dari cerita ini kok almamaternya kok tdk membrikan wjeangann,,sih,,heeeee,( Abas Riayan  lumni SMA 3 )..How can,,,..


From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Abbas, Riansah (ID - Jakarta)
Sent: Friday, July 14, 2006 8:34 AM
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Subject: [pirus] Promp night at several high school

Demi Satu Malam Penutup Masa Remaja

Masa SMA sering disebut sebagai puncak masa remaja, saat-saat terindah dalam hidup. Itulah sebabnya, akhir masa SMA dianggap sebagai akhir masa remaja, yang perlu dirayakan demi sebuah kenangan indah seumur hidup.

Maka acara pesta perpisahan adalah sesuatu yang wajib digelar. Saat-saat persahabatan masa SMA dirayakan dengan berkumpul untuk terakhir kalinya.

Beberapa tahun terakhir ini, ada tren baru pesta perpisahan di kota-kota besar. Pesta perpisahan model lama (yang digelar di aula sekolah dan berlangsung sederhana dan santai) kini mulai ditinggalkan.

Sebagai gantinya, digelar pesta perpisahan ala Amerika: prom nite atau pesta prom. Tidak ada lagi pesta ala kadarnya di aula atau halaman sekolah. Kini, pesta prom (berasal dari kata promenade yang berarti gerak dasar dalam tarian) "harus" digelar di ballroom hotel mewah di tengah kota, dan ada aturan berpakaian atau dress code yang harus dipatuhi pesertanya.

Citra Barat

Demikian juga yang terjadi di Jakarta seusai musim ujian nasional tahun ini. Meski hasil ujian tersebut masih kontroversial sampai sekarang, tidak menyurutkan keinginan anak-anak SMA untuk menggelar prom nite. Tempat penyelenggaraannya pun tidak kalah dengan pesta-pesta kalangan atas kota ini.

Siswa SMA 70 Jakarta—yang dikenal sebagai salah satu SMA "elite" di Jakarta—akan melangsungkan pesta prom di ballroom The Dharmawangsa Hotel, hotel prestisius di Jakarta Selatan. Para siswa SMA 3 Jakarta menggelar acara di ballroom Hotel Crowne Plaza di bilangan Semanggi, Jakarta Pusat. Anak-anak SMA Kolese Gonzaga memilih Hotel Le Meridien di Jalan Jenderal Sudirman, sementara para siswa SMA 81 Jakarta memesan ballroom Kirana, Hotel Kartika Chandra.

Tempat yang mewah menuntut penampilan yang sesuai. Maka dress code bernuansa Barat pun menjadi keharusan. Di semua prom tersebut, hampir semua hadirin wanita mengenakan gaun malam model terbaru dan hadirin prianya memakai setelan jas.

Tiap sekolah menampilkan tema prom yang berbeda-beda, dan semuanya bernuansa Barat. Mulai dari aturan berpakaian dan rangkaian acaranya kemudian ditampilkan sesuai tema ini.

Pesta anak SMA 3 bertema "Get Metropolis", lebih kurang artinya adalah merayakan kehidupan kota metropolitan penuh gemerlap. Maka dipasanglah perangkat cahaya laser dan grup band reggae yang rancak. SMA Gonzaga memilih tema "Fabulous 50’s" yang mensyaratkan hadirinnya berdandan ala tahun 1950-an dengan busana model vintage dan lagu-lagu Frank Sinatra mengalun di latar belakang.

Anak-anak SMA 81 dengan tema "Be A Superstar" dan SMA 70 dengan judul "Walk of Fame" harus berdandan ala bintang film Hollywood karena keduanya mengangkat tema yang dilatarbelakangi penyerahan penghargaan Oscar pada ajang Academy Awards.

Acara-acara "standar" pesta prom pun digelar satu demi satu. Mulai dari penampilan berbagai band di panggung, dansa-dansi, hingga pemilihan Raja dan Ratu Prom di akhir acara. Band yang tampil mulai dari band sekolah hingga band profesional yang sudah terkenal, seperti Maliq N D’Essential yang memeriahkan pesta prom SMA 81.

Utang bila perlu

Melihat acara-acara yang digelar, terbayang biaya yang harus dikeluarkan. Askarina (17), salah satu panitia prom SMA 81, mengaku, pesta pada hari Senin (19/6) lalu menghabiskan dana Rp 100 juta. "Itu sudah termasuk biaya sewa tempat, katering, dekorasi, hingga sewa MC dan band bintang tamu," ujarnya.

Sementara Aisha Octavianti (17), Ketua OSIS dan Ketua Panitia Prom SMA 3, menyebut angka Rp 50-Rp 60 juta untuk menggelar pesta prom di Crowne Plaza, Kamis (15/6). Uang sebesar itu mereka kumpulkan dengan menarik iuran dari para siswa yang hadir.

