Nice. Hints nya, awas awas Aceh, Maluku, Timor-timur, dan Papua lepas. Tim-tim sudah lepas. Tiga lagi bagaimana? Apa mau dijual mengatasnamakan HAM lagi? Gue sih ngga rela.

 

Check this out: “Jadi, nasionalisme dan patriotisme itu bukan terkait dengan rezim atau pemerintahan tertentu yang berkuasa di negeri ini.”

Dari yang gue baca sih sepertinya sosok Soe Hok Gie tidak mengidentifikasi diri sebagai nasionalis. Tapi kalau dia bukan nasionalis enggak tahu deh yang nasionalis itu kayak apa.

 

-----Original Message-----
From: Ambon [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent
:
Wednesday, August 17, 2005 4:55 AM
To: budaya_tionghua
Subject: Nasionalisme Seorang Demonstrans

 

 

Rabu, 17 Agt 2005,

 

Nasionalisme Seorang Demonstrans
Oleh Tomy Su *

 

Tanggal 17 Agustus 2005 Indonesia genap 60 tahun merdeka. Entah kebetulan atau tidak, sejak 14 Juli lalu film Gie serentak diputar di berbagai gedung bioskop di negeri kita.

Tentu Mira Lesmana, pembuat film itu, punya maksud mengapa film yang berangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran (diterbitkan LP3ES Jakarta, Mei 1983) ditayangkan menjelang 60 tahun
Indonesia merdeka. Nah, pertanyaannya sekarang, kira-kira apa benang merah sosok Gie dan 60 tahun Indonesia merdeka?

Jawaban tiap orang mungkin bisa berbeda. Tetapi, jika kita mau jujur, boleh jadi Mira Lesmana ingin mengatakan bahwa spirit dan pesan-pesan Soe Hok Gie, seperti terbaca dalam buku Catatan Seorang Demonstran, masih relevan dengan kehidupan berbangsa kita saat ini, terlebih menjelang peringatan dan perayaan kemerdekaan ke-60.


Makin Tipis

Kalau kita tengok perjalanan 60 tahun
Indonesia merdeka, harus diakui dari tahun ke tahun semangat nasionalisme dan patriotisme makin menipis.

Saya ingat pada dasawarsa 90-an sebelum Soeharto jatuh, Hasyim Wahid, adik Gus Dur yang ahli intelijen, pernah membeberkan prediksinya soal skenario asing, yang menginginkan empat provinsi Indonesia lepas. Yakni, Timtim, Maluku, Papua, dan Aceh.

Menurut skenario itu,
Indonesia terlalu luas dari segi wilayah dan membiarkan Indonesia menjadi negeri besar akan berbahaya. Apalagi, kekuatan asing itu juga ingin mengincar beberapa hasil tambang yang vital, seperti nuklir (di selat Timor), emas dan permata (Papua dan Maluku) serta minyak (Aceh).

Mengherankan, prediksi itu mendekati kenyataan. Timor Timur sudah lepas, Maluku rusuh, Papua juga resah, hingga masalah Aceh saat ini. Maka kita harus menghargai kekhawatiran beberapa tokoh lintas agama, seperti KH Hasyim Muzadi atau Kardinal Julius Darmaatmadja yang menolak internasionalisasi masalah Aceh, partai lokal di
sana, dan menginginkan masalah Aceh diselesaikan dalam konteks NKRI.

Kekhawatiran dua tokoh agama berpengaruh itu juga menunjukkan bahwa nasionalisme dan patriotisme itu tetap masih relevan, apalagi untuk mempertahankan NKRI.

Nah, jika kita kembali ke sosok Soe Hok Gie, semangat nasionalisme dan patriotisme itu bisa kita cermati dengan jelas sekali. Bahkan, kalau kita telaah goresan pena dan langkah-langkah hidup Gie, akan terlihat nyata bahwa nasionalisme dan patriotisme Gie bukan basa-basi.

