|
Demi Satu Malam
Penutup Masa Remaja Masa SMA sering disebut sebagai puncak masa remaja, saat-saat terindah
dalam hidup. Itulah sebabnya, akhir masa SMA dianggap sebagai akhir masa
remaja, yang perlu dirayakan demi sebuah kenangan indah seumur hidup. Maka acara pesta
perpisahan adalah sesuatu yang wajib digelar. Saat-saat persahabatan masa SMA
dirayakan dengan berkumpul untuk terakhir kalinya. Beberapa tahun
terakhir ini, ada tren baru pesta perpisahan di kota-kota besar. Pesta
perpisahan model lama (yang digelar di aula sekolah dan berlangsung sederhana
dan santai) kini mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya,
digelar pesta perpisahan ala Amerika: prom nite atau pesta prom. Tidak ada lagi
pesta ala kadarnya di aula atau halaman sekolah. Kini, pesta prom (berasal dari
kata promenade yang berarti gerak dasar dalam tarian) "harus" digelar
di ballroom hotel mewah di tengah kota, dan ada aturan berpakaian atau dress
code yang harus dipatuhi pesertanya. Citra Barat Demikian juga yang
terjadi di Siswa SMA 70
Jakarta—yang dikenal sebagai salah satu SMA "elite" di
Jakarta—akan melangsungkan pesta prom di ballroom The Dharmawangsa Hotel,
hotel prestisius di Jakarta Selatan. Para siswa SMA 3 Jakarta menggelar acara
di Tempat yang mewah
menuntut penampilan yang sesuai. Maka dress code bernuansa Barat pun menjadi
keharusan. Di semua prom tersebut, hampir semua hadirin wanita mengenakan gaun
malam model terbaru dan hadirin prianya memakai setelan jas. Tiap sekolah
menampilkan tema prom yang berbeda-beda, dan semuanya bernuansa Barat. Mulai
dari aturan berpakaian dan rangkaian acaranya kemudian ditampilkan sesuai tema
ini. Pesta anak SMA 3
bertema "Get Metropolis", lebih kurang artinya adalah merayakan
kehidupan Anak-anak SMA 81
dengan tema "Be A Superstar" dan SMA 70 dengan judul "Walk of
Fame" harus berdandan ala bintang film Hollywood karena keduanya
mengangkat tema yang dilatarbelakangi penyerahan penghargaan Oscar pada ajang
Academy Awards. Acara-acara
"standar" pesta prom pun digelar satu demi satu. Mulai dari
penampilan berbagai band di panggung, dansa-dansi, hingga pemilihan Raja dan
Ratu Prom di akhir acara. Band yang tampil mulai dari band sekolah hingga band
profesional yang sudah terkenal, seperti Maliq N D’Essential yang
memeriahkan pesta prom SMA 81. Utang bila perlu Melihat acara-acara
yang digelar, terbayang biaya yang harus dikeluarkan. Askarina (17), salah satu
panitia prom SMA 81, mengaku, pesta pada hari Senin (19/6) lalu menghabiskan
dana Rp 100 juta. "Itu sudah termasuk biaya sewa tempat, katering,
dekorasi, hingga sewa MC dan band bintang tamu," ujarnya. Sementara Aisha Octavianti
(17), Ketua OSIS dan Ketua Panitia Prom SMA 3, menyebut angka Rp 50-Rp 60 juta
untuk menggelar pesta prom di Crowne Plaza, Kamis (15/6). Uang sebesar itu
mereka kumpulkan dengan menarik iuran dari para siswa yang hadir. Anak-anak Gonzaga
ditarik Rp 175.000 per kepala bagi yang membayar sebelum acara, dan Rp 200.000
untuk mereka yang baru membayar pada hari H. Di SMA 3, setiap siswa diwajibkan
membayar Rp 250.000. " Untuk meringankan
beban, panitia prom SMA 81 menerapkan sistem cicilan. Biaya Rp 180.000 per
orang dicicil Rp 15.000 per bulan sejak delapan bulan lalu. "Untuk
menambah dana, anggota panitia dikenai iuran Rp 5.000 setiap kali rapat,"
ungkap Aska. Dana iuran siswa
tersebut masih ditambah dana dari donatur yang biasanya orangtua para siswa
sendiri. Bahkan, ada yang mendapat sponsor dari perusahaan, seperti pesta prom
Gonzaga yang disponsori produk sampo dan pasar swalayan terkemuka.