Anak-anak Gonzaga ditarik Rp 175.000 per kepala bagi yang membayar sebelum acara, dan Rp 200.000 untuk mereka yang baru membayar pada hari H. Di SMA 3, setiap siswa diwajibkan membayar Rp 250.000. "Ada keringanan untuk yang tidak mampu menjadi Rp 150.000. Jadi ada sistem subsidi silang dari yang mampu membayar lebih," ujar Aisha.

Untuk meringankan beban, panitia prom SMA 81 menerapkan sistem cicilan. Biaya Rp 180.000 per orang dicicil Rp 15.000 per bulan sejak delapan bulan lalu. "Untuk menambah dana, anggota panitia dikenai iuran Rp 5.000 setiap kali rapat," ungkap Aska.

Dana iuran siswa tersebut masih ditambah dana dari donatur yang biasanya orangtua para siswa sendiri. Bahkan, ada yang mendapat sponsor dari perusahaan, seperti pesta prom Gonzaga yang disponsori produk sampo dan pasar swalayan terkemuka. "Biasanya karena ada orangtua siswa yang menjadi pejabat di perusahaan-perusahaan itu," kata Bernadeta M Astari atau Deta (17), salah satu siswi SMA Gonzaga, yang datang ke prom hari Jumat (16/6) malam.

Meski sudah mengerahkan segala sumber dana yang ada, uang yang terkumpul kadang masih kurang. Seperti diungkapkan Aisha, hingga pesta usai, seluruh dana yang dibutuhkan belum terkumpul. "Akhirnya kami dipinjami uang oleh salah satu orangtua siswa. Tetapi kami harus mengembalikan. Belum tahu nih, gimana cara ngembaliinnya," tutur Aisha polos.

Dana dandan

Itu baru dana penyelenggaraan pestanya. Mereka juga harus merogoh kocek lagi untuk mempersiapkan penampilan sebaik mungkin.

Aisha, selain pusing mengatur persiapan acaranya, juga sibuk menyiapkan penampilan pribadinya. Sejak jauh hari, ia telah membeli bahan untuk dijahit menjadi gaun malam. Ia juga harus mencari sepatu, tas, menata rambut, dan memoles riasan di wajahnya.

Aisha mengaku keluar dana Rp 500.000-Rp 700.000 untuk persiapannya itu. Sementara Sherry (18), siswi kelas 3 IPA 3 SMA 81, mengaku membelanjakan uang Rp 500.000-Rp 1.000.000 untuk persiapan prom. Uang sebesar itu sudah termasuk untuk beli baju, rias wajah, dan tata rambut seharga Rp 250.000.

Namun, Deta dari Gonzaga mengatakan, untuk tampil dalam prom sebenarnya tidak harus menghabiskan dana besar. Deta yang mendapatkan Best Female Dress Award malam itu mengatakan, dia hampir tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk persiapan prom. "Baju dikasih temen nyokap. Sepatu minjem pacar kakak. Tas minjem nyokap. Make-up sendiri. Paling cuma keluar duit buat ke salon aja," paparnya.

Kreativitas lainnya ditunjukkan Arwin (17), siswa kelas 3 IPA 1 SMA 81, malam itu yang tampil heboh dengan berdandan ala pria Skotlandia, lengkap dengan kilt (rok), kaus kaki selutut, jas, dan sarung tangan serta topi baret. "Gue cuma habis Rp 80.000 buat beli topi, sarung tangan, dan ongkos menjahit renda-renda. Sisanya pinjam semua. Jas pinjem ibu temen gue, rok pinjem temen cewek gue, dan sepatu boot punya bokap," katanya.

Kenangan terakhir

Untuk apa segala jerih payah dan biaya yang dikeluarkan itu? "Kalau ketemu teman dari SMA lain dan ditanya, ’Prom lu di mana?’, terus kita bisa menjawab ’Di Hilton!’, misalnya, rasanya bangga aja," ujar Deta memberi alasan mengapa prom harus diselenggarakan di hotel mewah.

Menurut dia, pesta prom menjadi simbol gengsi dan penanda gaya hidup para ABG Jakarta, sama seperti merek baju dan jam tangan yang mereka kenakan, atau merek mobil yang mereka bawa ke sekolah.

Namun di balik gengsi itu, ada alasan lain yang mereka ungkapkan. "Buat aku sendiri, ini lebih dari sekadar gengsi dan life style. Ini adalah momen terakhir untuk berkumpul dengan teman-teman SMA," tandasnya.

Hal senada dikatakan Aisha, "Ini acara sekali seumur hidup yang akan dikenang sampai tua. Jadi harus spesial."

