Jadi istilah yang enak apa donk? SUKU tionghua? Ayuk cari istilah yang enak terus kita populerkan rame rame.

 

-----Original Message-----
From: Andrew Yuen [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent
:
Friday, August 19, 2005 8:55 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Politik_Tionghoa] "Kami Orang
Indonesia Asli"

 

iya lah...
yg sering kali membuat kesan seolah-olah beda itu kan "kita-kita" yg intelek juga.
semisalnya... istilah: "warga negara keturunan tionghoa" yg sering terdengar ketika reporter TV lagi liputan di kampung tionghoa atau acara2 seputar itu. aneh gak?
dalam benak saya, pasti ada: "warga negara keturunan monyet", "warga negara keturunan ayam", "warga negara keturunan ...." dll...

tapi mau gimana lagi.. toh kadang para tionghoa (terutama kelas menengah ke atas) itu sendiri yang membedakan dirinya dengan masyarakat etnik lainnya. Seolah-olah tengah berhadapan dengan inlander saja.

stop mencari-cari dan mempertentangkan perbedaan.. karena hal itu akan sia-sia..

-ay-


On 8/19/05, HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

SUARA PEMBARUAN DAILY


O p i n i

"Kami Orang Indonesia Asli"

DI sebuah sudut Kota Tangerang, warga Pecinan Pasar Lama merayakan HUT ke-60 kemerdekaan Indonesia, dengan perasaan yang benar-benar merdeka.

Berbagai lomba digelar untuk anak-anak maupun dewasa.

Anak-anak berlomba di lapangan, sementara sebagian pria dewasa, berkumpul di kelenteng bersembahyang dan mengadakan pertandingan catur.

Suasana meriah menyambut kemerdekaan RI itu memang terasa berbeda sejak berlangsungnya reformasi. Berbagai kegiatan budaya dan keagamaan yang sebelumnya dilakukan sembunyi-sembunyi, kini sudah terbuka.

Tak jarang berbagai pertunjukan budaya justru dipertontonkan ke masyarakat luas. Kendati sekarang ini ada yang merasakan kesakralan seni budaya, seperti Barongsai dan Liong, mulai berkurang karena digunakan untuk mengamen di jalanan.

"Sejak reformasi, kami bisa merasakan arti kebebasan. Masyarakat Tionghoa di sini tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk melakukan kegiatan agama maupun budaya," ujar Oey Tjing Eng (62) tokoh masyarakat Tionghoa Tangerang atau yang dikenal sebagai Cina Benteng kepada Pembaruan, Rabu (17/8).

Melihat postur Tjing Eng, yang juga dikenal sebagai budayawan yang aktif di kelenteng Boen Tek Bio di Jl Ki Samaun, kita mungkin tidak yakin kalau dia seorang keturunan Tionghoa. Kulitnya hitam, matanya tidak sipit. Gaya bicaranya juga seperti warga Tangerang umumnya.

Tipikal Cina Benteng ini memang berbeda jauh dengan warga Tionghoa di daerah lain, yang masih mewarisi ciri berkulit putih dan bermata sipit. Tak heran Tjing Eng menyebut mereka ini Indonesia asli.

"Kami ini Indonesia asli karena yang melekat di tubuh kami ada juga keturunan Indonesianya," ujarnya.

Menurut Tjing Eng, mereka sebenarnya enggan disebut sebagai warga keturunan, karena apa yang melekat pada diri mereka sekarang ini adalah apa yang juga ada pada masyarakat Indonesia umumnya. Mereka juga berharap, mempunyai hak yang sama sebagai bangsa Indonesia.

Jadi, jika memungkinkan, bagi warga Cina Benteng, tidak ada lagi syarat yang disebutkan dalam undang-undang dasar, misalnya untuk menjadi pemimpin harus Warga Negara Indonesia asli. "Sekali lagi, kami ini Indonesia asli," ujar Tjing Eng.

Cikal Bakal

Tidak semua orang Cina Benteng berprofesi sebagai pedagang yang hidupnya berkecukupan. Banyak juga yang bekerja sebagai petani, nelayan, bahkan tukang becak, yang hidupnya miskin dan sederhana. Umumnya mereka ini mendiami kawasan utara di sekitar Teluknaga dan Kosambi.

Berbicara tentang Tangerang, memang tidak bisa dipisahkan dengan pertumbuhan etnis Tionghoa di daerah ini. Bisa dikatakan, cikal bakal Kota Tangerang justru berasal dari etnis ini, yang mengembangkan kawasan Pasar Lama.

Kawasan ini berada di tepi sungai dan merupakan pemukiman pertama masyarakat Tionghoa di sana. Struktur tata ruangnya sangat baik.

