---------- Forwarded message
----------
From: "Zuhriansyah, Yanuar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: < [EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 18 Sep
2006 14:45:55 +0700
Subject: [ngaji_yuk]
[konfirmasi] HIDAYAH BUKAN SAUDARA TABLOID
POP
Ass.wb.wb.,
Bapak/Ibu
Moderator, mohon di sebarkan sanggahan/klarifikasi dari Bpk. Herry
Munhanif/ Staf Redaksi majalah Hidayah mengenai subjek di atas yang pernah
diangkat melalui milis ini. Semoga tidak ada lagi fitnah yang
disebarluaskan tanpa ada bukti yang dapat dipertanggungjawabk an
kebenarannya. Terima kasih.
Wass.
wb.wb., Nila.
HIDAYAH
BUKAN SAUDARA TABLOID POP
Assalamu'alaikum
wr. Wb.
Semula saya agak kaget melihat email serta milis yang isinya
sangat menyudutkan majalah Hidayah, dimana saya kerja di media tersebut.
Bagaimana tidak, Hidayah yang selama ini lekat dengan pembaca sebagai
majalah yang sejuk, membimbing orang untuk belajar agama, dicap sebagai
majalah yang mengusung jargon Islam Belatung, majalah yang menyajikan
cerita-cerita horor yang patut dipertanyakan kebenarannya, majalah yang
mengejar profit besar dengan menghalalkan segala cara yakni menjual nama
agama meski dengan cerita-ceritra sampah sampai majalah yang bersaudara
dengan Tabloid Pop (Tabloid Porno).
Namun setelah saya cermati,
informasi miring tersebut tampaknya sekedar sensasi belaka, bualan semata
yang menjurus pada fitnah. Entah didasari apa sehingga pelempar bola panas
tersebut berani mengatakan sesuatu yang
sebenarnya sangat tidak diketahuinya, tidak sesuai dengan fakta yang
sesungguhnya serta pemahaman yang serampangan. Apakah ada motif ingin
menjatuhkan citra Hidayah di depan khalayak melalui black campaign
(kampanye hitam) dengan seolah-olah mengatakan bahwa apa yang ditulisnya
benar-benar merupakan investigasi yang dapat dipertanggungjawabk an kepada
publik ataukah ada motif-motif lainnya.
Maklumlah,
menurut hasil riset NMR (Nielsen Media Research) kuartal pertama 2006, di
sembilan kota besar tercatat majalah Hidayah adalah majalah yang paling
banyak dibaca (menempati rangking pertama) di antara 10 majalah lain, baru
disusul majalah GADIS, BOBO, ANEKA YESS!, KARTINI, ETNIX, SABILI, TEMPO,
MISTERI dan INTISARI. Dari sekitar 40 juta pembaca yang disurvei NMR (usia
10 tahun ke atas), sekitar 4,9% di antaranya memilih Hidayah sebagai
bacaan mereka. Pembaca Hidayah jauh melampaui pembaca majalah-majalah
lain, sementara peringkat kedua yaitu GADIS hanya meraup 1,81%, dan
majalah Intisari yang berada di peringkat sepuluh meraup 0,64% (lihat
Majalah Cakram Fokus edisi 6/2006).
Melihat perjalanan Hidayah yang
baru berumur 5 tahun namun hasilnya cukup fenomenal, maka tak mengherankan
hantaman melalui isu-isu murahan dan tidak dapat dipertanggungjawabk an,
pun coba dihembuskan oleh oknum-oknum yang sentimen terhadap Hidayah.
Kata orang, semakin di atas semakin kencang angin bergoyang, mungkin ada benarnya. Kondisi
itulah yang kini dihadapi Hidayah.
Saya melihat, banyak hal yang sengaja dilencengkan dan diplintar-plintir oleh pembawa informasi miring tersebut
dari fakta yang sesungguhnya.
Pertama, penulis (penebar informasi tak jelas tersebut) kurang memahami isi majalah Hidayah. Sebab bila ia paham betul, ia tidak akan menyimpulkan bahwa Hidayah mengusung Islam
Belatung. Ia ingin memberi label itu karena melihat cover Hidayah yang seram-seram
dan ada keterkaitan dengan azab yang diterima seseorang menjelang/sesudah
meninggal dunia karena amal perbuatan buruknya sewaktu di dunia, ditambah lagi dengan tayangan televisi yang marak dengan sinetron dengan tema yang hampir serupa dengan Hidayah.
Padahal sejatinya, cerita yang dimaksudkan itu bagian kecil dari seluruh isi majalah Hidayah. Porsi untuk cerita-cerita yang
baik (husnul khatimah) yang sama-sama
bisa diambil iktibarnya juga cukup banyak. Belum lagi rubrik-rubrik lain yang
sangat disenangi pembaca. Seperti:
Kisah Kitab (rujukannya pada kitab-kitab klasik yang
memuat kisah-kisah
yang patut direnungi),
Kisah Qur'an (kisah yang tidak asing lagi yang diinukilkan dari ayat-ayat al-Qur'an dan kitab-kitab tafsir), profil dai (menampilkan dai-dai yang
sudah malang melintang di tanah air), tokoh-tokoh
Islam, Syiar (lembaga
Islam yang lebih mengedepankan pengembangan
keislaman), serta
artikel-artikel keagamaan yang diminati
banyak orang.
Dan
sejak sinetron-sinetron yang hampir sama dengan Hidayah menjamur di berbagai tayangan televisi yang keluar pakem dari Hidayah, dengan penyajian dan penggarapan yang justru bisa membuat citra kurang baik, Hidayah Indonesia sudah sejak lama menarik diri dari peredaran di televisi.
Dengan mengacu hal di atas, maka penilaian Hidayah yang dipersepsikan
Islam Belatung adalah
penilaian yang sangat
cetek. Dan tampaknya sang penebar informasi miring tersebut
menyimpulkan berdasar
kekurangpahamannya terhadap Hidayah, ia hanya mengetahui kulit luarnya saja tanpa memahami isi-isinya.
Kedua, rujukan
yang digunakan sang penebar isu tersebut layak dipertanyakan kebenarannya.
Darimana informasi didapat, benarkah dari salah seorang reporter GATRA, ataukah hanya alasan yang digunakan untuk menjustifikasi dugaannya. Saya menangkap bahwa apa yang dituduhkan ini hanya berdasarkan "katanya" bukan dari investigasi yang benar-benar. Nah, jika rujukan tersebut bersifat "katanya" karena bukan berasal dari rujukan primer, bagaimana mungkin orang bisa mempercayai kebenaran tulisan tersebut.
Dalam ilmu mushtalahul hadits, sanadnya (penyampai berita) mungkin tidak tsiqah (kurang bisa dipercaya) hingga orang yang meriwayatkan pun
(rawi) akhirnya asal-asalan. Maka berita itu pun dianggap dhaif (lemah), dan karena kedhaifannya, maka berita tersebut tidak bisa dijadikan rujukan.
Oleh karena itu, orang patut curiga maksud si penulis berita. Benarkah, mengada-ada atau ada maksud kurang baik. Dalam etika jurnalistik, hal semacam ini tidak bisa dipertanggungjawabk an secara akademik.
Ketiga, ia benar-benar tidak tahu atau hanya mengarang. Sebab Perusahaan yang menerbitkan
majalah Hidayah bukanlah PT VARIA POP NUSANTARA melainkan yang benar adalah PT VARIAPOP GROUP. Sangat
berbeda sekali.
Dan media-media yang berada di bawah naungan bendera PT VARIAPOP
GROUP adalah MAJALAH HIDAYAH (Sebuah Intisari Islam),
PARAS (Wanita Islam), MUSLIMAH (Trend Remaja Islam), ANGGUN (Pengantin Islam), VARIASARI, DIDIK (Anak Islam), CHEF (masakan)
serta BERITA INDONESIA yang khusus diedarkan di Malaysia. Jadi, TABLOID POP tidak ada di dalamnya. Dengan kata lain, jika seseorang menyandingkan
atau bahkan menganggap bahwa majalah HIDAYAH saudara
sekandung dengan
TABLOID POP yang konon katanya media porno alias esek-esek, maka penilaian tersebut SALAH
BESAR dan sangat tidak berdasar.
Keempat,
Pak Kyai Ali Yafie
tentu bisa menilai tentang isi dan misi majalah HIDAYAH sebelum menjatuhkan sepakat untuk menjadi penanggung jawab rubrik Konsultasi Fiqh.
Saya yakin, beliau tidak akan mau mengasuh rubrik ini jika kenyataannya HIDAYAH
punya saudara media
yang hanya mengumbar
syahwat, TABLOID POP. Kalau pun tahu belakangan, beliau akan segera menyetop rubrik asuhannya. Tapi kenyataannya tidak demikian kan
. Beliau tetap mengawal majalah Hidayah sebagai pengasuh rubrik konsultasi fiqh sudah lebih dari 33 edisi (hampir 3 tahun). Dan
alhamdulillah hingga
kini beliau masih setia menerima kedatangan saya tiap sebulan sekali, saat hendak mewawancarainya (dengan
mengajukan pertanyaan-pertanya an dari
pembaca) yang akan dimuat di rubrik konsultasi fiqh.
Demikianlah beberapa hal yang perlu diluruskan atas berita yang tidak mengenakkan ini.
Jika
penasaran, silahkan konfirmasi kebenarannya secara langsung ke redaksi
Hidayah. Kepada penebar berita miring ini, kalau Anda punya nyali,
silahkan datang ke kantor Redaksi HIDAYAH atau Perusahaan yang menerbitkan
HIDAYAH. Kita bicara blak-blakan sejauhmana tuduhan Anda benar.
Wassalamu'alaikum wr. wb
Herry M (staf
redaksi HIDAYAH)
Redaksi HIDAYAH telp. 021- 8493
5417, Herry Munhanif"
< [EMAIL PROTECTED] com
>