Cerita Fiksi : Kebaya
----------------------
Farliwan mempunyai problem busana, yaitu tidak mempunyai pakaian yang
bagus untuk menghadiri
pesta perkawinan. Problem ini dikatakan kepada Nasrullah.
Nasrullah pun terenyuh. Lalu mengambil pakaian dari dalam lemari.
Hanya saja Nasrullah tidak tahu, Farliwan itu laki atau perempuan,
sehingga diambillah pakaian
kebaya, plus selendang dan sepatu berhak tinggi.
"Wah, tampaknya nggak cocok", kata Farliwan kepada salah seorang
familinya, Dimas yang seorang
Ustad.
"Syukuri sajalah setiap pemberian itu. Lihat saja tuh di kolong jembatan.
Pakaian orang-orang
sana kan jelek-jelek. Banyak jahitan. Jadi Farliwan masih mendingan", kata
familinya itu.
Singkat kata Farliwan mengenakannya ke pesta.
Saat dalam pesta, Farliwan merasa heran, kok para tamu memandangnya
seperti memandang badut.
Akhirnya Farliwan pulang dengan perasaan sedih dan dongkol. Ia pun
mengadukan kepada Dimas.
"Ya, namanya juga cobaan. Sabar sajalah", Dimas menghibur dengan suara
lembut, "Allah beserta
orang yang sabar", sambung Dimasi. "Kan lebih baik berpakaian daripada
telanjang"..
Tiga minggu kemudian problem Farliwan ternyata lebih besar ketimbang
sebelum memperoleh Kebaya.
Tetapi malah ia menganggapnya sebagai risiko kehidupan, tanpa menyalahkan
siapa-siapa.
"Berdoalah setiap selesai sholat", ujar Dimas lemah-lembut, "Agar Allah
memberi kemudahan bagi
Farliwan saat memakai kebaya ke mana pun"
Maknanya :
Nasrullah di sini bertindak sebagai orang yang mencoba mengatasi solusi
terhadap problem
seseorang. Tapi sayang tidak berdasarkan jati diri orang yang punya problem.
Farliwan sendiri pun tidak tahu tentang jati dirinya sendiri, laki-laki
atau perempuan,
sehingga tidak menghubungkan meningkatnya problem berbusaha dengan jenis busana
itu sendiri.
Demikian juga dengan Dimas. Ia pun tidak tahu bahwa Farliwan itu adalah
seorang laki-laki.
Itulah contoh solusi tanpa mempertimbangkan ini dan itu.
Salam,
Nasrullah Idris