjadi  12.500 / 340 = 37 
detik sebelumnya. Antara posisi Saksi dan saat pesawat berbalik arah ke laut 
jaraknya 3 nm, dan dari posisi balik arah ini ke Sonar KRI Fatahillah 10 nm. 
Total lintasan pesawat dari Saksi hingga Sonar adalah 13 nm atau 25 km. Waktu 
tempuh jarak 25 km itu oleh pesawat dengan kecepatan 700 km/jam adalah 25/700 
jam = 0,036 jam atau 128,5 detik. Jadi antara pesawat melintasi posisi saksi 
hingga saksi mendengar ledakan adalah 128,5 + 37 = 165,5 detik. Antara 2 hingga 
3 menit. Persis seperti kesaksian Baharuddin pada Danlantamal VI Makassar. 
Secara ilmiah-matematis kesaksian Baharuddin bisa dipertanggungjawabk an. 

Pesawat, menurut saya, ditching di lepas pantai Mamuju. Pilot Revri A. Widodo 
dan Co-Pilot Yoga berusaha maksimal. Namun, tanpa Tail Stabilizer Horizontal 
dan sayap kanan yang rusak, ditching tidak mulus. Pesawat turun  ke laut dengan 
sudut elevasi yang cukup besar. Mungkin saja 45 derajat. 

Kesimpulan:

  1.. Adam Air KI-574 jatuh di perairan Mamuju di sekitar lokasi deteksi sonar 
KRI Fatahillah. 
  2.. Adam Air KI-574 tidak meledak di udara 
  3.. Semua penumpang dan awak pesawat masih berada di badan pesawat, di dasar 
laut. 
Prediksi:

  1.. Serpihan Adam Air KI-574 berada di sekitar lintasan. Yang jatuh di laut 
akan terbawa arus ke pantai mulai dari lepas pantai Pinrang, Parepare, Barru, 
Pangkep, Maros, hingga Makassar termasuk pulau-pulau Spermonde (Pantai Barat 
Jazirah Sulawesi Selatan). Di darat di kawasan Pinrang, Enrekang, Toraja, 
Matangnga, dan Mamuju). 
  2.. Tidak akan ada jenazah penumpang yang ditemukan terdampar di pantai barat 
Jazirah Sulawesi Selatan (Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, dan 
Makassar ). 
  3.. Serpihan dari dalam kabin penumpang semuanya berdimensi kecil, tidak 
melebihi besar lubang sobekan pada badan pesawat. 
Satu hal perlu saya tambahkan. Pilot Revri dan Co-Pilot Yoga orang hebat. Dalam 
kondisi pesawat susah untuk dikendalikan, mereka masih sanggup mencari lokasi 
pendaratan yang aman bagi penumpangnya. 

Semoga Tuhan Menyertai Kita Semua, dan Keluarga Korban Tabah. Amien.

Canny Watae

Warga Makassar

canny_watae@ yahoo.co. uk

Dukungan Gambar di Bawah

Dukungan Gambar

1. Lost Contact Point



2. Pesawat Manuver ke Arah Bandara Pongtiku, Toraja. Di sebelah kanan ada Bulu 
Rantekombala dan Bulu Rantemario. Akibat manuver tajam timbul hentakan keras 
yang memicu pancaran ELBA yang terlacak oleh RCC Singapura



  4.. Bandara Pongtiku sulit untuk tercapai, pesawat lurus ke Bandara Tampa 
Padang, Mamuju 


  5.. Manuver pesawat di sekitar bandara Tampa Padang, disaksikan oleh Nelayan 
Baharuddin. 
  6.. Tinjauan lintasan secara keseluruhan sejak hilang kontak hingga mendarat 
di laut 

Kirim email ke