Kaga salah? Bukannya Amerika
akan lebih
senang kalau Papua lepas dari Indonesia? Freeport sudah dihak milik koq. Eksplorasi dan
eksploatasi nya akan semakin
bebas merdeka riang gembira kalau
Papua sudah merdeka dari Indonesia.
Sebab kebanyakan rakyat
papua adalah kristen – yang tidak santer dengan
gerakan Anti- Amerikanya sehingga lebih mudah dikendalikan daripada Aceh yang mayoritas Islam misalnya.
Dan dengan
lepasnya Papua dari “negara yang mayoritas dpr/ pejabatnya adalah Islam”, teori negara satelit yang strategis itu jadi
lebih menarik lagi toh?
Bukankah lebih masuk akal kalau dibilang
Amerika paranoid dengan kunjungan presiden ke RRC dan entah
kerjasama macam apa yang akan dilakukan
nanti jangan jangan bisa menggeser
kehebatan Amerika di Indonesia maka segelintir
delegasi amerika itu mulai menodongkan
pisau bedah amputasi kepada NKRI?
Mahaff ya, kalau gue masih memandang
curiga dengan ada apa dibalik gembornya delegasi yang mengajukan alasan berbau rasialis
untuk otonomi khusus papua itu………….
Gue sih ngga rela
kalau NKRI kena amputasi lagi.
-----Original Message-----
From: shagua8000
[mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, August 30, 2005
2:51 PM
To:
[email protected]
Subject: [Politik_Tionghoa] Fwd: Re:
Soal Papua Merdeka, Dugaan Keterlibatan Anggota DPR Ada Faktanya
Amerika
sebenarnya takut kalau Papua lepas dari Indonesia bisa pindah
ke orbit
Tiongkok, apalagi PNG menganggap Tiongkok sbg mitra
strategis yg
berperan dominan dlm pembangunan infrastruktur spt jalan
raya dan
telekomunikasi sbg imbalan kpd rakyat Papua atas peluang yg
mereka
berikan kpd perusahaan2 Tiongkok yg mengeksploitasi SDA
setempat yg
kaya akan berbagai mineral dan kekayaan hutan.
Ini bedanya
pendekatan bisnis Amerika/Barat dan Tiongkok dlm
menerapkan
CSR (Corporate Social Responsibility). Perusahaan milik
bule
terbiasa meraup keuntungan dari suatu wilayah tanpa memberi
ganti rugi
yg signifikan kpd masyarakat lokal sehingga timbul
perbagai
masalah spt kasus Exxon di Aceh dan Freeport di Papua.
Konflik demi
konflik yg sarat nuansa politik terjadi, apalagi mereka
suka
melakukan campur tangan dlm urusan intern. Lain halnya dgn
perusahaan
Tiongkok yg lebih memperhatikan aspirasi dan kebutuhan
org pribumi
sehingga mereka mendapat sambutan yg lebih hangat
kemanapun
mereka pergi.
Mmg aneh,
org Indonesia pd ribut gara2 segerintil anggota Kongres
AS
berteriak2 agar rakyat Papua diberikan hak menentukan masa depan
mereka
seakan2 ini cerminan dr sikap umum para anggota Kongres! Atau
jgn2 saking
keblingernya org Indonesia dr kalangan ttu sbg tanda
solidaritas
dgn saudara2 mereka di Timteng lantas bbrp org Amerika
salah
langkah malah semua org Amerika kena getahnya. Pdhal mereka
mestinya
sadar bhw Amerika mempunyai kepentingan menjaga keutuhan
NKRI demi
agendanya sendiri, yaitu pemanfaatan Indonesia, khususnya
TNI utk
mengamankan kepentingan bisnis AS/Barat di negeri ini,
terutama dlm
bidang migas. Selain itu, Indonesia mereka perhitungkan
sbg negara
satelit yg potensial utk membantu Amerika jika terjadi
konflik
militer spt misalnya di Selat Taiwan.