Inilah email2 tipikal "JIL" , permisif, memutarbalikkan akidah, menggunakan dalil2, sunnah2, bahkan ayat2 Al Quran untuk membenarkan opini sempitnya yang padahal "sesat".
Bisa dibalikin gak yu email ini ke room asalnya ? Ini orang bisa ngomong begini "penyakit orang baik adalah pada saat dia merasa dirinyalah yang paling baik. Sehingga kita harus selalu berhati-hati karena batas antara baik dan buruk sangatlah tipis" tapi dia sendiri malah menunjukkan kalo dirinya paling baik, hebat banget ta'mir masjid dikritik. Salah satu tugas ta'mir masjid adalah MEMASTIKAN bahwa KEGIATAN IBADAH di masjid berjalan lancar tanpa gangguan. Yang lebih lucu Perbandingannya tidak relevan : 1. Rasulullah ketika itu sholat sendirian bukan di mesjid dan tidak sedang berjamaah. Tidak ada masalah beliau mau sholat 1 jam 2 jam dst... , lha kalo di mesjid, orang banyak, mereka yang menjalankan ibadah jauh lebih berhak memperoleh suasana yang kondusif dan nyaman untuk mengerjakan sholat dengan khusyu' ? 2. Kualitas Sholat Rasulullah tidak bisa dibandingkan dengan siapapun apalagi dengan kita "ummat di akhir zaman", Rasul PASTI tetap akan sholat dengan khusyu' walaupun ada GRANAT meledak di sebelah beliau pun. Coba lah kita introspeksi... Bunyi hp berdering saja mungkin kita sudah terganggu, apalagi celotehan anak2 orang. 3. Waktu itu yang "mengganggu" Rasul adalah cucu-cucunya sendiri bukan "anak orang" karena Rasul sholat di RUMAH atau kasarnya tempat yang sama dengan ARENA BERMAIN cucu2nya. Bukan di Mesjid. Nah kalo ini di banyuwangi khan di Mesjid , tempat ibadah bukan Taman Bermain, waktunya tarawih lagi. 4. Memang tidak ada "LARANGAN" bagi siapapun untuk bertamu ke rumah 4JJ1. Termasuk "anak2 kecil" yang belum baligh. Hanya saja mbok ya introspeksi... Kalo anaknya mau belajar membaca Al Quran, TPA, atau ikut2an belajar sholat ya gak apa2, malah dianjurkan. Lha dia sendiri ngaku anak2nya ngoceh gak karuan, asyik maen perang2an sama teman2nya.....kalo begini masak iya harus ditolerir. Orang tua seharusnya lebih tahu karakter anak2nya, jangan sampai karena "sayang anak" kita menjadi berdosa karena telah "menzalimi" & merampas hak saudara muslim yang lain dalam menjalankan ibadah (jika mengganggu kekhusyu'an). Mendingan ditinggal saja di rumah. Bukankan 4JJ1 berfirman... "Jangan sampai harta, anak2 & istri2mu menjadikan kamu lalai dalam beribadah kepada 4JJ1" 5. Ta'mir masjid manapun di dunia ini bahkan tak seorang pun yang bisa melebihi kesabaran "Rasulullah SAW' jangankan sholat diganggu cucu2nya, dilempari kotoran pun beliau tidak marah. Pernah suatu ketika seorang badui sengaja kencing di dalam masjid, Sahabat Umar sudah menghunus pedang tetapi dilarang oleh Rasul. Badui tersebut hanya diperingatkan bahwa masjid itu tempat suci, tidak boleh kencing di dalam masjid. 6. Memangnya saudara Ariz Fajar A sudah bisa berperilaku seperti Rasulullah ? Kalo sudah bisa meneladani sih boleh lah berharap agar orang lain pun demikian. Ya kalo belum , alangkah NAIFnya jika mengharapkan orang lain agar bersikap seperti Rasul. Mudah2an saudara Ariz Fajar A hanya sekedar kesal karena rasa sayangnya pada anaknya, bukan karena sengaja memang menyebarkan sikap permisif atas gangguan bagi orang beribadah Wss Wr Wb Andi Harjono -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of irsan bayu aji Sent: 26 September 2006 15:40 To: [email protected] Subject: [pirus] Fw: [XY_Platinum] Dilarang membawa anak balita ke masjid saattarawih? ----- Original Message ----- From: NjeGaDhulll To: XY ; Entun Sent: Tuesday, September 26, 2006 3:12 PM Subject: [XY_Platinum] Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih? anak balita ke masjid saat tarawih? Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih? Mungkin pengumuman seperti tersebut di atas akan jamak kita dengar di masjid-masjid dan mushalla-mushalla selama bulan ramadhan. Seperti yang dulu biasa saya dengarkan di masjid sebelah rumah orang tua saya. Seperti biasanya juga saya amini pengumuman dari ta'mir tersebut, berdasarkan keinginan bersama untuk lebih khusyu' tanpa terganggu oleh teriakan anak-anak kecil. Akan tetapi rasanya jadi berbeda ketika beberapa malam lalu saya mendengar pengumuman yang menghimbau jamaah untuk tidak membawa anak balita selama shalat tarawih di masjid di lingkungan tempat saya tinggal sekarang. Malam itu adalah malam pertama kali dilaksanakan shalat tarawih. Artinya besoknya adalah puasa ramadhan hari pertama. Terlihat cukup banyak anak-anak usia balita yang ikut orang tuanya ke masjid untuk shalat tarawih. Beberapa diantaranya ada yang kelihatannya sudah duduk di bangku sekolah dasar. Biasalah, layaknya anak-anak kecil lainnya, bukannya mengikuti tawarih dengan khusyu' dan tuma'ninah, mereka malah berkumpul dan bercanda rame-rame. Buat saya sih, kondisi seperti itu oke-oke saja. Saya mahfum karena memang anak kecil sedang dalam masanya bermain-main. Dan kebetulan juga saya merasa tidak terlalu terganggu oleh candaan anak-anak itu. Tapi ternyata tidak begitu buat beberapa orang jama'ah dan ta'mir masjid. Pada waktu memberikan kultum, seorang ta'mir memberikan arahan kepada seluruh jamah untuk selanjutnya tidak lagi membawa anak balita ke masjid. Karena menurut beliau, balita yang berkumpul di masjid akan menyebabkan jamah menjadi tidak khusyu shalatnya. Buktinya pada saat itu terdengar anak-anak kecil sedang berkumpul dan saling berbicara dengan suara yang agak keras. Pengumuman ta'mir tersebut mengejutkan saya. Memang sih, sebelum memberikan arahan beliau terlebih dulu meminta maaf apabila apa yang akan disampaikan mungkin menyinggung perasaan sebagian jamaah. Tapi tetap saja saya kaget. Yang membuat saya terkejut adalah ternyata kita sendiri masih membuat batasan tentang siapa yang berhak dan layak untuk datang ke baitul-Lah. Padahal di mata Allah semua manusia adalah sama dan sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan lainnya. Allah sangat egaliter. Baik seorang ustadz dan orang tua ataupun anak kecil, masing-masing memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya. Saya tidak terlalu ingat, tapi seingat saya dalam salah satu hadits disebutkan bahwa suatu ketika Kanjeng Rasul mengerjakan shalat berjamaah dengan para sahabat. Saat itu Kanjeng Rasul mengerjakan salah satu sujudnya dalam waktu yang cukup lama. Sehingga membuat para sahabat heran dan bertanya-tanya. Setelah selesai sahalat, akhirnya Kanjeng Nabi menjelaskan mengapa salah satu sujudnya lama adalah karena waktu itu cucu beliau yang masih kecil sedang duduk di leher beliau. Kanjeng Rasul tidak mau mengganggu keasyikan cucunya, sehingga memutuskan untuk menunggu sampai si cucu bosan dan turun dari leher Kanjeng Rasul. Setelah itu baru Kanjeng Rasul melanjutkan shalat ke rakaat berikutnya. Subhanallah.. Bahkan Kanjeng Rasul sekalipun masih menghormati cucunya yang notabene seorang anak kecil yang sedang bermain-main dan duduk di atas leher beliau. Lalu mengapa kita masih dengan sombongnya melarang anak-anak balita kita untuk menjadi tamu Allah? Apakah dengan menjadi orang tua membuat kita merasa sah untuk menentukan layak atau tidaknya seorang balita ikut datang ke masjid? Rasulullah adalah manusia pilihan yang semenjak dari lahirnya sudah dijaga hati, lisan dan tindakannya oleh Alah dari perbuatan buruk. Namun Kanjeng Rasul masih menyempatkan waktu membiarkan seorang balita bermain-main di atas leher beliau meskipun saat itu Kanjeng Rasul sedang menjadi imam shalat berjamaah dengan para sahabat. Kemudian seperti apakah kita dibandingkan dengan Rasulullah? Sederajatkah kita yang sangat banyak dosanya ini dibandingkan dengan Kanjeng Rasul yang ma'shum? Lalu mengapa kita dengan mudahnya menentukan bahwa anak-anak kita yang masih berumur balita tidak layak menjadi tamu Alah di rumah-Nya? Dalam keyakinan saya, belum tentu di hadapan Allah saya lebih suci dibandingkan anak saya yang baru berumur 14 bulan. Belum tentu doa saya lebih makbul dibandingkan dengan doa anak saya. Belum tentu saya lebih diajeni oleh Allah di dalam rumah-Nya dibandingkan dengan anak saya. Belum tentu juga shalat yang saya lakukan di masjid lebih diridlai Allah dibandingkan dengan kehadiran anak saya di sana. Kehadiran anak-anak di masjid adalah sebenarnya proses pembelajaran bagi mereka. Anak-anak kita akan melihat bagaimana cara shalat yang baik dan benar. Anak-anak juga akan melihat bagaimana para orang tuanya bermusyawarah tentang kepentingan bersama di masjid. Anak- anak akan belajar memahami bahwa masjid adalah pusat seluruh aktivitas masyarakat di lingkungannya. Namun bagaimana semangat "back to mosque" tersebut dapat ditanamkan ke benak anak- anak kita apabila dari awal kita sudah membuat saringan layak atau tidak layak bagi mereka untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya sendiri? Dalam keyakinan saya, spiritualitas dan kekhusyukan kita dalam beribadah tidak ditentukan oleh usia. Tidak ditentukan juga oleh seberapa ramai atau seberapa sepi lingkungan tempat kita beribadah. Tapi lebih banyak ditentukan oleh seberapa ikhlas kita bersedia beribadah dan berdzikir atas nama Allah. Bukan atas nama yang lainnya. Sebagai akhiran, saya mengutip perkataan salah seorang sahabat bahwa penyakit orang baik adalah pada saat dia merasa dirinyalah yang paling baik. Sehingga kita harus selalu berhati-hati karena batas antara baik dan buruk sangatlah tipis. Bahkan terkadang tanpa terasa kita sudah berjalan melintasi batas tersebut dan berada di area seberang hanya karena kita merasa sedikit lebih baik dari seorang balita. Semoga Allah masih berkehendak mengijinkan kita semua untuk bertemu dengan ramadhan tahun depan. Karena bulan ramadhan adalah saat yang tepat untuk melakukan introspeksi diri untuk kemudian selanjutnya kita jadikan sebagai dasar transformasi diri menuju ke arah yang lebih baik. Banyuwangi, 25 September 2006 Aziz Fajar Ariwibowo ================================= scanned by Indosat TM-IMSS System --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Arsip Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Album Foto : http://pirus.fotopic.net MultiplyWeb : http://www.pirusers.multiply.com Friendster : http://www.friendster.com/9379274 Administrator email : [EMAIL PROTECTED] -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