"Biasanya karena ada orangtua siswa yang menjadi pejabat di
perusahaan-perusahaan itu," kata Bernadeta M Astari atau Deta (17), salah
satu siswi SMA Gonzaga, yang datang ke prom hari Jumat (16/6) malam. Meski sudah
mengerahkan segala sumber dana yang ada, uang yang terkumpul kadang masih
kurang. Seperti diungkapkan Aisha, hingga pesta usai, seluruh dana yang
dibutuhkan belum terkumpul. "Akhirnya kami dipinjami uang oleh salah satu
orangtua siswa. Tetapi kami harus mengembalikan. Belum tahu nih, gimana cara
ngembaliinnya," tutur Aisha polos. Dana dandan Itu baru dana
penyelenggaraan pestanya. Mereka juga harus merogoh kocek lagi untuk
mempersiapkan penampilan sebaik mungkin. Aisha, selain pusing
mengatur persiapan acaranya, juga sibuk menyiapkan penampilan pribadinya. Sejak
jauh hari, ia telah membeli bahan untuk dijahit menjadi gaun malam. Ia juga
harus mencari sepatu, tas, menata rambut, dan memoles riasan di wajahnya. Aisha mengaku keluar
dana Rp 500.000-Rp 700.000 untuk persiapannya itu. Sementara Sherry (18), siswi
kelas 3 IPA 3 SMA 81, mengaku membelanjakan uang Rp 500.000-Rp 1.000.000 untuk
persiapan prom. Uang sebesar itu sudah termasuk untuk beli baju, rias wajah,
dan tata rambut seharga Rp 250.000. Namun, Deta dari Gonzaga
mengatakan, untuk tampil dalam prom sebenarnya tidak harus menghabiskan dana
besar. Deta yang mendapatkan Best Female Dress Award malam itu mengatakan, dia
hampir tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk persiapan prom. "Baju
dikasih temen nyokap. Sepatu minjem pacar kakak. Tas minjem nyokap. Make-up
sendiri. Paling cuma keluar duit buat ke salon aja," paparnya. Kreativitas lainnya
ditunjukkan Arwin (17), siswa kelas 3 IPA 1 SMA 81, malam itu yang tampil heboh
dengan berdandan ala pria Skotlandia, lengkap dengan kilt (rok), kaus kaki
selutut, jas, dan sarung tangan serta topi baret. "Gue cuma habis Rp
80.000 buat beli topi, sarung tangan, dan ongkos menjahit renda-renda. Sisanya
pinjam semua. Jas pinjem ibu temen gue, rok pinjem temen cewek gue, dan sepatu
boot punya bokap," katanya. Kenangan terakhir Untuk apa segala jerih
payah dan biaya yang dikeluarkan itu? "Kalau ketemu teman dari SMA lain
dan ditanya, ’Prom lu di mana?’, terus kita bisa menjawab ’Di
Hilton!’, misalnya, rasanya bangga aja," ujar Deta memberi alasan
mengapa prom harus diselenggarakan di hotel mewah. Menurut dia, pesta
prom menjadi simbol gengsi dan penanda Namun di balik gengsi
itu, ada alasan lain yang mereka ungkapkan. "Buat aku sendiri, ini lebih
dari sekadar gengsi dan life style. Ini adalah momen terakhir untuk berkumpul
dengan teman-teman SMA," tandasnya. Hal senada dikatakan
Aisha, "Ini acara sekali seumur hidup yang akan dikenang sampai tua. Jadi
harus spesial." Nyatanya, tidak semua
remaja sebaya mereka sepakat dengan alasan itu. Bahkan, teman-teman satu
sekolah mereka sendiri banyak yang tidak setuju dengan ide untuk menggelar
prom. Itu sebabnya, tidak seluruh siswa kelas 3 hadir di prom. Dari total 308 siswa
kelas 3 di SMA 3, yang hadir di pesta prom malam itu hanya sekitar 150 siswa.
Sementara dari 200-an siswa kelas 3 di Gonzaga, hanya sekitar 100 orang yang
datang ke prom. Salah satu yang tidak
datang ke pesta prom Gonzaga adalah Karin Josephine (18). Karin mengaku sejak
awal tidak berniat ikut pesta prom karena bagi dia, acara semacam itu hanya
membuang-buang uang yang tidak perlu. "Acaranya sendiri sih oke-oke saja,
tetapi konsepnya itu-itu saja. Buat perpisahan aja kok mesti di ballroom?
Akhirnya jadi acara keren-kerenan saja," papar Karin. Menurut dia, jika
tujuan pesta prom itu adalah untuk merayakan kebersamaan, maka tujuan itu pada
akhirnya tidak tercapai. "Karena tidak semua siswa mampu membayar iuran
sebesar itu. Akhirnya enggak semua bisa hadir, jadi enggak kebersamaan juga Rasa Bagaimanapun juga,
acara pesta yang sudah dirancang semewah mungkin ala Barat itu tetap tidak
meninggalkan rasa Namun di sini,
sepanjang pesta nyaris tidak ada interaksi antara siswa dan siswi. Para ABG itu
terlihat masih terlalu malu-malu untuk berdansa-dansi dengan lawan jenisnya. Bahkan di acara prom
SMA 81, tidak ada kesan mewah kecuali tempat acara dan pakaian yang dikenakan
pesertanya. Selain dekorasi yang sangat sederhana, musik yang dimainkan pun
tidak bisa disebut mewah. Grup band sekolah itu
membuka pesta prom dengan membawakan lagu-lagu dangdut yang langsung disambut
dengan joget para hadirin yang sudah berjas dan bergaun malam. Riansah Abbas Osman Ramli Satrio & Rekan Deloitte.____________________________________________________________________ CONFIDENTIALITY: The information contained in
or attached to this electronic transmission is confidential and may be legally
privileged. It is intended only for the person or entity to which it is
addressed. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that
any distribution, copying, review, retransmission, dissemination or other use
of this electronic transmission or the information contained in it is strictly
prohibited. If you have received this electronic transmission in error, please
immediately contact the sender to arrange for the return of the original
documents.
This message (including any attachments) contains confidential information intended for a specific individual and purpose, and is protected by law. If you are not the intended recipient, you should delete this message and are hereby notified that any disclosure, copying, or distribution of this message, or the taking of any action based on it, is strictly prohibited.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Lihat Arsip Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Kirim email : [email protected] Website : ---dream works project--- -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- |
[pirus] Promp night at several high school
Abbas, Riansah \(ID - Jakarta\) Thu, 13 Jul 2006 18:40:09 -0700