Nyatanya, tidak semua remaja sebaya mereka sepakat dengan alasan itu. Bahkan, teman-teman satu sekolah mereka sendiri banyak yang tidak setuju dengan ide untuk menggelar prom. Itu sebabnya, tidak seluruh siswa kelas 3 hadir di prom.

Dari total 308 siswa kelas 3 di SMA 3, yang hadir di pesta prom malam itu hanya sekitar 150 siswa. Sementara dari 200-an siswa kelas 3 di Gonzaga, hanya sekitar 100 orang yang datang ke prom.

Salah satu yang tidak datang ke pesta prom Gonzaga adalah Karin Josephine (18). Karin mengaku sejak awal tidak berniat ikut pesta prom karena bagi dia, acara semacam itu hanya membuang-buang uang yang tidak perlu. "Acaranya sendiri sih oke-oke saja, tetapi konsepnya itu-itu saja. Buat perpisahan aja kok mesti di ballroom? Akhirnya jadi acara keren-kerenan saja," papar Karin.

Menurut dia, jika tujuan pesta prom itu adalah untuk merayakan kebersamaan, maka tujuan itu pada akhirnya tidak tercapai. "Karena tidak semua siswa mampu membayar iuran sebesar itu. Akhirnya enggak semua bisa hadir, jadi enggak kebersamaan juga kan?" ujar siswi yang memilih piknik bersama keluar kota sebagai bentuk acara perpisahan yang lebih baik.

Rasa Indonesia

Bagaimanapun juga, acara pesta yang sudah dirancang semewah mungkin ala Barat itu tetap tidak meninggalkan rasa Indonesia. Pesta prom yang asli seharusnya berupa pesta dansa antara pasangan lelaki dan perempuan.

Namun di sini, sepanjang pesta nyaris tidak ada interaksi antara siswa dan siswi. Para ABG itu terlihat masih terlalu malu-malu untuk berdansa-dansi dengan lawan jenisnya.

Bahkan di acara prom SMA 81, tidak ada kesan mewah kecuali tempat acara dan pakaian yang dikenakan pesertanya. Selain dekorasi yang sangat sederhana, musik yang dimainkan pun tidak bisa disebut mewah.

Grup band sekolah itu membuka pesta prom dengan membawakan lagu-lagu dangdut yang langsung disambut dengan joget para hadirin yang sudah berjas dan bergaun malam. Para siswi bahkan melepas sepatu-sepatu hak tingginya agar bisa berjoget dangdut dengan leluasa.

Ada juga SMA yang menggelar pesta prom sederhana, seperti SMA 24 Jakarta yang melangsungkan acaranya di aula Kantor Badan Pemeriksa Keuangan hari Sabtu (17/6) lalu. Di sana, para siswi datang memakai kebaya, sementara siswanya tetap memakai setelan jas yang tampak tidak nyaman dipakai. "Nggak biasa aja pakai baju kayak gini," ujar salah satu siswa. (LUSIANA INDRIASARI/ BUYUNG WIJAYA KUSUMA/ NINUK MARDIANA PAMBUDY)

Riansah Abbas

Osman Ramli Satrio & Rekan
Member of Deloitte Touche Tohmatsu
Wisma Antara 4th Floor
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 17
Jakarta 10110, Indonesia
T: +62 21 231-2879; 231-2955; 231-2381 Ext 3133
F: +62 21 231-3325; 384-0387
E: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
www.deloitte.com <http://www.deloitte.com>

Deloitte.____________________________________________________________________
ABOUT DELOITTE: Deloitte refers to one or more of Deloitte Touche Tohmatsu, a Swiss Verein, its member firms and their respective subsidiaries and affiliates. As a Swiss Verein (association), neither Deloitte Touche Tohmatsu nor any of its member firms has any liability for each other's acts or omissions. Each of the member firms is a separate and independent legal entity operating under the names "Deloitte," "Deloitte & Touche," "Deloitte Touche Tohmatsu," or other related names. Services are provided by the member firms or their subsidiaries or affiliates and not by the Deloitte Touche Tohmatsu Verein. In Indonesia, services are provided by Osman Ramli Satrio & Rekan, or Deloitte Tax Solutions, or PT Deloitte Konsultan Indonesia.

CONFIDENTIALITY: The information contained in or attached to this electronic transmission is confidential and may be legally privileged. It is intended only for the person or entity to which it is addressed. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any distribution, copying, review, retransmission, dissemination or other use of this electronic transmission or the information contained in it is strictly prohibited. If you have received this electronic transmission in error, please immediately contact the sender to arrange for the return of the original documents.

 
This message (including any attachments) contains confidential information intended for a specific individual and purpose, and is protected by law. If you are not the intended recipient, you should delete this message and are hereby notified that any disclosure, copying, or distribution of this message, or the taking of any action based on it, is strictly prohibited.


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Lihat Arsip Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Kirim email : [email protected]
Website : ---dream works project---
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke