Hihihihi………… Maay, maay. Lu abis nonton srimulat ya?

Nenek-nenek juga tahu kalau nasionalisme berbeda dengan penjajahan/kolonialisme.

Tapi oke lah, gue ngerti maksud lu kemana. Sekian lama tawuran gue mulai bisa nebak arah jurus kutu loncat elu.

 

Secara praktis lu mau bilang saat ini SEOLAH-OLAH Aceh dijajah oleh oknum pemerintah RI yang bertujuan menimbun kekayaan sendiri, gitu?  Mohon dicatat ya, gue selalu menekankan OKNUM dan oknum, sebab Aceh itu bagian dari RI, no doubt. Fine. Ada betulnya, bahwa adil makmur merata yang jadi cita-cita negara itu belum kesampean. Ada banyak daerah yang kurang diperhatikan pemerintah sehingga lambat maju apalagi kalau di bandingkan dengan Jawa. Bah, di Jawa aja masih ada busung lapar koqhehehe. Okeh, banyak yang concern koq sama masalah itu. Dan banyak usulan solusi.

Tapi solusi SEPARATISME itu harus DICORET dari daftar usulan solusi.

 

Sebab separatisme itu sama seperti : kalau elu abis lari, kaki lu pegel kadang kadang kram sampe sakit buanget, terus lu amputasi itu kaki.

Rela May?  Enggak toh? Pasti lu cari jalan lain, ya pijit kek, istirahat kek, pakein balsem kek, atau cara paling ampuh adalah meregang otot kaki ke arah berbalikan, dan cara itu menyakitkan, buanget. Tapi tokcer, sebentar aja kram nya ilang dan otot yang kejang segera rilex lagi. Tapi sekali lagi MENYAKITKAN. Still gue bilang sih mendingan sakit untuk sesaat terus gue bisa lanjutin lari daripada sakitnya ikut terusan atau mengamputasi itu kaki, sakit hatinya bisa seumur hidup.

 

Masalah Aceh dan Timtim dan Papua kurang lebih sama. Masalahnya apa? Pembangunan yang kurang merata? Ya itu donk yang dibenerin, diusulin ke pemerintah, “Hey, daerah gue kaya, setor ke negara setaon sekian, kok dana pembangunannya cuman sekian?” gitu. Bukannya terus bilang, “Daerah gue kaya, ngapain bagi ama daerah laen, mending dimakan sendiri, udah aja kita bikin pemberontakan yuk.”  Itu khan ngaco. Apa ngga lebih bagus kalau ngusulin ke pemerintah soal anggaran daerah berapa-berapa gitu supaya ada pemerataan. Atau usulan REPETITA untuk tiap daerah (kalu 5 taon kelamaan). Kalau dana terbatas ya Lima taon daerah Sumatra misalnya, taon depannya Lima Taon pembangunan Papua misalnya, Jawa udah bisa jalan sendiri anggarannya sekian persen aja gitu.

Kalau semua kebagian, semua kenyang, semua senang khan bagus.

Apalagi? Dananya di korupsi? Ya korupsinya yang diberantas. Jangan buru-buru separatis, liat dulu. Jangan jangan cuman lepas dari mulut singa jatuh ke mulut buaya. ITU KHAN KONYOL NAMANYA.  

 

Gue pribadi biarpun belon pernah ke Timtim masih sakit hati nih, merasa Timtim dulu dijual dengan mengatasnamakan HAM. Sekarang ada perjanjian MOU gue juga curiga, sambil dikit lega dan berharap ya semoga Aceh makin makmur lah terus ga ada gerakan separatisme lagi lah.

Temen gue baru pulang dari sana. Pasca Tsunami berantakan buanget, sekarang juga masih payah. Tapi pembangunan udah mulai, dan sepertinya bakalan lebih megah dan lebih rapi dari yang sudah hancur. Turut senang aja deh. Pssst, mau kangtauw? Kabarnya disana lagi butuh hotel murah buat nampung bule bule yang ngebangun hotel mewah hihihihi….. Ayooo siapa mau modaliiiiiiinnn………….

 

Sekarang gue lagi concern soal PAPUA……. Kira kira bakalan lepas dari NKRI lagi ngga yah…………..

 

Dan negara menjajah rakyat sendiri itu MANA ADA. Lu kemakan hembusan angin lesus berbau busuk aja deh, yang dihembus hembus ama mereka yang mau caplok bagian negara kita tuuuuuhhh.

Yang ada paling Pemerintahan yang TIDAK EFISIEN dan gulma KORUPTOR yang kudu dibabat habis. Ayooo babaaaattt!!!!