Dia menulis patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau mengenal objeknya. Dan, mencintai tanah air
Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.

Jadi, ketika Gie menjelajah alam dan atau mendaki gunung, itu bukan sekedar aktivitas rekreatif, tetapi menjadi ekspresi rasa cinta tanah airnya. Bahkan, akhirnya dia pun menyatu dengan Ibu Pertiwi ketika mengembuskan napas penghabisan di Gunung Semeru pada Desember 1969.

Bagi Gie rasa cintanya itu memang dipersembahkan bagi alam dan segenap manusia serta isinya yang ada di persada Nusantara itu. Jadi, nasionalisme dan patriotisme itu bukan terkait dengan rezim atau pemerintahan tertentu yang berkuasa di negeri ini.

Meski begitu, Gie adalah aktivis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Angkatan 66 tidak akan lengkap jika tidak menyebut nama Gie. Dari buku catatan hariannya, kita bisa membaca bahwa pada era 60-an ketika mahasiswa turun di jalan-jalan, karena kemuakan pada Orde Lama, Gie hampir terlibat di semua lini.

Sebagai mahasiswa, Soe Hok Gie menjadi ketua Senat Fakultas Sastra dan menjadi salah satu pendiri Mapala-UI dan Grup Diskusi UI. Dia pun aktif dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS). Dan, yang penting, dia ikut berjasa melampangkan jalan bagi Orde Baru.

Tapi, harus diingat, Gie bukan seorang oportunis. Ketika teman-temanya sesama aktivis Angkatan 66 terjun ke parlemen (entah jadi anggota MPRS atau DPR-GR) atau dekat dengan Soeharto, Gie tetap memilih jalan tidak mau masuk dalam sistem kekuasaan Orba.

Tentang teman-temannya yang menerima tawaran kursi parlemen dan bahkan berebut mendapatkan kredit mobil, dia menyebutkannya sebagai pemimpin yang mencatut perjuangan. Apalagi, menurut kesaksian ahli sejarah Onghokham, manusia seperti Soe Hok Gie adalah seorang external oppositionist yang tak tahan berhadapan dengan kemapanan.

Gie sendiri menulis Lebih baik teralienasi atau terasing daripada menyerah kepada kemunafikan. Padahal, kini banyak aktivis yang hanya mengejar jabatan di pemerintahan. Ini yang menunjukkan bahwa dia jujur dan tidak punya pamrih yang egoistis. Rasa nasionalisme dan patriotismenya memang bukan basa-basi.

Nah, ketika Orba mulai melenceng, dengan memperlakukan para tahanan PKI secara sewenang-wenang dan membuang kebanyakan mereka ke Buru, Gie juga berani menulis di koran-koran. Padahal, Gie seorang antikomunis.

Harsja W .Bachtiar, dekan Fakultas Sastra UI (saat itu), perguruan tinggi tempat Gie kuliah berkomentar di cover buku Catatan seorang Demonstran: "….di tengah pertentangan politik, agama, kepentingan dan golongan, Soe Hok Gie tegak berdiri di atas prinsip perikemanusiaan dan keadilan serta secara jujur dan berani menyampaikan kritik-kritiknya atas dasar-dasar prinsip itu demi kemajuan bangsa".

Jadi, dalam kritik-kritiknya juga tecermin nasionalisme dan patriotismenya. Seperti diceritakan Arief Budiman, abang Gie, gara-gara kritik-kritik itu, Gie sering mendapat surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai "China yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja".

Gie memang tidak mendapat uang, suatu stereotif umum di negeri ini akan etnis Tionghoa yang dinilai hanya mengejar uang. Tetapi, Gie akan selalu mendapat tempat di hati setiap pejuang kemanusiaan dan dicatat sejarah dengan tintas emas.

* Tomy Su, koordinator Masayarakat Pelangi Pencinta Indonesia.





YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke