Alhamdulillah, boss PT. Maspion jadi mu'alaf ..... :-) (mudah-mudahan berita ini benar, dan bukan hoax)
----- Original Message ----- From: Wisnuwardana To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, November 04, 2007 6:04 PM Subject: FW: Kisah Herman Halim (d/h Lim Xiao Ming), Presdir Bank Maspion -----Original Message----- From: Djoko Satrio [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 02 Nopember 2007 18:32 To: (IDN) Soewitoadi; Harun (IDN) AlRasyid; Riki (IDN) Susanto; Didiek (IDN) Mawardi; Achmad (IDN) Urfian; Firdaus (IDN) Agustiawan; Hery (IDN) Sumaryanto; (IDN) Wisnuwardana Subject: Kisah Herman Halim (d/h Lim Xiao Ming), Presdir Bank Maspion Fyi,.. Alhamdullilah.. > Kisah Herman Halim (d/h Lim Xiao Ming), Presdir Bank > Maspion > Ayah dua anak ini mengatakan bahwa dari kesukaannya > membaca buku-buku agama inilah dia mulai menyerap > intisari dari agama. "Dari pembacaan dan perenungan > semua intisari agama yang saya serap, bahwa semua > agama itu benar dan mengajarkan kebaikan. Cuma > penyampaiannya bermacam-macam,' terangnya. > Ketika ditanya tentang latar belakang agama keluarga > Herman Halim, ia menjelaskan bahwa keluarganya > memeluk beberapa agama. "Dalam keluarga saya tidak > fanatik memeluk satu agama. Sikap inilah yang > dipegang teguh Herman Halim dalam membentuk karakter > keluarganya. Bahkan soal menganut agama, ia tidak > pernah memaksakan kepada kedua anaknya. "Anak saya, > saya bebaskan dalam memilih agama. Saya tidak pernah > melarang hal itu," ujarnya. > > Terpengaruh Anak > Ketertarikan Herman Halim akan Islam memang > berangkat dari perenungan panjang. Namun, ia mengaku > lebih banyak dipengaruhi Andrew anak keduanya. > Awalnya Herman Halim keget dan menanyakan tentang > keinginan anak keduanya memeluk agama Islam. Namun, > Andrew bisa meyakinkan ayah dan keluarganya tentang > niatnya menjadi Muslim. > "Apa perbedaannya dengan agama yang kamu yakini > selama ini ?" tanya Herman Halim kepada Andrew saat > itu. "Saya pernah mencoba memeluk beberapa agama. > Namun Islamlah yang membuat saya lebih tenang dan > pas. Dan saya bisa lebih gampang menangkap ajaran > Islam daripada yang lain," ujar Herman yang > menirukan pendapat Andrew. > Dari diskusi antara anak dan ayah inilah, Herman > terus mencari dan mencari jawaban atas argumen yang > dikemukakan oleh Andrew. "Saya mengenal Islam lebih > banyak setelah Andrew menerangkan kepada saya dan > keluarga tentang ajaran Islam sesungguhnya, " > ujarnya. > "Saya juga heran, padahal ia sejak kecil sudah ada > di Australia. Namun ia begitu kuat saat menerangkan > tentang bagaimana ajaran Islam," tambahnya. Herman > menerangkan, dalam menjelaskan agama Islam, Andrew > Halim ini membawa Al Quran dan Injil. "Ia > membandingkan antara ayat per ayat. Bahkan, beberapa > dari paman dan bibinya tidak bisa menyela dan > menjawab pertanyaan Andrew," terangnya. > Dari pertemuan antara Andrew dan keluarga yang juga > dihadiri oleh Herman Halim itulah akhirnya wacana > tentang kebenaran Islam mulai terungkap. "Sejak itu > saya jadi tekun belajar Islam. Saya baca Al Quran > yang terjemahan dari Bahasa Inggris dan Tionghoa. > Saya terus mencari apa yang dikatakan Andrew," > terangnya. > Menurut Herman Halim, Andrew bukan tipe orang yang > mudah percaya dengan sesuatu. "Andrew itu, untuk > percaya dan yakin biasanya sudah melalui penelitian > dan perbandingan antara baik dan buruknya," > terangnya. > Makanya, Herman Halim yakin bahwa apa yang diyakini > anaknya adalah suatu kebenaran yang pasti. > Setelah mempelajari berbagai agama sekian lama, > akhirnya pimpinan Bank Maspion ini memilih Islam > menjadi keyakinannya. "Saya melihat Islam adalah > agama terakhir, dan ia mengambil dari semua intisari > agama yang telah ada dan menyempurnakannya, Sehingga > ajaran Islam begitu lugas dan mudah diserap secara > kaidah," terangnya. > "Saat saya beritahu saya menjadi Muslim, Andrew > begitu senang. Ia menyebut lafal Allahu Akbar > berulang-ulang. Ia begitu senang saya masuk Islam," > paparnya. > "Saya resmi menjadi Muslim pada Tanggal 27 Agustus > 2007. Saya bersyahadat di Masjid Ceng Hoo Surabaya > dan disaksikan oleh banyak orang," tuturnya kepada > NURANI saat ditemui di kantornya. > Herman menerangkan bahwa saat dirinya bersyahadat, > ia tidak disertai dengan keluarganya. "Saya > berangkat ke sana sendiri. Untungnya, teman saya di > PITI Masjid Ceng Hoo banyak. Jadi sudah > dipersiapkan. Bahkan Pak Ali Markus (Owner Maspion > Group), memberikan selamat ketika saya sudah > bersyahadat, " terangnya sambil tersenyum. > Saat ditanya tentang tanggapan keluarga ketika > dirinya menjadi Muslim, Herman Halim menerangkan > bahwa pihak keluarga sebenarnya mengkritik, namun > tidak berani secara frontal. "Setahu saya, mereka > hanya berani mengkritik atau menyindir. Mereka tidak > berani bertanya secara frontal. Mungkin karena saya > saudara tertua. Jadi mereka segan dengan saya," > ungkapnya > > Lebih Tenang > Herman Halim saat ini mengaku lebih tenang batinnya > setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat. "Pertama > kali saya melaksanakan salat, hati saya rasanya > tenteram dan damai. Tidak pernah saya merasakan hal > seperti ini sebelumnya. Meski saya tidak fasih cara > melafalkan Arabnya, namun saya tahu arti Bahasa > Indonesianya, " paparnya sembari memejamkan mata. > "Saat shalat hati saya damai, sehingga bisa melepas > kejenuhan dan stres saat bekerja. Saya lebih mantap > dalam mengerjakan tugas-tugas kerja," tambahnya. > Yang paling menarik bagi bagi pemilik nama asli Lim > Xiao Ming ini dalam mempelajari Islam adalah cara > menghafal bacaan salat. "Kalau salatnya sih sudah > bisa dipelajari. Tapi kalau melafalkannya, ini saya > masih kaku. Butuh waktu yang banyak," ujarnya. > "Kalau lupa bacaannya, bukunya saya baca, lalu saya > kembalikan lagi. Lucu pokoknya kalau melihat saya > belajar salat," tambahnya sambil tertawa. > Namun, Bapak dari Albert Halim dan Andrew Halim ini > tidak menyerah. Ia bertekad untuk bisa melafalkan > bacaan Al Quran serta belajar membaca Al Quran. > "Saya berencana mendatangkan guru privat Bahasa > Arab. Dan saya ingin sekali bisa melafalkan bacaan > salat," niatnya. (Tabloid NURANI) >
