Gue mau MENUNTUT penjelasan. Apa maksudnya itu men-tionghua-kan kembali????

 

 

-----Original Message-----
From: Gending Suralaya [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, August 29, 2005 5:45 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [Politik_Tionghoa] Re: Asimilasi vs esklusivitas was: Mengantar Kepergian Almarhum Sindhunata

 

Dirgahayu

 

Salam juga untuk bung shagua, lama anda tidak berkomentar. saya jadi merasa

kehilangan suara anda.

 

saya kira, proses 'mentionghoakan' kembali sodara-sodara tionghoa kita merupakan

kemestian. tetapi langkah-langkah proses ini harus benar-benar dihitung dari berbagai

segi dan dimensi. karena masalah ini begitu sensitif dan dapat dijadikan senjata untuk

menggebuk tionghoa oleh elemen-elemen rasist anti-tionghoa baik yang berasal dari

internal komunitas tionghoa maupun dari komunitas rasist non-tionghoa. sehingga kita harus

menghitung benar apa yang hendak kita capai dan suarakan.

 

pola sisdiknas tunggal tionghoa tidak mesti diformulasikan dan dipaksakan di saat sekarang.

tetapi pola pendidikan informal tetap harus dilakukan. sambil menunggu momentum di mana

masyarakat indonesia telah cukup dewasa untuk menerima perbedaan dan kehadiran

golongan tionghoa tanpa apriori negatif lagi. tugas kita saat ini adalah memajukan kesadaran

seluruh bangsa dan orang indonesia tentang modernitas dan nilai-nilai kemanusiaan sejati.


walau bagaimana pun, kita harus merapatkan jarak antara gelombang gerakan pro-dem dan

gerakan tionghoa untuk menghancurkan para penghianat ras dan elemen-elemen rasist

anti-tionghoa yang pernah benar-benar menggebuk dan menghianati golongan tionghoa.

bukankah para eks LPKB dan anak cucu mereka masih bertendensi hianat bahkan sampai

sekarang ini.

 

 

 

Mayat


shagua8000 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Salam perjuangan Sdri Mayat,

Poin yg anda kemukakan tepat sekali dlm kaitan dgn masalah asimilasi
paksaan yg telah kita hadapi selama bbrp dasawarsa di antah berantah
ini dan gagasan Bpk Siauw mengenai integrasi perlu dibangkitkan
kembali krn merupakan solusi yg ideal. Asimilasi terbukti gagal krn
biar bagaimana juga, ciri etnis seseorang tdk dpt diubah - meskipun
terlebur misalnya ciri2 dari atas2 sana pasti ada.

Apalagi dlm hal ketionghoaan, sekali Tionghoa tetap Tionghoa.
Kewarganegaraan kita dpt berubah dari waktu ke waktu tetapi jati
diri kita sbg org Tionghoa tetap melekat pd diri kita yg berbeda
justru tingkatan, ada yg ketionghoaannya telah luntur dan perlu
dimurnikan kembali dan sebaliknya, artinya kita yg masih asli
bertanggungjawab mentionghoakan kembali sdr2 kita yg telah
terjerumus sbg korban asimilasi atau pembauran biologis/budaya.

Ide Baperki bagus sekali dan pasti lebih ampuh lagi apabila seiring
dgn lahirnya kembali sisdiknas tunggal pendidikan Tionghoa bagi
bangsa Tionghoa yg ada di Indonesia dan barangsiapa yg meminati
meniti pendidikan ala Tionghoa. Sekolah Tionghoa mutlak diperlukan
sbg wahana utk melanggengkan bhs dan budaya dan demikian identitas
Tionghoa di belahan bumi ini - sekaligus menyebarkan buah positif
dari budaya Tiongkok kpd bangsa2 lain.

--- In [email protected], "mayatperempuan"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dirgahayu
>
> dear kawan DJ-Givingnewhope yang baik,
>
> budaya bukanlah sesuatu yang bersifat permanent
> dan sangat bersifat situasional. sehingga tanpa
> perlu direpresi secara paksa dengan asimilasi,
> suatu budaya tertentu akan ditinggalkan oleh para
> penganutnya apabila budaya tersebut sudah tidak
> relevan untuk para pemegang kebudayan tersebut.
>
> kaum rasist pada dasarnya menitik beratkan pada
> eksistensi sebuah ras. sedangkan budaya ras tersebut
> hanyalah turunan dari antagonisme terhadap ras/etnis
> yang hendak dihancurkan. sehingga titik pokok masalah
> rasialisme anti tionghoa bukan terletak pada identitas
> budaya tionghoa tetapi lebih pada eksistensi biologis
> etnik tionghoa. karena dalam komunitas etnik tionghoa
> terdapat begitu banyak corak budaya.
>
> sedangkan masyarakat tionghoa indonesia tidak memiliki
> tendensi atau motive agresif untuk menguasai indonesia.
> tionghoa merupakan satu potensi untuk membangun negeri
> ini. bagi beberapa kalangan penjajah seperti Belanda,
> golongan tionghoa dipandang sangat berbahaya apabila
> golongan ini dapat hidup rukun dengan etnis-etnis nusantara
> lain. maka dihembuskanlah hasutan anti tionghoa oleh
> kolonial belanda dengan tujuan untuk mempertahankan
> dominasi ekonomi dan penjajahan mereka. tionghoa dikorbankan
> sebagai tumbal untuk menutupi kejahatan belanda atas
> indonesia.
>
> kaum rasis anti tionghoa modern tidak menginginkan
> indonesia yang sejahtera bebas dari konflik horisontal
> antar etnik. persis seperti yang dilakukan oleh
> kaum penjajah belanda.
>
> penggerombolan sosial sesama etnik tionghoa merupakan
> fenomena alamiah seperti yang terjadi pada komunitas
> ja-pung (jawa lampung) di pulau sumatera. bukanlah
> sebuah tindakan kriminal apabila orang-orang jawa
> mengembangkan ghetto-ghetto sendiri di daerah lampung
> karena berbagai alasan kedekatan psikologis sesama
> orang jawa yang merantau di lampung. sekalipun, friksi
> sosial sering kali terjadi antara golongan jawa vs
> golongan lampung yang merasa diri sebagai orang pribumi
> lampung.
>
> tetapi orang-orang jawa diharuskan mengelompok dalam
> ghetto ekslusif karena apabila orang jawa hendak
> melebur ke perkampungan orang lampung maka dapat dipastikan
> orang jawa itu akan menjadi martir.
>
> begitu juga dengan golongan tionghoa. kaum rasist
> anti tionghoa yang suka sekali berseru bahwa golongan
> tionghoa adalah golongan ekslusif tidak merakyat adalah
> golongan yang hendak memperkeruh situasi dan mendapat
> keuntungan apabila sentimen anti tionghoa memuncak pada
> tindakan barbarian terhadap orang tionghoa. kaum rasis
> ini adalah penghalang bagi kemajuan indonesia. karena
> perilaku merekalah, indonesia mendapat imagi sebagai
> negeri terbelakang di mata kancah internasional.
>
> pendekatan yang paling baik adalah pendekatan yang diberikan
> oleh gus dur. siapa pun akan suka tinggal di ciganjur atau
> basis-basis gus dur di jawa timur. karena jaminan keselamatan
> dan egalitarianisme tanpa memandang latar belakang etnik
> dapat dirasakan diberikan oleh gus dur.
>
> sekalipun gus dur tidak pernah menyerukan golongan tionghoa
> untuk membaur, tetapi golongan tionghoa dengan senang hati
> berkerumun disekitar gus dur daripada berkerumun di sekitar
> para penjahat rasist yang suka sekali berseru agar golongan
> tionghoa menghilangkan ekslusifitasnya dan membaur.
>
>
> Mayat
>
> --- In [email protected], "No Name"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Apapun alasannya, asimilasi kebudayaan jauh lebih baik ketimbang
> > ekslusivitas. Kebudayaan pada dasarnya dipengaruhi oleh
perubahan
> > lingkungan setempat (baca: interaksi sosial).
> > Budaya cina mungkin lebih cocok diaplikasikan di RRC ketimbang
di
> > Indonesia karena memang lahir dari kondisi sosial masyarakat
> disana.
> > Begitu juga dengan barbarian arab, lebih cocok untuk iklim
sosial
> di
> > timur tengah ketimbang di Indonesia.
> >
> > Intinya, kalo kebudayaan itu mau diaplikasikan secara radikal
dan
> > kaku dalam konteks masyarakat yang berbeda, alhasil yach...
sikap
> > ekslusif itu tadi yang konon menjadi komoditas politik bagi para
> > rasis seperti klaim kamerad mayat tersebut.
> >
> > Oh iya, pesan saya bagi kamerad mayat; sekali-kali
berintrospeksi
> > sedikit napa? noh, banyak banget cimed yang merasa dirinya
super.
> > Kalo tak tantangin ketemuan sama orang cina aseli, biasanya pada
> > minder karena kadar kecinaannya kurang tinggi.. :)
> >
> >
> >
> > giving
> > EGP sama cino.
> > Emang kalo lagi susah dibantu sm pemerintah RRC apa?!
> >
> >
> >
> >
> > --- In [email protected], Harry Adinegara
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > Idee asimilasi ini baik, tapi kita harus lihat dimana dan
kapan
> > idee itu dicetuskan dan dimana akan di-implementasikan.
> > >
> > > Idee asimilasi adalah gagasan KOTI sewaktu  masa pancaroba
> dimana
> > golongan Tionghoa, dituduh adalah antek PKI yang ceritanya di
> dukung
> > oleh RRT. Saat itu di-cetuskan idee asimilasi ini yang ditujukan
> > kepada golongan Tionghoa, yang waktu itu terasa terjepit
> posisinya.
> > Disinilah politik militerist fascist yang didengkoti oleh
Suharto
> > melihat kesempatan untuk melancarkan tekanan yang tidak langsung
> > terhadap golongan Tionghoa. Apabila dikatakan bahwa asimilasi
itu
> > hanya anjuran, himbauan, tapi kita harus menginsyafi kalau waktu
> dan
> > tempat memang di-eksploitasi oleh militerist fascist.
> > >
> > > Jadi mereka2 ini yang dengan getol ingin melaksanakan idee ini
> yang
> > albeit terang2an dengan melihat waktu dan tempat , sebenarnya
> telah
> > melanggar HAM dan suatu kekejian. Disinilah bedanya, idee ini
> > dicetuskan dengan cara mengambil kesempatan dalam kesempitan,
> > walaupun dibungkus dengan ocehan2 asimilasi itu bebas untuk
dianut
> > atau tidak.
> > >
> > > Asimilasi itu idee yang sebelum tumbuh sebenarnya sudah tidak
> laku,
> > sudah bangkrut. Mengapa ada pihak2 yang mengagungkan proponent
> dari
> > suatu idee yang selain melanggar HAM juga sudah bangkrut.
> > >
> > > Harry Adinegara.
> > >
> > >
> > > ulysee <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > Apa salahnya memperjuangkan paham asimilasi? Selama yang
> melakukan
> > > tanpa paksaan khan bagus?
> > > Yang jadi tidak bagus adalah karena kemudian terdapat unsur
> > pemaksaan
> > > dengan campur tangan pemerintah. Idenya sendiri belah mananya
> yang
> > tidak
> > > bagus?
> > >
> > > Kata cina juga bukannya jelek. Jadi jelek karena banyak yang
> > > menjelek-jelekkan toh. Sampe sekarang RRC disebut Cina/China
> apakah
> > > jelek?
> > >
> > > -----Original Message-----
> > > From: Dedi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > > Sent: Thursday, August 25, 2005 5:19 PM
> > > To: [email protected]
> > > Subject: [budaya_tionghua] Re: Mengantar Kepergian Almarhum
> Mayor
> > Laut K
> > > Sindhunata
> > >
> > > saya rasa, Sindhunata maupun Harry Tjan hanyalah penjilat yang
> tidak
> > > tahu
> > > malu.
> > > Mereka adalah orang2 yang memperjuangkan paham asimilasi
(harus
> > membuang
> > > ketionghoaan supaya bisa membaur), dan bahkan sindhunata
adalah
> > orang
> > > yang
> > > mengusulkan penggunaan kembali kata 'cina'.
> > > Kepergian Sundhunata tidak patut untuk dikenang.
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
> > >
> > > .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.
> > >
> > > .: Untuk bergabung :
> > http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
> > >
> > > .: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :.
> > > Yahoo! Groups Links
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Send instant messages to your online friends
> > http://au.messenger.yahoo.com


Start your day with Yahoo! - make it your home page



YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke