|
Jadi istilah yang enak
apa donk?
SUKU tionghua? Ayuk cari istilah
yang enak terus kita populerkan rame rame. -----Original Message----- iya lah... On 8/19/05, HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote: SUARA PEMBARUAN DAILY O p i n i
"Kami Orang Indonesia Asli"
DI sebuah sudut Kota Tangerang, warga Pecinan Pasar
Lama merayakan HUT ke-60 kemerdekaan Indonesia, dengan perasaan yang
benar-benar merdeka. Berbagai lomba digelar untuk anak-anak maupun dewasa. Anak-anak berlomba di lapangan, sementara sebagian
pria dewasa, berkumpul di kelenteng bersembahyang dan mengadakan pertandingan
catur. Suasana meriah menyambut kemerdekaan RI itu memang
terasa berbeda sejak berlangsungnya reformasi. Berbagai kegiatan budaya dan
keagamaan yang sebelumnya dilakukan sembunyi-sembunyi, kini sudah terbuka. Tak jarang berbagai pertunjukan budaya justru
dipertontonkan ke masyarakat luas. Kendati sekarang ini ada yang merasakan kesakralan
seni budaya, seperti Barongsai dan Liong, mulai berkurang karena digunakan
untuk mengamen di jalanan. "Sejak reformasi, kami bisa merasakan arti
kebebasan. Masyarakat Tionghoa di sini tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk
melakukan kegiatan agama maupun budaya," ujar Oey Tjing Eng (62) tokoh
masyarakat Tionghoa Tangerang atau yang dikenal sebagai Cina Benteng kepada Pembaruan, Rabu (17/8). Melihat postur Tjing Eng, yang juga dikenal sebagai
budayawan yang aktif di kelenteng Boen Tek Bio di Jl Ki Samaun, kita mungkin
tidak yakin kalau dia seorang keturunan Tionghoa. Kulitnya hitam, matanya tidak
sipit. Gaya bicaranya juga seperti warga Tangerang umumnya. Tipikal Cina Benteng ini memang berbeda jauh dengan
warga Tionghoa di daerah lain, yang masih mewarisi ciri berkulit putih dan
bermata sipit. Tak heran Tjing Eng menyebut mereka ini Indonesia asli. "Kami ini Indonesia asli karena yang melekat di
tubuh kami ada juga keturunan Indonesianya," ujarnya. Menurut Tjing Eng, mereka sebenarnya enggan disebut
sebagai warga keturunan, karena apa yang melekat pada diri mereka sekarang ini
adalah apa yang juga ada pada masyarakat Indonesia umumnya. Mereka juga
berharap, mempunyai hak yang sama sebagai bangsa Indonesia. Jadi, jika memungkinkan, bagi warga Cina Benteng,
tidak ada lagi syarat yang disebutkan dalam undang-undang dasar, misalnya untuk
menjadi pemimpin harus Warga Negara Indonesia asli. "Sekali lagi, kami ini
Indonesia asli," ujar Tjing Eng. Cikal Bakal Tidak semua orang Cina Benteng berprofesi sebagai
pedagang yang hidupnya berkecukupan. Banyak juga yang bekerja sebagai petani,
nelayan, bahkan tukang becak, yang hidupnya miskin dan sederhana. Umumnya
mereka ini mendiami kawasan utara di sekitar Teluknaga dan Kosambi. Berbicara tentang Tangerang, memang tidak bisa
dipisahkan dengan pertumbuhan etnis Tionghoa di daerah ini. Bisa dikatakan,
cikal bakal Kota Tangerang justru berasal dari etnis ini, yang mengembangkan
kawasan Pasar Lama. Kawasan ini berada di tepi sungai dan merupakan
pemukiman pertama masyarakat Tionghoa di sana. Struktur tata ruangnya sangat
baik. Menurut Tjing Eng, dulunya nenek moyang mereka tinggal
di tiga gang, yakni Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gabng Gula
(Cilangkap). Ketiga gang ini sekarang sudah berubah wajah menjadi pertokoan dan
pasar. Sedikit sekali terlihat bangunan yang berciri khas Cina. Dalam buku Ziarah
Budaya Kota Tangerang yang ditulis Wahidin Halim, Walikota
Tangerang, disebutkan, pada akhir tahun 1800 sejumlah orang Tionghoa
dipindahkan ke kawasan Pasar Baru, Tangerang dan sejak itu mulai menyebar ke
daerah-daerah lain. Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi
orang-orang Tionghoa, yang datang lewat sungai, dengan penduduk lokal. Asal-usul orang Cina Benteng, menurut sinolog (ahli
tentang bahasa dan kebuadayaan Cina) dari Universitas Indonesia, Eddy Prabowo
Witanto A, tidak terlepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang
dibangun pada zaman kolonial Belanda itu sekarang sudah rata dengan tanah. Letaknya
di tepi Sungai Cisadane di pusat Kota Tangerang. Pada saat itu, kata Eddy, banyak orang Tionghoa
Tangerang yang kurang mampu, tinggal di luar Benteng Makassar dan
terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu Sewan dan Kampung Melayu. Mereka
berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Di sinilah muncul istilah Cina Benteng. Tahun 1740, terjadi pemberontakan orang Tionghoa,
menyusul keputusan Gubernur Jendeal Valkenier, untuk menangkapi orang-orang
Tionghoa yang dicurigai. Mereka akan dikirim ke Sri Lanka untuk dipekerjakan di
perkebunan-perkebunan milik VOC. Pemberontakan itu dibalas serangan serdadu kompeni ke
perkampungan-perkampungan Tionghoa di Batavia. Sedikitnya 10.000 orang tewas
dan sejak itu banyak orang Tionghoa mengungsi untuk mencari tempat baru di
daerah Tangerang, seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, bahkan sampai Parung di
daerah Bogor. Itulah sebabnya, banyak orang Tionghoa yang tinggal di pedesaan
di pelosok Tangerang. Meski demikian, menurut pemerhati budaya Tionghoa di
Indonesia, David Kwa, mereka yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru
tetap disebut sebagai Cina Benteng. Sebagai kawasan permukiman Tionghoa di Pasar Lama
dibangun Kelenteng Boen Tek Bio. Itulah kelenteng tertua di Tangerang, yang
didirikan tahun 1684, dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang. Lima
tahun kemudian, tahun 1689, di Pasar Baru dibangun kelenteng Boen San Bio
(Nimmala). Kedua kelenteng itulah saksi sejarah orang-orang
Tionghoa sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam. Orang Tionghoa ini juga sudah beralkulturasi dan
beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan
sehari-hari, seperti yang diucapkan Tjing Eng, tidak lagi menggunakan Bahasa
Cina. "Sebagian kami tidak bisa berbicara atau menulis Bahasa Cina,"
ujarnya. Di bidang kesenian, mereka memainkan musik gambang
kromong yang merupakan bentuk lain akulturasi masyarakat Cina Benteng. Sebab,
gambang kromong selalu dimainkan dalam pesta-pesta perkawinan dan dimeriahkan
pula dengan penampilan tari cokek, yang sebenarnya merupakan budaya tarub
masyarakat Sunda pesisir, seperti Indramayu. Fenomena Cina Benteng merupakan bukti nyata betapa
harmonisnya kebudayaan Cina dengan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, keberadaan
Cina Benteng menegaskan tidak semua orang Tionghoa memiliki posisi kuat dalam
bidang ekonomi, bahkan tak punya akses politik yang mendukung posisinya di
bidang ekonomi. David Kwa, pengamat budaya Cina yang tinggal di
Jakarta mengatakan, fenomena Cina Benteng sebagai contoh dan bukti nyata proses
pembauran yang terjadi secara alamiah. Masyarakat Cina Benteng hampir tidak
pernah mengalami friksi dengan etnis lainnya. Kenyataan ini menunjukkan, sentimen etnis lebih
bernuansa politis yang dikembangkan oleh orang-orang yang punya kepentingan
politik. Sehingga tidak heran jika orang Tionghoa, seperti Tjing Eng,
mengatakan mereka Indonesia asli. Pembaruan/Dewi Gustiana Last
modified: 18/8/05 YAHOO! GROUPS LINKS §
Visit your group "Politik_Tionghoa"
on the web. §
To unsubscribe from
this group, send an email to: §
Your use of Yahoo! Groups
is subject to the Yahoo! Terms of Service.
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [Politik_Tionghoa] "Kami Orang Indonesia Asli" HKSIS
- Re: [Politik_Tionghoa] "Kami Orang Indonesia Asli... Andrew Yuen
- RE: [Politik_Tionghoa] "Kami Orang Indonesia ... ulysee
- Re: [Politik_Tionghoa] "Kami Orang Indone... Andrew Yuen
- Re: [Politik_Tionghoa] "Kami Orang Indonesia ... Freddy Cahyadi
