Terima kasih Pak Ibnu infonya sangat berguna sekali , kebetulan orang Solid 
Gold sedang memburu saya, dengan tiap hari menelopon dan menginfokan mengenai 
saham2 di asia , dan menyuruh saya membeli " monyet " nya 
wass.
rgds 
oth  
  ----- Original Message ----- 
  From: Ibnu Nugroho P. 
  To: Pertashipmuslim 
  Sent: Wednesday, September 26, 2007 12:58 PM
  Subject: [Pertashipmuslim] Fw: Filosofi Pasar Modal


  Info lagi mengenai pasar modal ..... :-)


  ----- Original Message ----- 
  From: sidqy suyitno 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, September 24, 2007 4:49 AM
  Subject: [IA-ITB] Filisofi Pasar Modal


  Filosofi Pasar Modal

  Oleh: Lily Widjaja*


  24/09/2007 01:42:47 WIB

  JAKARTA, Investor Daily

  Beberapa waktu lalu saya mendapat surat elektronik (e-mail)  dari seorang 
konsultan keuangan (lihat artikel di bawah). Menarik, karena e-mail tersebut 
datang dari seorang konsultan keuangan yang beraktivitas di pasar modal.

  Judul e-mail tersebut adalah Philisophy of the Stock Market atau Filisofi 
Pasar Saham. Isinya begini: Sekali peristiwa di sebuah desa, muncullah seorang 
tuan yang mengumumkan kepada para penghuni desa bahwa dia akan membeli monyet 
dengan harga 10 Ringgit per ekor. Para penghuni desa yang melihat banyak monyet 
di hutan bersegera keluar dan mulai menangkap monyet-monyet itu.

  Tuan itu membeli beribu-ribu ekor monyet dengan harga 10 Ringgit. Ketika 
persediaan monyet mulai menurun dan para penghuni desa mulai menghentikan usaha 
mereka, dia mengumumkan bahwa sekarang dia akan membeli monyet pada harga 20 
Ringgit per ekor. Para penghuni desa tergerak, dan mereka mulai menangkap 
monyet lagi. Persediaan monyet pun semakin menurun dan mereka kembali ke kebun.

  Harga penawaran kemudian dinaikkan menjadi 25 Ringgit per ekor. Karena 
persediaan monyet sedemikian langka maka diperlukan  upaya lebih keras dari 
sebelumnya. Tak berapa lama Tuan itu mengumumkan bahwa dia akan membeli monyet 
pada harga 50 Ringgit per ekor. Tapi berhubung dia harus ke kota untuk urusan 
bisnis, maka  asistennya yang diserahi tugas  untuk kepentingannya.

  Ketika Tuan itu sudah pergi, asisten itu berkata kepada para penghuni desa: 
"Lihatlah monyet-monyet di kandang besar yang telah dikumpulkan oleh Tuan. Saya 
akan menjual monyet-monyet kepada Anda seharga 35 Ringgit per ekor, dan ketika 
Tuan  kembali, Anda bisa menjual kepadanya dengan  harga 50 Ringgit per ekor."

  Terjadilah antre panjang para penghuni desa untuk membeli monyet dengan 
seluruh tabungan yang ada pada mereka. Ternyata setelah itu, baik asisten 
maupun Tuan lenyap tak berbekas, sementara  monyet-monyet ada di mana-mana!


  Persepsi Jadi Realitas

  Persepsi menjadi kenyataan (perception becomes reality) adalah ungkapan 
paling tepat untuk menggambarkan kisah tersebut di atas. Kisah di atas bisa 
mewakili apa yang sering terjadi di pasar modal.

  Belum lama ini pasar modal kita dihebohkan dengan kasus gagal bayar 
antarpialang atas transaksi suatu saham dengan nilai lebih dari Rp 200 miliar. 
Dalam hitungan bulan, harga saham ini bergerak spektakuler, dari di bawah Rp100 
 menjadi di atas Rp 4.000. Nilai transaksi yang terjadi setiap hari pun tidak 
tanggung-tanggung, pernah mencapai di atas Rp 1 triliun.

  Para pelaku pasar pun berdecak dan senang. Tapi tidak sedikit juga yang 
cemas. Mereka senang, karena dengan pergerakan harga yang naik luar biasa 
mereka akan memperoleh keuntungan yang substansial. Namun, mereka cemas 
kalau-kalau harga keburu turun sementara mereka belum sempat menjual kembali 
apa yang telah mereka beli pada harga tinggi. Cemas karena mereka tahu bahwa 
penurunan harga, cepat atau lambat tetap akan terjadi, namun kapan persisnya, 
semuanya tak bisa memperkirakan.

  Apa yang dicemaskan kemudian benar-benar terjadi. Harga saham menukik tajam 
sampai suspensi oleh Otoritas Bursa pada level sekitar Rp 2.000. Ada yang 
memang meraup untung karena sempat menjual di atas harga beli, tapi ada juga 
yang rugi besar, karena telanjur membeli pada harga tinggi dan belum sempat 
menjual kembali.


  "Penggorengan" Saham

  Ada istilah yang populer di pasar modal kita yakni  saham gorengan, dengan 
pelakunya disebut penggoreng saham atau tukang goreng saham. Menarik, bukan?