Menurut Tjing Eng, dulunya nenek moyang mereka tinggal di tiga gang, yakni Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gabng Gula (Cilangkap). Ketiga gang ini sekarang sudah berubah wajah menjadi pertokoan dan pasar. Sedikit sekali terlihat bangunan yang berciri khas Cina.

Dalam buku Ziarah Budaya Kota Tangerang yang ditulis Wahidin Halim, Walikota Tangerang, disebutkan, pada akhir tahun 1800 sejumlah orang Tionghoa dipindahkan ke kawasan Pasar Baru, Tangerang dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lain. Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi orang-orang Tionghoa, yang datang lewat sungai, dengan penduduk lokal.

Asal-usul orang Cina Benteng, menurut sinolog (ahli tentang bahasa dan kebuadayaan Cina) dari Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto A, tidak terlepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu sekarang sudah rata dengan tanah. Letaknya di tepi Sungai Cisadane di pusat Kota Tangerang.

Pada saat itu, kata Eddy, banyak orang Tionghoa Tangerang yang kurang mampu, tinggal di luar Benteng Makassar dan terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Di sinilah muncul istilah Cina Benteng.

Tahun 1740, terjadi pemberontakan orang Tionghoa, menyusul keputusan Gubernur Jendeal Valkenier, untuk menangkapi orang-orang Tionghoa yang dicurigai. Mereka akan dikirim ke Sri Lanka untuk dipekerjakan di

perkebunan-perkebunan milik VOC.

Pemberontakan itu dibalas serangan serdadu kompeni ke perkampungan-perkampungan Tionghoa di Batavia. Sedikitnya 10.000 orang tewas dan sejak itu banyak orang Tionghoa mengungsi untuk mencari tempat baru di daerah Tangerang, seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, bahkan sampai Parung di daerah Bogor. Itulah sebabnya, banyak orang Tionghoa yang tinggal di pedesaan di pelosok Tangerang.

Meski demikian, menurut pemerhati budaya Tionghoa di Indonesia, David Kwa, mereka yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru tetap disebut sebagai Cina Benteng.

Sebagai kawasan permukiman Tionghoa di Pasar Lama dibangun Kelenteng Boen Tek Bio. Itulah kelenteng tertua di Tangerang, yang didirikan tahun 1684, dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang. Lima tahun kemudian, tahun 1689, di Pasar Baru dibangun kelenteng Boen San Bio (Nimmala).

Kedua kelenteng itulah saksi sejarah orang-orang Tionghoa sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam.

Orang Tionghoa ini juga sudah beralkulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, seperti yang diucapkan Tjing Eng, tidak lagi menggunakan Bahasa Cina. "Sebagian kami tidak bisa berbicara atau menulis Bahasa Cina," ujarnya.

Di bidang kesenian, mereka memainkan musik gambang kromong yang merupakan bentuk lain akulturasi masyarakat Cina Benteng. Sebab, gambang kromong selalu dimainkan dalam pesta-pesta perkawinan dan dimeriahkan pula dengan penampilan tari cokek, yang sebenarnya merupakan budaya tarub masyarakat Sunda pesisir, seperti Indramayu.

Fenomena Cina Benteng merupakan bukti nyata betapa harmonisnya kebudayaan Cina dengan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, keberadaan Cina Benteng menegaskan tidak semua orang Tionghoa memiliki posisi kuat dalam bidang ekonomi, bahkan tak punya akses politik yang mendukung posisinya di bidang ekonomi.

David Kwa, pengamat budaya Cina yang tinggal di Jakarta mengatakan, fenomena Cina Benteng sebagai contoh dan bukti nyata proses pembauran yang terjadi secara alamiah. Masyarakat Cina Benteng hampir tidak pernah mengalami friksi dengan etnis lainnya.

Kenyataan ini menunjukkan, sentimen etnis lebih bernuansa politis yang dikembangkan oleh orang-orang yang punya kepentingan politik. Sehingga tidak heran jika orang Tionghoa, seperti Tjing Eng, mengatakan mereka Indonesia asli.

Pembaruan/Dewi Gustiana


Last modified: 18/8/05

 


YAHOO! GROUPS LINKS

 

§          Visit your group "Politik_Tionghoa" on the web.
 

§          To unsubscribe from this group, send an email to:
  [EMAIL PROTECTED]
 

§          Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

 





--
=============================================================
Perjuangan Melawan Kekuasaan adalah Perjuangan Ingatan Melawan Lupa
-Milan Kundera-
=============================================================



SPONSORED LINKS
Social sciences Computer science Science education


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke