|
Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA . Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi. Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya diminta bergabung. ''Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,'' kata Fadli setelah saya duduk. ''Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama, sekitab suci, senabi; tapi nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda. Di kampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari Selasa. Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?'' Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi pasti akan digilas dengan jawaban: ''Sudahlah, pokoknya kita hormati keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun Selasa, semua baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing, dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang mereka ambil.'' Itulah ke tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah. Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin mewakili perasaan umum masyarakat awam. Jelasnya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang berbeda hari. Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih. Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa. Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari. ''Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,'' Fadli mengingatkan saya. ''Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari Lebaran,'' jawab saya. ''Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?'' kejar Fadli. ''Saya lebih suka Lebaran bareng.'' ''Kenapa?'' ''Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan Lebaran yang tidak kompak ini.'' ''Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak dalam menentukan hari Lebaran?'' Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli. ''Begini, Fad,'' kata Uun. ''Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira, adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.'' ''Memutlakkan bagaimana?'' ''Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah menjadi tidak nyaman.'' ''Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam adalah rahmat.'' ''Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan. Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari Lebaran ini.'' ''Kalau begitu kamu punya gasasan apa?'' ''Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi, Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui keputusan politik. tawarkan, tapi saya kemukakan satu saja yang paling sederhana.'' ''Lebaran dengan keputusan politik?'' tanya Fadli dengan mata melebar. Terus terang saya dan yang lain juga terkejut. ''Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah, dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam waktu itu melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau kurang enak dipandang?'' Kecuali Uun yang tertawa-tawa, selainnya jadi memasang wajah serius karena merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan, masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya. ''Bagaimana kalau umat Islam Maka kita akan melaksanakan shalat Id bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal. Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku paling baik, bisa berlebaran bareng.'' Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu tadi, STAIN saja tidak tamat. (Harian republika. Tgl 9/10/2006 / http://www.mualaf.com ) seterusnya, dengan mengirimkan topik ini ke Sepuluh Rekan Anda dengan email, dengan harapan semoga Iedul Fitri tahun 1427 H ini tidak ada perbedaan harinya. Jika dapat cc dan DPP NU. Kirim ke Sepuluh teman anda untuk Kampanye Bersama Berlebaran Bersama kini dan seterusnya ! --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Arsip Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Album Foto : http://pirus.fotopic.net MultiplyWeb : http://www.pirusers.multiply.com Friendster : http://www.friendster.com/9379274 Administrator email : [EMAIL PROTECTED] -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- |