  Ternyata bukan hanya pisang yang bisa digoreng, saham pun bisa. Artinya saham 
bisa diberi "bumbu" dengan berbagai informasi menarik dan menjanjikan untuk 
menciptakan persepsi bahwa saham itu memang bagus dan banyak peminat.

  Lalu harga semakin naik seiring naiknya permintaan dan turunnya persediaan. 
Setelah harga naik tinggi, penggoreng saham mulai menjual sahamnya pada harga 
tinggi tersebut. Akibatnya, pasar mulai dibanjiri saham tersebut dan harga 
mulai turun drastis.  Dalam hal ini penggoreng saham tidak bekerja sendiri, 
melainkan memiliki kaki-tangan yang membantunya. Mirip cerita monyet di atas, 
bukan?

  Goreng -menggoreng saham sering terjadi di pasar modal kita. Itulah yang 
sering memberi kesan bahwa pasar modal merupakan tempat berjudi. Sayangnya, 
istilah 'main saham' yang telanjur lumrah ini memberi konotasi negatif atas 
suatu aktivitas investasi keuangan.

  Lalu, apakah memang demikian cermin pasar saham yang seharusnya? Jawabannya, 
tentu saja tidak. Contoh di atas  menggambarkan penyimpangan pada aktivitas 
pasar modal yang bermartabat.

  Hakikatnya, investasi pada saham suatu perusahaan memungkinkan sang investor 
memiliki perusahaan tersebut dan berpartisipasi dalam pertumbuhan perusahaan 
yang dipilihnya itu.  Investor saham mendapat bagian keuntungan dari perusahaan 
tersebut dalam bentuk dividen. Investor juga mendapat keuntungan dalam bentuk 
capital gain, yaitu apresiasi harga pasar terhadap harga beli. Kenaikan harga 
saham ditopang oleh faktor fundamental antara lain kinerja keuangan perusahaan 
yang solid dan pertumbuhan perusahaan yang menjanjikan, bukan karena "digoreng" 
oleh tukang goreng!

  Mestinya inilah filosofi investasi di pasar saham, yaitu partisipasi sebagai 
pemegang saham lalu mendapatkan keuntungan bersih perusahaan dalam bentuk 
dividen dan apresiasi harga saham dalam bentuk capital gain, dan sebaliknya, 
turut menanggung kerugian perusahaan (tidak ada dividen) dan capital loss 
akibat penurunan harga saham.


  Pasar Bermartabat

  Nafsu mengambil untung secara tidak wajar dengan mencelakakan orang lain 
menandakan tiadanya etika dalam praktik bisnis. Bercermin dari cerita monyet di 
atas, siapakah yang menikmati keuntungan, sebaliknya, siapakah yang mengalami 
nasib naas? Kisah monyet tersebut di atas jelas menggambarkan bahwa si Tuan 
dengan kaki-tangannya si asisten mendapat untung besar, sementara para penghuni 
desa mendapat rugi besar.

  Sahabat saya sering heran kalau saya meminta mereka untuk  berhati-hati 
berinvestasi di pasar saham. Menurut mereka, sebagai praktisi yang turut 
mempromosikan dan memajukan pasar modal di Indonesia, saya mestinya mendorong 
mereka menyisihkan sebagian tabungan  untuk investasi di pasar saham.

  Betul, memajukan pasar modal adalah sebuah kewajiban  profesional yang 
melekat, tapi menjauhkan pasar modal dari praktik penggorengan saham dalam 
rangka penciptaan harga semu, adalah sebuah kepedulian yang tak bisa saya 
hindari.

  Alangkah bermartabatnya kalau pasar saham bebas dari praktik manipulasi harga 
lewat penciptaan harga semu. Betapa mulianya jika  pasar saham bersih dan 
berwibawa, dan jauh dari stigma "tempat berjudi". Hanya dengan demikian 
masyarakat pemodal dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman. Semoga!


  * Lily Widjaja adalah praktisi pasar modal. Saat ini menjabat sebagai 
Direktur Utama Merrill Lynch Indonesia, Komisaris Bursa Efek Jakarta, dan Ketua 
Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia.

  Copyright © 2007 - 2007 The Investor Group. 
http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=40244&Itemid=




  Thursday, August 2, 2007

  Philosophy Of the Stock Market

  http://zoomtosumit.blogspot.com/2007/08/philosophy-of-stock-market.html

  Once upon a time in a village a man appeared who announced to the villagers 
that he would buy monkeys for 10 dollars. The villagers seeing that there were 
many monkeys went out in the forest and started catching them. The man bought 
thousands at 10 and as supply started to diminish and villagers started to stop 
their effort he announced that now he would buy at 20 dollars.

  This renewed the efforts of the villagers and they started catching monkeys 
again. Soon the supply diminished even further and people started going back to 
their farms. The offer rate increased to 25 and the supply of monkeys became so 
that it was an effort to even see a monkey let alone catch it.

  The man now announced that he would buy monkeys at 50! However, since he had 
to go to the city on some business his assistant would now buy on behalf of the 
man.

  In the absence of the man, the assistant told the villagers, "Look at all 
these monkeys in the big cage that the man has collected. I will sell them 
  to you at 35 and when the man comes back you can sell it to him for 50."

  The villagers queued up with all their saving to buy the monkeys.

Kirim email ke