 

 

Catatan kaki:

 

Nasionalisme = semangat kebangsaan/ kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu.

 

Nasionalis = orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya; pecinta nusa dan bangsa sendiri.

 

Sok = berlagak/ suka pamer

 

Sok nasionalis = {menurut Mayat}  orang dengan ciri-ciri: ikat kepala
merah putih, selalu bawa-bawa bambu runcing sambil
nyanyi-nyanyi lagu Indonesia Raya dan Darah juang.
beberapa pimpinan kaum sok nasionalis ini punya
tattoo burung garuda pancasila di lengan kanan mereka.

 

May, lu ketuker ngga definisisok nasionalissama definisiorang gila” yang di bunderan harmoni?

 

 

-----Original Message-----
From: mayatperempuan [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent
:
Saturday, August 20, 2005 9:23 PM
To: [email protected]
Subject: [Politik_Tionghoa] Re: Yulie bawel, penjajahan itu melanggar HAM

 

Dirgahayu

ci Yulie yang ngenyel abisss,

Nasionalisme itu berbeda dengan penjajahan atau
kolonialisme. sehingga nasionalisme dan HAM tidak
berbenturan secara diametral. sedangkan apa yang
ku maksud kemarin itu adalah 'nasionalisme' yang
dikatakan oleh kaum 'sok nasionalis' yang
amat identik dengan penjajahan.

lho, kita memang sama-sama setuju dengan perdamaian
dari awalnya. pihak yang tidak setuju dengan perdamaian itu
adalah para pedagang politik yang hendak menjajah
Aceh dengan mengatas-namakan NASIONALISME. semangat
'nasionalisme' yang dijual oleh kaum sok nasionalis
ini menjadi sangat identik dengan MILITERISME.
apabila militerisme menjadi peradaban politik maka
"nasionalisme manipulatif" ini akan menghancurkan
demokrasi dan nasionalisme yang sesungguhnya.

term "tidak mengabaikan Hankam" sebagai apologetic pelanggaran
HAM adalah ide buruk dari kaum sok nasionalis yang
hendak merasionalisasikan kejahatan dan sifat haus darah
mereka. sehingga ci yulie tidak perlu terjebak pada
apologetic manipulatif seperti itu.


Mayat



--- In [email protected], "ulysee" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> May kok elu jadi curhat soal si sok nasionalis sih? Kemaren kita lagi
> ributin apa kok loncatnya jauh amat. humm..
> Oh masalah orang yang sok humanis..... heheheheh

> Okeh jadi kita udah sama-sama setuju yah soal perdamaian. Jadi dilemanya
> dimana?

> Bahwa di satu pihak kita mengharapkan kedamaian dan menjunjung tinggi
> kemanusiaan, tapi dilain pihak kita harus berani angkat senjata untuk
> mempertahankan kedaulatan? Eh tapi disini lu udah bilang "padahal,
> nasionalisme
> itu tak perlu dipertentangkan dengan HAM "  Lhah, jadi kita berantemin
> apa kemaren?
> Oh, anggep aja menyamakan persepsi, hehehhehe..

> Terus sekarang gue tinggal bikin kesimpulan, gitu ya?

> Jadi kesimpulannya, kita harus menjunjung tinggi HAM, maka kalau ada
> permasalahan yang bisa diselesaikan dengan cara perundingan, enggak usah
> pake perang-perangan.
> Tapi kalau ada yang angkat senjata duluan menodong keselamatan Kesatuan
> Wilayah NKRI, kita punya Hak Asasi Mempertahankan diri, begitu
kan? Dan
> untuk mempertahankan diri ini kadang kadang harus mengorbankan orang
> lain. Sidang pembunuhan aja kalau terbukti untuk mempertahankan diri
> bisa bebas tanpa hukuman koq.
> Perang perangan walaupun ada bunuh bunuhannya juga ada kode etiknya kok.
> Sebagai orang sok humanis boleh lah memperhatikan apakah kode etik
> perang perangan ini diikuti atau tidak, tapi untuk meniadakan korban
> adalah
MISSION IMPOSSIBLE.

> Dan kepada mereka yang sok humanis, ada bagusnya tidak terjebak dalam
> paradigma yang mengutamakan negara atau agama diatas segalanya, tapi
> jangan sampai malah terperosok paradigma baru seperti yang disenggol si
> AY, menjunjung tinggi ide HAM dengan mengabaikan HANKAM hihihihi.....
> (maksa nih)







YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke